Lega dan pertanyaan itu sudah terjawab, misteri tentang siapa Sekda Sumbawa kini telah nyata. Tepatnya hari selasa 16 Desember 2003, Drs. Salim Akhamad resmi dilantik menjadi Sekda Sumbawa menggantikan Drs.H.B.Thamrin Rayes yang kini menjadi wagub NTB.
Beberapa bulan setelah masa pensiunnya Tharim Rayes, banyak nama muncul kepermukaan untuk menjadi bakal pengganti Bonyo. Yang pada akhirnya mengkrucut menjadi dua nama yaitu Ir. Agil dan Drs. Salim Akhmad. Pertarungan dua nama putera terbaik Sumbawa tersebut adalah hal wajar mengingat masih dalam batasan Demokrasi yang kita anut. Pertarungan merupakan sebuah proses, dan kita harus dengan jantan mengakui siapa pemenang dari pertarungan tersebut. Begitu pula dengan kenyataan yang ada saat ini di Sumbawa, Sekda Sumbawa yang saat ini di Jabat oleh Salim Akhmad merupakan hasil dari sebuah pertarungan dan proses, yang sudah selayaknya diberi kesempatan untuk menyalurkan inovasi dan imaginasi demi pembangunan Sumbawa. Terlepas dari keberadaan atasannya yaitu Bupati Sumbawa ( Latif Majid ) yang mempunyai daya resistensi yang cukup besar, setidaknya kehadiran Salim Akhmad dapat membuka ruang baru akan harapan perubahan yang lebih baik terhadap kebijakan publik. Meskipun secara eksplisit Salim Akhmad selalu digambarkan sebagai bawahan yang sangat loyal dengan atasannya namun kita tetap yakin seorang Salim akhmad mempunyai nurani untuk menolak ketidakbenaran jika disodorkan kepadanya.
Sebuah filsafat yang selalu menjadi pegangan pembuat keputusan positif, “Hidup ini diatur oleh Allah, dan segala akibat yang kita lakukan saat ini hanya Allahlah yang memutuskannya”. Sebuah keteguhan karena rasa keimanan maka jika menjadi seorang pemimpin ketakutan pada atasan bukanlah alasan pokok untuk menegakkan keadilan. Jabatan Sekda hanya sebuah titik sejarah yang setiap saat bisa dicopot, sedangkan keyakinan dan keteguhan akan kebenaran yang didasarkan pada hukum Allah tidak akan lekang oleh masa.
“Look backwards with gratitude, up with confidence and forwards with hope,” Lihatlah ke belakang dengan rasa syukur, keatas dengan keyakinan dan kedepan dengan harapan”. Harapan masih ada selama kita hidup. Begitu juga dengan kenyataan di Sumbawa, masih banyak yang berharap kondisi di Sumbawa akan lebih baik dari sebelumnya. Perubahan tidak diinginkan oleh pemegang Status quo yang saat ini dikuasai oleh konco dan kroni Bupati Sumbawa. Karena dengan perubahan akan mengusik kepentingan mereka ditanah Sumbawa.
Salim Akhmad adalah seorang pemenang dalam sebuah proses lokal “Winners think constantly of what they can and will do. Losers think constantly of what they cannot do and what they should have done.” Para pemenang berpikir terus tentang apa yang dapat dan akan mereka lakukan. Orang-orang yang gagal berpikir terus tentang apa yang tidak dan yang seharusnya mereka lakukan”
Dilantikknya Salim Akhmad selayaknya dapat diterima dengan lapang dada, setidaknya hal yang terbaik diterapkan adalah memberi peluang sejauh mana Salim Akhmad bisa membangun daerahnya. Sudah tentu ada beberapa pihak yang mungkin kecewa karena jagonya tidak berhasil menjadi Sekda, namun dengan kearifan kenyataan tersebut harus diterima. Kekalahan adalah sebuah proses menuju pencapaian yang lebih tinggi, justru dengan kekalahan itulah kita bisa merasakan nikmat sebuah lembaran hidup. Tokoh-tokoh besar yang ada dan sudah menoreh sejarah justru dibentengi oleh berbagai kekalahan dan kegagalan. Mereka bisa mengambil hikmah dari proses kegagalan tersebut.
Contoh yang mungkin masih hangat ditelinga kita adalah kekalahan Bonyo untuk memperpanjang masa pensiun jabatan Sekdanya dan kemenangan Bonyo meraih tiket posisi Wagub NTB merupakan lembaran sejarah yang patut kita pelajari.
Hidup ini tidak selebar daun kelor, ungkapan klasik yang tidak asing lagi ditelinga kita. Jabatan Sekda bukanlah akhir dari riwayat kehidupan masih banyak lagi peluang yang bisa dilakoni untuk menunjukkan sebuah karya demi Sumbawa.
Bravo Drs.Salim Akhmad.
Jakarta, 16 Desember 2003
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda