Minggu, 14 Desember 2008

Negeri Semaput

. Minggu, 14 Desember 2008

Alkisah ini terjadi ribuan tahun silam, tanah bertuah tersebut acapkali disebut kerajaan langit, pada akhirnya berkembang dalam lafal kearaban menjadi Negeri Samawi.
Konon Negeri Samawi diperintahkan oleh seorang raja yang bernama Lalu Majnun serta seorang permaisuri bernama Lala Majnun. Kebanggaan raja dan permaisuri terletak pada dua kisah cinta abadi yang sering ditoreh pada kisah-kisah timur tengah dengan tokohnya Laela Majnun. Biarpun negeri tersebut namanya berbau ke-Araban namun, kedua raja tersebut tidak mengerti arti sebenarnya dari dua kata Majnun yang ada dibelakang namanya. Sadarnya ketika gonjangan tahta kerajaan diusik oleh rakyat jelata yang sudah tidak tahan lagi dengan teror, pemerasaan, perampasan hak rakyat serta perilaku negatif lainnya yang tidak pernah diimpikan oleh rakyat negeri Samawi selama ini. Arti Majnun terungkap tatkala seorang sepuh pulang dari negeri seberang yang konon sudah mendalami seluk beluk bahasa Arab, dan khatam Algur’an tak terbilang lagi. Dalam orasinya dihadapan rakyat jelata didepan pasar sambil menjual obat kebugaran, sepuh tersebut menjelaskan Majnun mengandung arti dan makna “Gila” dalam bahasa negeri Samawi. Keterangan sepuh ini begitu cepat menyebar, mengakibatkan berbagai rumor muncul kepermukaan.


Lainnya berkomentar “pantas negeri ini hancur, karena dipimpin oleh penguasa yang gila, bukan lagi gila jabatan, gila harta, gila kekuasaan tapi sudah sempurna kegilaannya melebihi kesempurnaan rukun iman”.
Majnun atau gila dalam pandangan rakyat jelata terhadap rajanya ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada didalam istana. Raja Lalu Majnun hanyalah sebagai simbolis belaka, penguasa sebenarnya tak lain adalah permaisuri raja yang bernama Lala Majnun. Semua kebijakan harus mendapat persetujuan Lala Majnun meskipun dalam kerajaan tersebut terdapat badan pengawasan, pertimbangan serta seabrek badan atau institusi lainnya, namun badan tersebut harus tunduk pada titah sang permaisuri Majnun.
Aib sebenarnya sudah terlihat diawal pemerintahan Lalu Majnun atau kerennya rakyat menyebut EL’EM, pemilihan pemimpin yang konon diinginkan demokratis ternyata direkayasa sedemikian rupa untuk menaikkan EL’EM menjadi Raja di negeri Samawi. Ketentuan dalam undang-undangan dalam negeri global yang menguasai negeri Samawi ternyata dilanggar dan direkayasa demi naiknya Lalu Majnun tersebut. Pada pemilihan Raja yang dipilih oleh wakil rakyat digedung dewan lalu majnun memperoleh 17 suara alias hanya 42,5 % dari total anggota dewan yang hadir. Dalam ketentuan negeri global, raja terpilih minimal memperoleh suara 50% plus satu, maka akan dianggap sah sebagai pemimpin. Rekaya yang juga melibatkan Dewan Rakyat ternyata mementahkan hukum yang lebih tinggi diatasnya, Lalu Majnun berjaya duduk dikursi raja, yang menurut Tantowi Yahya dalam kuis one to be milyuner, itu bernama“kursi panas”.
Kursi panas memang benar-benar panas diawal tahun pemerintahan Lalu Majnun atau EL’EM, rakyat yang dimotori oleh santri kelana melakukan perlawanan hampir setahun penuh. Santri kelana adalah adalah para siswa yang masih menempuh pendidikan tinggi di negeri Samawi, mereka berbaur membentuk gerakan reformis untuk menumbangkan pengangkatan raja, yang menurut undang-undang negeri Global adalah tidak sah alias, illegal alias haram.
Kemarahan rakyat diwujudkan dengan sidang rakyat digedung Dewan terhormat, mereka dengan terang-terang menolak hasil pemilihan raja yang tidak demokratis dan penuh rekayasa. Sidang rakyatpun tidak mempan, langkah selanjutnya santri kelana bersama rakyat mendesak agar oknum-oknum di Dewan Rakyat yang merekayasa pengangkatan EL’EM segera dipecat dari partainya. Partaipun memecat mereka namun karena perlawanan dan rasa malu yang sudah hilang dari anggota Dewan, pemecatan tersebut dianggap angin lalu. Bahkan merekapun melakukan serangan balik, ketua partai yang dulunya memecat mereka, sudah dilengserkan atas nama suksesi. Anggota dewan tersebut malah tetap menguasai Dewan sampai Pemilu berikutnya.
Setahun pertama EL’EM berkuasa korban dari santri kelana dan rakyat berjatuhan, teror fisik dan langkah premanisme menjadi kebijakan EL’EM untuk menangkis serangan terhadapnya. Masa setahunpun begitu cepat santri kelana kelelahan melanjutkan perjuangan, “mati suri”, temanku menimpal.
Tahun kedua Lalu Majnun memperlihatkan karakter aslinya, KKN yang selama ini ditakuti oleh rakyat negeri samawi sudah menjadi kenyataan. Berbagai pos dan proyek strategis dikuasainya demi mengembalikan modal milyaran rupiah yang terpakai selama proses kenaikan tahta Lalu Majnun.
Pengimbang kebijakan raja, Dewan Rakyat tak luput dari permainan tersebut, seperti ungkapan bijak seorang sepuh negeri samawi “ Raja ke Dewan Negeri Samawi pasang ke kebo parapan, sama kotar no tubau seka, deme luar deme dalam sama rua kotar”. Fulus akan mengalir kearah Dewan rakyat disaat penetapan anggaran dimulai, pada saat ini akan ada tawar menawar yang sama-sama menguntungkan Raja dan Dewan Rakyat, maka proyekpun akan disetujui oleh Dewan Rakyat. Begitu juga disaat pertanggungjawaban raja tiap tahunnya, Dewan Rakyat senantiasa bermanuver, muka masam akan ditunjukkan menjelang pertanggungjawaban sang Raja, namun akan Sumringgah disaat pertanggungjawaban tersebut dibacakan di gedung Dewan, beres…..”Laporan Anda di terima” teriak ketua Dewan. Lelucon politik bukanlah hal tabu lagi di Negeri Samawi, Dewan rakyat dan Raja Samawi adalah aktor handal yang bisa memainkan perannya dengan baik dihadapan rakyat yang menurut persepsi mereka adalah rakyat tidak berpendidikan, rakyat bodoh, rakyat yang perlu diperintahkan secara otoriter, serta banyak cap negatif lainnya terhadap rakyat negeri Samawi.
Memasuki tahun ketiga dan keempat perlawananan terhadap kebijakan Raja dan Dewan negeri Samawi semakin memudar, sangat disadari oleh raja negeri Samawi, urusan perut akan membutakan mereka terhadap sikap idealisme. Raja negeri samawi mulai melakukan pendekatan kepada pemberontak-pemberontak “in lander”, hasilnya cukup mengembirakan, banyak dari pemberontak terebut mendapat jatah proyek yang sudah tentu menghasilkan fulus bagi kantong mereka. Yang penting urusan perut, mereka memberikan alasan.
Secara demontrastif mereka berani mengatakan “kami adalah bagian dari Raja Negeri Samawi”, jika ada yang beradi mengusik Raja negeri Samawi, maka merekalah yang akan menghadapinya. Meskipun tingkah laku mereka memuakkan dihadapan rakyat negeri Samawi, namun rakyat negeri Samawi tetap bersabar dan terus bersabar. Kesabaran tersebut ternyata harus dibayar dengan sebuah realita, kekayaan negeri Samawi habis di makan oleh Raja negeri Samawi dan kroninya. Kemajuan selama empat tahun terakhir boleh dibilang tidak ada, atau nyatanya disebut minus. Rakyat negeri Samawi bingung, kemana mereka akan mengadu, jika mereka membawa persoalan ini ke Dewan Rakyat, maka jawaban Dewan Rakyat, “Masalah anda kami tampung”. Selebihnya tidak lebih fungsi Dewan Rakyat sebagai keranjang penampungan, tidak ada tindakan untuk memperbaiki permasalahan yang ada. Rakyatpun bingung dengan keberadaan penegak hukum yang biasanya disebut “Pamong”. Fungsi Pamong tak lain sebagai lembaga yang memberikan perlindungan terhadap Raja negeri Samawi dan kroninya, salah-salah rakyat yang akan dikorbankan jika mereka membawa bukti-bukti penyimpangan Raja dan kroninya ke Pamong Negeri Samawi. Rakyat bingung, KKN dinegeri Samawi semakin mengerikan dan malah menambahkan kesempurnaan akan kehancuran negeri Samawi. Rakyatpun semakin apatis dengan memory pendeknya terhadap kejadian masa lalu. Jika ada yang berani melakukan perlawanan terhadap Raja Negeri Samawi niscaya mereka berkomentar “Usaha tersebut akan sia-sia, kami coba memberikan dukungan dengan Do’a”. keputusasaan tersebut sangat terlihat, rakyat negeri Samawi hanya berani bergosip ria sesama membicarakan perlawanan, yang sekaligus dibumbui dengan dongeng-dongeng misteri.
Seorang anak muda yang demonstratif menjelaskan pada rakyat negeri samawi “ Do’a – doa Sampeyan tidak akan diterima oleh Allah, jika tidak ada tindakan nyata untuk memulai perubahan di Negeri Smaput ini. Bukankah Allah berfirman sebaiknya iman jika merubah lingkunganmu dengan Tangan, kemudian dengan ucapan dan baru dengan do’a.” ternyata iman rakyat negeri Samawi terletak pada titik terendah, mereka hanya berani mengubah keadaan dengan Do’a saja.
Penjelasan anak muda tersebut ternyata mendapat reaksi dari berbagai pihak, sepuh rakyat yang merasa diuntungkan oleh keberadaan Raja Lalu Majnun memberikan argument, jika kita ingin memberi tahu orang tua harus dengan sopan santun dan tatakrama, rakyat negeri samawi mempunyai budaya tatakrama ungkap mereka. Padahal sebagian kecil yang diuntungkan oleh naiknya Lalu Majnun, tidak menyadari tingkah laku dan tindakan mereka yang dengan terang-terangan menyedot uang rakyat lebih HINA dari tatakrama dan sopan santun yang dikampanyekan melalui mulut mereka untuk membentengi Raja Negeri Samawi. Mereka tidak menyadari, teguran dan masukkkan secara sopan santun kepada Raja negeri Samawi sudah tidak terhitung jumlahnya, malah makin banyak teguran yang mengarisbawahi sikap sopan santun dan tatakrama semakin membuat Raja Negeri Samawi dan kroninya diatas angin. Anggapannya, rakyat negeri Samawi tidak akan berani membuat perlawanan secara radikal terhadap mereka, akibatnya segala kekayaan negeri Samawi habis terkuras, kekayaan tersebut menumpuk pada satu golongan yaitu Raja Negeri Samawi dan kroninya.
Pesta pora kemenangan senantiasa dilakukan, rakyat negeri Samawi hanya bisa berkeluh kesah didepan cermin, karena jika berkeluh kesah pada lainnya, maka terorpun didepan mata. Raja negeri Samawi menempatkan mata-matanya disemua lini kehidupan masyarakat, rakyatpun bingung mana yang idealis dan mana yang opportunists.
Menjelang masa berakhir pemerintahan Lalu Majnun, serangan balik tiba-tiba datang dari negeri sebrang. Tiba-tiba kekuasaan yang ada selama ini mulai rapuh dengan mulainya rakyat melakukan perlawanan baik secara terbuka maupun sembunyi, karena serangan yang terus menerus menghantui kedudukan Raja Negeri Samawi, tiba-tiba pagi hari rakyat negeri Samawi dikejutkan oleh berita yang dibawah oleh hulu balang, Lalu Majnun Tewas Gantung diri didapur. Rakyat bukannya terharu, malah mereka bersorak gembira, istana yang sebelumnya dijadikan kediaman resmi Lalu Majnun dijarah, Permaisuri Raja, Lala Majnun diarak sekeliling kota, tak lupa ipar-ipar Lalu Majnun diarak dan sadis nya mereka dikalungi tali dilehernya, diarak bagaikan anjing jinak yang tak mengerti kemana akan dibawah.
Negeri Samawi berubah total, namun semua kejadian tersebut sudah berlalu ribuan tahun lalu, dan sekarang masih menjadi mimpi untuk negeri yang sama.

Jakarta, 12 Mei 2004
Arif Hidayat

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com