“Kota Hantu, Tak berpenghuni, Kota mati” acapkali kita mendengarnya setelah pertambangan disebuah area sudah habis masa operasinya. Komentar tersebut bukanlah isapan jempol belaka, sudah beberapa negara bahkan di wilayah Indonesia sendiri kenyataan tersebut menjadi realitas yang tak bisa dipungkiri.
Melirik pada pengalaman masa lalu, keberadaan tambang di Sumbawa yang khususnya berada di wilayah Sumbawa Barat tak bisa dipungkiri memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Dari data peringkat kecamatan berdasarakan analisis 30 faktor perubah tahun 1996 maka wilayah Jereweh dan Sekongkang menempati peringkat ke-14 dengan skor – 0,65049 dari total 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Sumbawa. Namun pada tahun 2001 berdasarkan data PDRB atas dasar harga berlaku peningkatan PDRB Kecamatan Sekongkan mencapai 32,23%. Pertumbuhan PDRB yang menempati posisi pertama dari 19 Kecamatan yang ada di Sumbawa tersebut diakibatkan oleh peningkatan investasi disektor pertambangan yang memberikan kontribusi sebesar 99,39% pada tahun 2000 dan sedikit meningkat pada tahun 2001 menjadi 99,44%. Perubahan struktur ekonomi di Kecamatan Sekongkang sebenarnya cukup besar yaitu terjadinya pergeseran dari sektor Primer ke sektor Sekunder, sebagai akibat dari perbangunan berskala besar dengan adanya usaha pertambangan emas dan tembaga oleh PT. Newmont Nusa Tenggara.
Setidaknya dari kontribusi yang cukup besar dari sektor pertambangan tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa sektor pertambangan yang memiliki masa usaha sampai 22 tahun tersebut dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat dan juga NTB secara umum. Namun sebuah pertanyaan akan terbesit dalam benak kita “bagaimana jika PT. NNT sudah habis masa eksploitasinya ?”. “Apakah Sekongkang akan mengalami pertumbuhan minus atau malah akan menempati peringkat terbawah seperti pada tahun 1996 ?” sudah tentu kejadian tersebut tidak diinginkan sama sekali.
Pembangunan lingkar tambang identik dengan pembangunan yang dilakukan oleh Investor yang saat ini kebetulan PT. NNT. Dana Community Development yang mencapai $ 2,371,856 untuk anggaran tahun 2003 setidaknya cukup besar untuk mengembangkan dan membangun masyarakat lingkar tambang. Namun semua itu akan menjadi sia-sia jika ketergantungan pembangunan hanya melibatkan satu pihak yaitu PT. NNT.
Dari pengalaman sektor pertambangan dibeberapa daerah, memang semasa operasi tambang berlangsung sumbangan pembangunan dilingkar tambang lebih banyak diambil perannya oleh investor pertambangan tersebut, peran pemerintah seolah-olah hanya sebatas justifikasi dari program yang dijalankan investor. Usaha pemerintah untuk berpikir jangka panjang dalam melihat keberlangsungan sebuah kota acapkali terlupakan. Pemerintah hanya melihat sebuah kesempatan “mengapa tidak memanfaatkan Investor selagi beroperasi”. Padahal efek negatif akan timbul setelah pertambangan tersebut berakhir.
Sebuah contoh sederhana yang saat ini menjadi kenyataan di wilayah lingkar tambang PT. NNT, desa tongo/sejorong yang tadinya merupakan dusun yang sangat terpencil, saat ini tidak kalah kemajuannya dengan daerah-daerah lain di kecamatan Sumbawa. Wilayah yang cukup dekat dengan daerah penambangan menjadikan Tongo sebagai salah satu wilayah yang mendapat prioritas bantuan PT.NNT. listrik yang identik dengan PLN didesa Tongo ternyata disuply oleh PT. NNT begitu juga dengan air bersih, yang kesemua gratis dinikmati oleh masyarakat setempat. Meskipun listrik yang disuply hanya mengalir dari sore hari sampai pagi hari, namun masyarakat setempat bisa menikmatinya.
Sepihak kita cukup bergembira dengan bantuan tersebut namun justru dengan kondisi serba gratis dan pihak NNT yang hanya berperan, maka sudah pasti dalam jangka waktu 20 tahun kedepan desa Tongo akan menjadi kota mati juga. Fakta ini disebabkan oleh ketergantungan Tongo terhadap keberadaan PT. NNT, setidaknya dalam waktu 20 tahun kedepan konsensi pertambangan PT. NNT sudah habis dan sudah tentu apa yang dinikmati oleh masyarakat Tongo akan berakhir pula.
Tongo hanya menjadi salah satu studi kasus yang perlu dicari jalan keluarnya. Pertumbuhan ekonomi setempat memang lebih banyak diakibatkan oleh keberadaan sektor pertambangan. Berbagai upaya dilakukan oleh PT. NNT untuk memberdayakan masyarakat setempat melalui Departement Comdevnya dan mitra kerjanya yaitu Yayasan Olat Parigi ( YOP ). Dari penelitian yang dilakukan oleh penulis medio Juni 2003 tanggapan umum dari masyarakat lingkar tambang adalah mendukung program yang saat ini digalakkan oleh PT. NNT, meskipun ada beberapa program yang perlu mendapat prioritas perbaikan.
Beberapa industri rumah tangga sudah bermunculan dalam masyarakat, serta yang tak kalah popolernya dimata petani adalah program agrikultur yang dijalankan oleh Comdev PT. NNT. Satu hal yang cukup mengejutkan bahwa masyarakat lingkar tambang manganggap keberadaan PT. NNT dapat direpsentasikan sebagai keberadaan pemerintah setempat. Anggapan inilah yang justru akan menjerumuskan masa depan daerah – daerah lingkar tambang di Sumbawa Barat. Peran pemerintah daerah dalam mengimbangi program yang digalakkkan oleh PT. NNT acapkali tidak sejalan dengan program mereka. Yang pada akibatnya timbul tarik ulur kepentingan dalam menerapkan langkah selanjutnya.
Seperti halnya tarik ulur mengenai ketersediaan air bersih di daerah Benete dan Maluk, meskipun PT. NNT sudah menyediakan beberapa sarana yang mendukung ketersediaan air bersih namun langkah kongkrit dari pemerintah Sumbawa yang dilaksanakan oleh PDAM masih berjalan ditempat. Begitu juga dengan ketersediaan listrik yang setiap saat padam merupakan masalah serius yang seharusnya dapat dibenahi oleh pemerintah setempat.
Kebijakan pemerintah yang mengharapkan terlalu banyak kontribusi investor pertambangan mengakibatkan akan timbulnya permasalahan setelah tambang tersebut ditutup. Ada baiknya beberapa peran vital yang menaungi kepentingan rakyat banyak pemerintah setempat dapat berperan lebih jauh.
Listrik gratis didesa tongo tidak akan memberikan manfaat lebih jika selamanya disupply oleh PT. NNT dengan waktu pakai sore hari sampai pagi hari. Padahal kita mengetahui waktu untuk menjalankan sebuah usaha apalagi home industri banyak dilakukan dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 15.00 sore. Disinilah peran pemerintah seharusnya ada, karena keberadaan pertambangan mempunyai masa waktu yang suatu saat akan habis masanya. Jika kebijakan kedepan masih berorentasi pada program investor pertambangan niscaya “Kota Hantu dan Kota mati” tidak bisa dihindari untuk wilayah Benete, Maluk, sekongkang, tongo/sejorong, SP1 dan SP2. Pembangunan yang ada akan sia-sia karena induk semang yang selama ini selalu memberikan makan anak-anaknya sudah hilang karena mineral yang ada sudah habis terkuras.
Jakarta, 30 Jul. 03
Arif Hidayat
Setidaknya dari kontribusi yang cukup besar dari sektor pertambangan tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa sektor pertambangan yang memiliki masa usaha sampai 22 tahun tersebut dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat dan juga NTB secara umum. Namun sebuah pertanyaan akan terbesit dalam benak kita “bagaimana jika PT. NNT sudah habis masa eksploitasinya ?”. “Apakah Sekongkang akan mengalami pertumbuhan minus atau malah akan menempati peringkat terbawah seperti pada tahun 1996 ?” sudah tentu kejadian tersebut tidak diinginkan sama sekali.
Pembangunan lingkar tambang identik dengan pembangunan yang dilakukan oleh Investor yang saat ini kebetulan PT. NNT. Dana Community Development yang mencapai $ 2,371,856 untuk anggaran tahun 2003 setidaknya cukup besar untuk mengembangkan dan membangun masyarakat lingkar tambang. Namun semua itu akan menjadi sia-sia jika ketergantungan pembangunan hanya melibatkan satu pihak yaitu PT. NNT.
Dari pengalaman sektor pertambangan dibeberapa daerah, memang semasa operasi tambang berlangsung sumbangan pembangunan dilingkar tambang lebih banyak diambil perannya oleh investor pertambangan tersebut, peran pemerintah seolah-olah hanya sebatas justifikasi dari program yang dijalankan investor. Usaha pemerintah untuk berpikir jangka panjang dalam melihat keberlangsungan sebuah kota acapkali terlupakan. Pemerintah hanya melihat sebuah kesempatan “mengapa tidak memanfaatkan Investor selagi beroperasi”. Padahal efek negatif akan timbul setelah pertambangan tersebut berakhir.
Sebuah contoh sederhana yang saat ini menjadi kenyataan di wilayah lingkar tambang PT. NNT, desa tongo/sejorong yang tadinya merupakan dusun yang sangat terpencil, saat ini tidak kalah kemajuannya dengan daerah-daerah lain di kecamatan Sumbawa. Wilayah yang cukup dekat dengan daerah penambangan menjadikan Tongo sebagai salah satu wilayah yang mendapat prioritas bantuan PT.NNT. listrik yang identik dengan PLN didesa Tongo ternyata disuply oleh PT. NNT begitu juga dengan air bersih, yang kesemua gratis dinikmati oleh masyarakat setempat. Meskipun listrik yang disuply hanya mengalir dari sore hari sampai pagi hari, namun masyarakat setempat bisa menikmatinya.
Sepihak kita cukup bergembira dengan bantuan tersebut namun justru dengan kondisi serba gratis dan pihak NNT yang hanya berperan, maka sudah pasti dalam jangka waktu 20 tahun kedepan desa Tongo akan menjadi kota mati juga. Fakta ini disebabkan oleh ketergantungan Tongo terhadap keberadaan PT. NNT, setidaknya dalam waktu 20 tahun kedepan konsensi pertambangan PT. NNT sudah habis dan sudah tentu apa yang dinikmati oleh masyarakat Tongo akan berakhir pula.
Tongo hanya menjadi salah satu studi kasus yang perlu dicari jalan keluarnya. Pertumbuhan ekonomi setempat memang lebih banyak diakibatkan oleh keberadaan sektor pertambangan. Berbagai upaya dilakukan oleh PT. NNT untuk memberdayakan masyarakat setempat melalui Departement Comdevnya dan mitra kerjanya yaitu Yayasan Olat Parigi ( YOP ). Dari penelitian yang dilakukan oleh penulis medio Juni 2003 tanggapan umum dari masyarakat lingkar tambang adalah mendukung program yang saat ini digalakkan oleh PT. NNT, meskipun ada beberapa program yang perlu mendapat prioritas perbaikan.
Beberapa industri rumah tangga sudah bermunculan dalam masyarakat, serta yang tak kalah popolernya dimata petani adalah program agrikultur yang dijalankan oleh Comdev PT. NNT. Satu hal yang cukup mengejutkan bahwa masyarakat lingkar tambang manganggap keberadaan PT. NNT dapat direpsentasikan sebagai keberadaan pemerintah setempat. Anggapan inilah yang justru akan menjerumuskan masa depan daerah – daerah lingkar tambang di Sumbawa Barat. Peran pemerintah daerah dalam mengimbangi program yang digalakkkan oleh PT. NNT acapkali tidak sejalan dengan program mereka. Yang pada akibatnya timbul tarik ulur kepentingan dalam menerapkan langkah selanjutnya.
Seperti halnya tarik ulur mengenai ketersediaan air bersih di daerah Benete dan Maluk, meskipun PT. NNT sudah menyediakan beberapa sarana yang mendukung ketersediaan air bersih namun langkah kongkrit dari pemerintah Sumbawa yang dilaksanakan oleh PDAM masih berjalan ditempat. Begitu juga dengan ketersediaan listrik yang setiap saat padam merupakan masalah serius yang seharusnya dapat dibenahi oleh pemerintah setempat.
Kebijakan pemerintah yang mengharapkan terlalu banyak kontribusi investor pertambangan mengakibatkan akan timbulnya permasalahan setelah tambang tersebut ditutup. Ada baiknya beberapa peran vital yang menaungi kepentingan rakyat banyak pemerintah setempat dapat berperan lebih jauh.
Listrik gratis didesa tongo tidak akan memberikan manfaat lebih jika selamanya disupply oleh PT. NNT dengan waktu pakai sore hari sampai pagi hari. Padahal kita mengetahui waktu untuk menjalankan sebuah usaha apalagi home industri banyak dilakukan dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 15.00 sore. Disinilah peran pemerintah seharusnya ada, karena keberadaan pertambangan mempunyai masa waktu yang suatu saat akan habis masanya. Jika kebijakan kedepan masih berorentasi pada program investor pertambangan niscaya “Kota Hantu dan Kota mati” tidak bisa dihindari untuk wilayah Benete, Maluk, sekongkang, tongo/sejorong, SP1 dan SP2. Pembangunan yang ada akan sia-sia karena induk semang yang selama ini selalu memberikan makan anak-anaknya sudah hilang karena mineral yang ada sudah habis terkuras.
Jakarta, 30 Jul. 03
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda