Minggu, 14 Desember 2008

Kegembiraan itu, Kekalahan Tertunda.

. Minggu, 14 Desember 2008

“Kita semua agak aneh…dan hidup sendiri agak aneh…dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannnya SEJALAN dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh kedalam keanehan serupa yang dinamakan CINTA. Ada hal-hal yang tidak kita ingin lepaskan….orang – orang yang tidak ingin kita tinggalkan…..serta identitas yang ingin kita pertahankan habis-habisan.”
Sebuah realitas mengukir dalam hiruk pikuk kepentingan ditingkat lokal NTB, proses suksesi Gubernur NTB yang boleh dikatakan cukup Demokratis melahirkan sebuah torehan “melepaskan” bagi yang memperoleh kekalahan. Yang perlu diingat hilangkan kesempatan tersebut bukanlah akhir dari Dunia, melainkan awal dari sebuah kehidupan baru. Hiruk pikuk kemenangan terus bergema dengan sorak sorai ketika Calon yang sebelumnya dianggap underdog malah mendapat kemenangan mutlak dalam proses pemilihan Gubernur NTB, Senin, 21 July 2003 tersebut. Pasangan Srinata – Bonyo adalah putera daerah dari wilayah yang sama dengan etnis yang berbeda, satunya dari etnis Sasak pendampingnya dari etnis Samawa.

Kemenangan pasangan Srinata – Bonyo tidak lahir dengan sendirinya, apalagi kalau kita beranggapan sebagai sebuah kebetulan belaka. Proses yang cukup panjang untuk bisa mengedukasi masyarakat setempat akan sangat pentingnya sebuah kesempatan merupakan langkah awal dalam membuka kran keberpihakan bagi dua etnis yang dipasangkan tersebut. Gerakan moralitas merupakan kunci pokok yang bisa membuka rasa simpati anggota DPRD NTB akan kemampuan kedua pasangan tersebut dalam menerima amanat kepemimpinan NTN 2003-2008.
Dimulai dengan merangkatnya wacana Sasak – Samawa ( SS ), pencarian figure yang tepat mulai dilakukan, mengarah pada sebuah wacana sangat perlunya kepemimpinan NTB digilir berdasarkan etnisitas yang ada didalam NTB itu sendiri.
Lahirlah rasa Cinta akan sebuah kesempatan, pelajaran berharga yang bisa dipetik dari proses Suksesi 5 tahun lalu yang dimenangkan oleh Harun Al-Rasyid setidaknya melahirkan sebuah proses keberpihakan dalam lingkup etnis yang dalam teori politiknya wajar-wajar saja. Rasa kehilangan dan perasaan perampasan Hak yang seharusnya diperoleh sengaja menjadi senjata pasangan Srinata – Bonyo dalam mengembalikan rasa percaya diri dua etnis dalam mendukung langkah mereka.
Dukungan politis dari unsur asal ( F. Golkar ) tidak sejalan dengan aspirasi yang berkembang dalam tataran grass root. Mereka adalah pasangan yang diunggulkan oleh F.PPP DPRD NTB.
Senin 21 Juli 2003, sejarah baru kepemimpinan NTB lahir. Rasa suka cita menyelimuti berbagai komponen yang sangat berharap akan sebuah perubahan dalam regional NTB. Etnis Sasak merasakan kegembiraan yang luar biasa, dan Etnis Samawa merasakan bahwa anggapan NTB hanya dihuni oleh etnis Sasak dan Mbojo terbantahkan. Dan eksistensi yang selama ini dianggap hilang kini sontak bangkit dengan slogan “mari rapatkan barisan dalam membela martabat Sumbawa”. Sebuah fenomena baru lahir dalam sebuah proses yang mungkin sebagian orang menganggapnya perebutan jabatan belaka. Dibalik pertarungan politis yang telah dipersiapkan setahun lebih oleh pasangan Srinata – Bonyo tersebut sebenarnya melahirkan semangat baru dalam pencapaian yang dilandasi kebersamaan, kepercayaan dan profesionalisme. Kini kebanggaan baru mulai merasuk dalam jiwa-jiwa yang sebelumnya kehilangan semangat untuk berkompetisi secara fair. “Ingat tidak ada pencapaian tanpa diawali dengan USAHA”.
Kemenangan tersebut seyokyanyalah tidak melahirkan kegembiraan yang berlebihan, apalagi dengan pikiran “kami akan membalas apa yang lebih dilakukan oleh Harun”. Perlu diketahui yang dihasilkan oleh Harun Al-rasyid gubernur sebelumnya adalah memantapkan pencapaian KKN yang optimal. Dan ini bukan rahasia lagi dan sudah diketahui oleh masyarakat awam NTB. Perpindahan KKN dalam sebuah proses suksesi kepemimpinan acapkali dianggap sebagai pembalasan karena sebelumnya golongan mereka dianggap tidak diberi kesempatan oleh pemimpin sebelumnya. Semangat pencapaian yang sudah dibangun saat ini setidaknya perlu dimotori pula oleh semangat profesionalisme dalam menjalankan roda pemerintahan sehari-hari.
Pemimpin baru, penguasa baru, dan identik dengan lahirnya pengusaha baru. Sudah tentu idiom tersebut akan menghancurkan kegembiraan yang diharapkan melahirkan perubahan dalam masyarakat. Perlu direnungi membangun mentalitas manusia jauh lebih sulit daripada membangun sebuah prasana Fisik yang bisa dilihat dengan mata telanjang.
Cinta yang diamanatkan oleh suara-suara anggota DPRD NTB setidaknya dapat repsentasikan dalam sebuah perubahan mendasar yang diinginkan oleh masyarakat NTB. Kedekatan emosional antara pemimpin dan rakyatnya melahirkan rasa memiliki dan dukungan akan program yang direncanakan oleh pemimpin mereka. Jangan sampai kebijakan yang ada hanya bersifat sebagai pemuas dikala rasa ketidakpuasan itu muncul. Tirai bahwa pemimpin itu adalah pejabat harus disingkirkan jauh-jauh dan kalau perlu duet pemimpin yang terpilih saat ini dapat memperbanyak frekuensi keberadaan mereka dalam mendengar suara rakyat, melihat dapur rakyat, dan merasakan keseharian kehidupan rakyat. Memang sungguh ideal jika mereka dapat menjalankan semuanya, namun marilah kita awali dengan sebuah pikiran jernih dan niat yang tulus bahwa “Saya terpilih karena rakyat menghendaki perubahan yang lebih baik”.
Bukankah sejarah banyak memberi kita pelajaran berharga, kegembiraan karena memperoleh apa yang diinginkan acapkali melunturkan niat awal yang sebelumnya dikampayekan. Sampai-sampai seorang sahabatku mengirim sms “saya tidak percaya dengan politisi dari tingkat nasional sampai desa”. Pikiran tersebut sangat wajar karena apa yang dipamerkan oleh para politisi dan pemimpin hanyalah kemuakan yang tidak bisa dimuntahkan begitu saja. Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami mencari seorang pemimpin yang ideal kesulitannya berimbang.
Mencintai rakyat rakyat bukanlah kita hanya mendengarkan melainkan dapat mengerti apa yang diinginkan, mencintai rakyat bukanlah kita hanya melihat melainkan dapat merasakan apa yang rakyat rasakan.
Jangan sampai kegembiraan itu akan menjadi bumerang dan malah menciptakan sejarah baru yang tidak lebih baik dari rezimnya Harun, sudah tentu sebelum lebih jauh amanat itu dijalankan terbukalah melihat masa lalu dan memperbaiki sesuatu yang masih belum sempurna.
Bukankah kemenangan yang diharapkan….bukan kekalahan yang setiap saat bisa mengejar. Jauhkan kegembiraan berkepanjangan, buktikan dengan kerja nyata.

Jakarta, 25 Juli 03
Arif Hidayat

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com