Hiruk pikuk pesta demokrasi dalam bentuk pemilihan umum sudah memasuki tahap klimaks, tepatnya Kamis, 11 Maret 2004 semua partai sudah berhak untuk berkampanye secara terbuka untuk mensosialisasikan programnya pada konstituen.
Berbagai analisis muncul kepermukaan tentang siapa pemenang pemilu kali ini, Apa yang dikatakan oleh pengamat politik LIPI, tentang prediksi hasil pemilu legeslatif 2004 "Perolehan suara ( 70%) pada pemilu 2004 masih akan dikuasai partai lama dan besar, karena politik aliran masih kuat dan dikukuhkan kembali oleh partai besar sejak pemilu 1999". Sangat wajar jika perolehan suara akan dikuasai oleh parpol lama dan besar karena mereka sudah mempunyai infrastruktur guna memantapkan posisinya kali ini.
Mengulas pada sejarah masa lalu kondisi peta perpolitikkan nasional tidak berbeda jauh dengan peta perpolitikkan didaerah seperti halnya di Sumbawa. Golkar sebagai kekuatan politik yang didukung oleh pemerintah Orba sanantia menjadi pemenang pada masa tersebut. Di Sumbawa dominasi Golkar pada periode 1982-1987 cukup significant dengan 20 orang (64,52%) dari total anggota DPRD 31 orang, PPP 5 orang (16,13%), PDI 2 orang (6,45%) dan wakil ABRI 4 orang ( 12,90%). Periode 1987 – 1992, Golkar 24 orang (64,86%), PDI 4 orang (10,81%), PPP 2 orang (5,41%) dan wakil ABRI 6 orang (16,22%) dari jumlah anggota DPRD periode tersebut sebanyak 37 orang.
Pemilu 1997 – 1999, yang merupakan pemilu terakhir ORBA, Golkar menempatkan 28 orang (70%), PDI 1 orang (2,50%), dan PPP 3 orang (7,50%), ditambah wakil ABRI 8 orang (20%).
Pasca reformasi terjadi pemilihan umum yang merupakan percepatan dari pemilu yang seharusnya dilaksanakan 2002, pada masa tersebut diikuti oleh 48 partai politik. Peta kursi DPRD sumbawa pada periode 1999 – 2004 adalah, Partai Golkar 14 Orang (36,84%), PDI-P 9 orang (23,68%), PPP 7 orang (18,42%), PAN 2 orang (5,26%), PBB, PKB dan PKP masing-masing 1 orang (2,63%), serta 4 orang dari TNI/Polri (10,52%).
Pemilu tahun 2004 kali ini diikuti oleh 24 kontestan partai politik, namun dari kedua kontenstan tersebut diperkirakan hanya 8 partai yang bisa lolos dengan perolehan suara minimal 3%. Dari hasil survey baru ini ini yang dilakukan oleh konsultan independen di Jakarta ke-8 Parpol tersebut adalah PDI-P, Partai Golkar, PAN, PPP, PKB, PBB, PKS dan Partai Demokrat.
Peta perpolitikkan di Sumbawa tidak akan berbeda jauh dengan peta perpolitikkan di tingkat nasional, namun kemungkinan ada sedikit perbedaan komposisi yang terjadi dalam pemilihan umum kali ini. Komposisi 5 besar kemungkinan akan berubah, disebabkan oleh sepak terjang partai-partai baru yang agresif merebut konstituen partai yang sudah ada, ditambah dengan kinerja beberapa partai yang semakin ditinggalkan oleh konstituennya.
Analisis penulis memperkirakan posisi teratas masih didominasi oleh partai Golkar ( 25%-30%), PPP (20%-25%), PDI-P ( 17%-22%), PBB & PKS ( 5%-7%), PKB ( 4%-6%) serta PAN, Partai PDK & Partai Demokrat (3%-5%). Analisis ini didasarkan oleh Kinerja selama partai tersebut memegang kendali kekuasaan di Sumbawa, serta sepak terjang partai-partai baru yang merebut konstituen partai yang sudah ada. Cukup menarik ketika analisis tersebut diangkat, PPP kemungkinan akan menyodok posisi PDI-P, kenyataan ini sangat didukung oleh gerakan PPP yang merebut konstituennya melalui jaringan kepala desa yang ada di Sumbawa. Tokoh Sumbawa yang saat ini menjabata Wagub NTB juga merupakan magnet beralihnya suara pemilih ke PPP. Bisa jadi jika PPP bisa memanfaatkan instrastruktur dan jaringan yang sudah terbangun maka komposisinya akan bersaing ketat dengan partai Golkar. Kenyataan yang cukup mengejutkan adalah munculnya Partai Keadilan Sejahtera ( PKS ) yang bernafaskan islam, kampanye simpatik PKS yang mengendepankan moralitas dan panutan akan memberikan alternatif lain bagi pemilih rasional untuk menitipkan hak suaranya.
Posisi PAN yang sebelumnya mendapat 5,26% kursi di DPRD Sumbawa kemungkinan akan tergeser, meraih satu kursipun agak begitu sulit bagi PAN pada pemilu kali ini. Posisi PAN yang akan merosot disebabkan oleh konflik internal yang menyebabkan banyaknya pengurus dan kadernya eksodus ke partai lain.
Partai baru lainnya yang kemungkinan akan mengisi komposisi suara di DPRD Sumbawa adalah Partai PDK & Partai Demokrat yang mengusungkan Ryas Rasyid & Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon presidennya. Meskipun partai ini sama sekali baru, tertib strategy cukup mendukung bahwa partai ini bisa mendapatkan suara di DPRD Sumbawa.
Meskipun pemilu kali ini berbeda dengan pemilu tahun 1999, yaitu alternatif pemilih untuk mencoblos secara langsung nama pemilihnya, tapi karena pendidikan politik belum tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat, maka pemilih cendrung akan menggunakan hak pilihnya untuk mencoblos tanda gambar partai. Tanda gambar inilah yang masih menjadi keunggulan bagi partai lama untuk tetap mempertahankan komposisinya, meskipun ada pergeseran komposisi.
Politik merupakan sebuah kenyataan dinamika, gambaran dan komposisi diatas sudah tentu dapat berubah tiap saat, namun bagaimanapun kenyataan yang akan terjadi didepan dengan berbagai alat analisis kenyataan tersebut bisa diprediksi hasilnya. Rakyatlah yang akan menjadi penentu berhasil tidaknya partai mensosialisasi kampanyenya.
“Life’s battles don’t always go to the strongest or the fastest person, but sooner or later the person who wins is the one who thingks they can”. Pertarungan – pertarungan hidup tidak selalu dimenangkan oleh orang yang terkuat atau tercepat, tetapi cepat atau lambat, orang yang menang adalah mereka yang berpikir bahwa mereka bisa.
Selamat Bertarung secara fair !
Jakarta, 11 Maret 2004
Arif Hidayat
Pemilu 1997 – 1999, yang merupakan pemilu terakhir ORBA, Golkar menempatkan 28 orang (70%), PDI 1 orang (2,50%), dan PPP 3 orang (7,50%), ditambah wakil ABRI 8 orang (20%).
Pasca reformasi terjadi pemilihan umum yang merupakan percepatan dari pemilu yang seharusnya dilaksanakan 2002, pada masa tersebut diikuti oleh 48 partai politik. Peta kursi DPRD sumbawa pada periode 1999 – 2004 adalah, Partai Golkar 14 Orang (36,84%), PDI-P 9 orang (23,68%), PPP 7 orang (18,42%), PAN 2 orang (5,26%), PBB, PKB dan PKP masing-masing 1 orang (2,63%), serta 4 orang dari TNI/Polri (10,52%).
Pemilu tahun 2004 kali ini diikuti oleh 24 kontestan partai politik, namun dari kedua kontenstan tersebut diperkirakan hanya 8 partai yang bisa lolos dengan perolehan suara minimal 3%. Dari hasil survey baru ini ini yang dilakukan oleh konsultan independen di Jakarta ke-8 Parpol tersebut adalah PDI-P, Partai Golkar, PAN, PPP, PKB, PBB, PKS dan Partai Demokrat.
Peta perpolitikkan di Sumbawa tidak akan berbeda jauh dengan peta perpolitikkan di tingkat nasional, namun kemungkinan ada sedikit perbedaan komposisi yang terjadi dalam pemilihan umum kali ini. Komposisi 5 besar kemungkinan akan berubah, disebabkan oleh sepak terjang partai-partai baru yang agresif merebut konstituen partai yang sudah ada, ditambah dengan kinerja beberapa partai yang semakin ditinggalkan oleh konstituennya.
Analisis penulis memperkirakan posisi teratas masih didominasi oleh partai Golkar ( 25%-30%), PPP (20%-25%), PDI-P ( 17%-22%), PBB & PKS ( 5%-7%), PKB ( 4%-6%) serta PAN, Partai PDK & Partai Demokrat (3%-5%). Analisis ini didasarkan oleh Kinerja selama partai tersebut memegang kendali kekuasaan di Sumbawa, serta sepak terjang partai-partai baru yang merebut konstituen partai yang sudah ada. Cukup menarik ketika analisis tersebut diangkat, PPP kemungkinan akan menyodok posisi PDI-P, kenyataan ini sangat didukung oleh gerakan PPP yang merebut konstituennya melalui jaringan kepala desa yang ada di Sumbawa. Tokoh Sumbawa yang saat ini menjabata Wagub NTB juga merupakan magnet beralihnya suara pemilih ke PPP. Bisa jadi jika PPP bisa memanfaatkan instrastruktur dan jaringan yang sudah terbangun maka komposisinya akan bersaing ketat dengan partai Golkar. Kenyataan yang cukup mengejutkan adalah munculnya Partai Keadilan Sejahtera ( PKS ) yang bernafaskan islam, kampanye simpatik PKS yang mengendepankan moralitas dan panutan akan memberikan alternatif lain bagi pemilih rasional untuk menitipkan hak suaranya.
Posisi PAN yang sebelumnya mendapat 5,26% kursi di DPRD Sumbawa kemungkinan akan tergeser, meraih satu kursipun agak begitu sulit bagi PAN pada pemilu kali ini. Posisi PAN yang akan merosot disebabkan oleh konflik internal yang menyebabkan banyaknya pengurus dan kadernya eksodus ke partai lain.
Partai baru lainnya yang kemungkinan akan mengisi komposisi suara di DPRD Sumbawa adalah Partai PDK & Partai Demokrat yang mengusungkan Ryas Rasyid & Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon presidennya. Meskipun partai ini sama sekali baru, tertib strategy cukup mendukung bahwa partai ini bisa mendapatkan suara di DPRD Sumbawa.
Meskipun pemilu kali ini berbeda dengan pemilu tahun 1999, yaitu alternatif pemilih untuk mencoblos secara langsung nama pemilihnya, tapi karena pendidikan politik belum tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat, maka pemilih cendrung akan menggunakan hak pilihnya untuk mencoblos tanda gambar partai. Tanda gambar inilah yang masih menjadi keunggulan bagi partai lama untuk tetap mempertahankan komposisinya, meskipun ada pergeseran komposisi.
Politik merupakan sebuah kenyataan dinamika, gambaran dan komposisi diatas sudah tentu dapat berubah tiap saat, namun bagaimanapun kenyataan yang akan terjadi didepan dengan berbagai alat analisis kenyataan tersebut bisa diprediksi hasilnya. Rakyatlah yang akan menjadi penentu berhasil tidaknya partai mensosialisasi kampanyenya.
“Life’s battles don’t always go to the strongest or the fastest person, but sooner or later the person who wins is the one who thingks they can”. Pertarungan – pertarungan hidup tidak selalu dimenangkan oleh orang yang terkuat atau tercepat, tetapi cepat atau lambat, orang yang menang adalah mereka yang berpikir bahwa mereka bisa.
Selamat Bertarung secara fair !
Jakarta, 11 Maret 2004
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda