Minggu, 14 Desember 2008

Kaos-ku 24

. Minggu, 14 Desember 2008

Terima Kasih, partai kalian telah memberi kami 24 kaos yang berbeda, sehingga bisa dipakai untuk tidur selama 24 hari (628153956xxx).
Baris kalimat diatas merupakan ungkapan pembaca Koran tempo, senin 29 maret 2004 dalam rubrik bilik suara.
Nah…..politik adalah sebuah permainan, kali ini yang justru menjadi object permainan adalah partai politik yang berkompetisi dalam pemilihan umum 2004, simak wawancara yang ditayangkan salah satu media TV medio minggu ke-4 Maret 2004. “Sebelumnya kami selalu dijadikan korban oleh para politisi, untuk saat ini rakyat yang harus lebih pintar, ambil saja uang, kaos serta seabrek tawaran dari mereka, namun jangan pilih mereka”.


Wah…ternyata pendidikan politik yang diterapkan dalam lima tahun terakhir ini melahirkan sikap antipati, apatis terhadap para politisi dari sebagian rakyat Indonesia. Kenyataan ini bukan hanya berlaku pada seputar metropolitan dan kota-kota dipulau Jawa, tapi sudah merembet pada lingkungan pedesaan yang sebelumnya cukup latah untuk disebut kurang informasi.
Saya tertawa geli ketika mendengar penuturan seorang ibu yang kesehariannya menjual bahan pokok di seputar pasar diwilayah Sumbawa, “Saya bingung, menantuku hampir tiap hari mengikuti kampanye partai politik, kaos parpol yang ada dilemarinya sudah mencapai 24 buah”.
Sebuah berkah sekaligus rezeki bagi sebagian orang, bahwa kampanye kali ini memberikan mereka semacam hiburan dan sekaligus materi berupa uang secara instan. Coba amati, gerakan beberapa masyarakat lokal yang bangga disebut tokoh, pengerahan massa untuk menyemarakkan kampanye parpol tertentu akan dijawab dengan sebuah tantangan; “berapa banyak uang yang anda sumbangkan kepada masyarakat kami ?”. Massa adalah sebuah komoditas bisnis, ini sudah banyak diterapkan di kota-kota besar. Komoditas tersebut ternyata sudah merembet pada berbagai elemen masyarakat tak terkecuali pada elemen masyarakat yang berada di wilayah pedesaan dan terpencil.
Sungguh lucu, tak kala seorang petinggi parpol baru, melihat bahwa pendukungnya sangat banyak disebabkan oleh cepat habisnya kaos parpolnya saat dibagikan. Indicator jumlah kaos yang diambil oleh masyarakat memunculkan rasa optimisme bahwa mereka sudah pasti akan menjadi anggota Legeslatif setempat. Saya pernah memberikan penjelasan yang setidaknya membuat ketua parpol tersebut berpikir tujuh keliling tentang kondisi riel pemilih saat ini; “coba tumpukkan Kaos dari 24 parpol dilapangan bola, masing-masing 10.000 kaos, saya menjamin ke-24 kaos parpol tersebut akan diambil oleh pemilih, nah……pemilih mana yang anda anggap sebagai basis massa millitan ?”.
Lebih serunya dari masing-masing parpol terdapat Caleg yang tentu jumlahnya lebih dari satu, masing-masing caleg juga mempunyai kaos dengan versi masing-masing. Dan lebih dahsyatnya anggota DPD juga menyemarakkan kampanye dengan atribut yang menampilkan identitas mereka. Sudah tentu kaos juga menjadi ajang promosi efektif bagi Caleg-caleg DPD yang ada. Bisa jadi hitungan kaos dengan jumlah 24 merupakan batas minimal yang dipunyai oleh masyarakat. Jika dikalkulasikan dengan kreatifitas Caleg-caleg yang menampilkan namanya serta caleg dari DPD bukan mustahil kaos – kaos gratisan bisa dikumpulkan sebanyak 50 buah. Sebuah rezeki yang tak terduga, coba saja hitung, kalau dirata-ratakan kaosnya berharga Rp.10.000/buah maka uang yang diterima secara tidak langsung sebanyak Rp.500.000,…
Akibatnya……………….sudah tentu yang saat ini bintang-bintang kecil menghiasi pandangan yang sedikit demi sedikit akan membuat kepala pusing, korbannya tak lain adalah para caleg yang berkompetisi. Caleg-caleg tersebut sudah banyak mengeluarkan dana untuk kampanye demi sebuah kursi, padahal prosentase kursi yang diperebutkan sangat kecil atau boleh dibilang tidak berimbang dengan jumlah caleg yang bajibun.
“Ini…..bisnis baru”, cetus ku. Secepatnya kita membuat semacam wadah konsultasi pasca pemilu yang khusus ditujukan kepada mantan-mantan caleg. Lebih kerennya wadah tersebut disebut “Psikiaterist”. Ucapan spontan ini tiba-tiba didukung oleh salah ketua KPU Kecamatan yang ada didaerah; “kami pun telah berencana membuat lembaga konsultasi pasca pemilu dengan menggunakan system pengobatan tradisional berupa “langke besi” ( rantai besi )”.
Kesadaran politik masyarakat kita cukup membanggakan, buktinya mereka pun masih berpikir bagaimana upaya mengatasi persoalan pasca pemilihan umum nanti. Mereka sangat yakin pasca pemilihan umum nanti akan melahirkan orang-orang dengan dunia yang berbeda, atau istilah kerennya “Stress dan Gila”.
Pemilu memang menjanjikan perubahan, termasuk perubahan yang boleh dibilang lucu dan sangat lucu…jangan-jangan mengolah negara ini juga dianggap sebagai bagian dari kelucuan tersebut.


Jakarta, 29 Maret 2004
Arif Hidayat

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com