Kemana Melangkah
Bumi diciptakan untuk dikelana, akal mengembara dalam benak yang tak terbaca. Terus mengawang sampai-sampai kita ragu untuk melangkah. Beribu pertimbangan menyerbu bahkan menghentikan apa yang seharusnya dijalankan.
Hidup dalam keserbamoderanan ternyata melahirkan keraguan nyata dan pertimbangan semu. Segala sesuatu seolah-olah harus direncanakan secara matang dan kemudian baru melangkah. Teringat sebuah keluarga yang masih hidup nun jauh diseberang lautan yang sama sekali tak tersentuh komoderenan. Mereka mengikuti alam, mengakrabi alam bahkan menyandarkan semuanya pada alam. Tergiang dalam pikiran sederhananya, bagaimana makanan terkumpul dan bisa disantapi dengan nikmat. Semua tersedia dialam sekitarnya, ikan, sayuran dan apa yang mereka butuhkan selama ini tersedia. Tidak ada pikiran memberontak untuk meminta lebih, karena mereka belum pernah merasakan apa yang dimaksud dengan lebih tersebut. Mereka tidak pernah merasakan pembandingnya bahkan mereka menerima dan terus menerima pemberian alam ini.
Ketiga layar ini dipindahkan dalam hidupan modern yang berlangsung dalam panggung kota besar, nalar kita ditempeli beribu macam pembanding. Seolah-olah hari kita serasa tidak cukup dan seterusnya tidak cukup. “Serakah” kata yang sering kita akrabi namun sulit untuk diterima. Apa yang telah diperoleh oleh orang lain, terpikir pula oleh kita. Racun modern dengan beribu pembanding ternyata melahirkan jutaan manusia sakit. Yang di kejar selalu tak pasti, harta dan kekuasaan bagaikan singgasanah tertinggi dalam pencapaian modern. Padahal semua itu semu, dan seterusnya jika jiwa kita masih tetap kosong dalam menjiwai kehidupan ini. Hidup adalah makna yang digoreskan sementara, nilainya terletak pada kepuasan untuk menerima dan menjalankan hidup ini. Hidup adalah keseimbangan individu dan masyarakat, maknanya kita berbagi untuk bisa memberi dan memahami lainnya. Kota besar merupakan sebuah percaturan makna, hidup berbagi adalah barang langka yang lamban laun terus mengakar. Identitas mahluk sebagai manusia terganti dengan konsep robot. Nalar kemanusia semakin menipis diakibatkan oleh sebuah target pencapaian yang semu.
Waktu yang disediakan 24 jam ternyata belum menjawab keinginan kita sebagai manusia serakah, kita terus dijajah oleh waktu dan kita tidak bisa menikmati waktu tersebut. Waktu adalah barang mewah dan kita masih tetap diperbudak oleh waktu. Bagi kita yang hidup dikota besar, waktu serasa sangat pendek, namun bagi mereka yang ada nun juah dikehidupan alaminya, waktu adalah ritme untuk memaknai kehidupannya.Islam mengikrarkan “Demi waktu”, sebuah permulaan untuk meletakkan langkah selanjutnya. Umur manusia yang dirata-ratakan 60 tahun adalah masa pendek di mata Maha Pencipta, namun nyatanya kita tetap menyiakannya. Sadar adalah kata terlambat jika kita sudah menjalani cobaan, cobaan tersebut adalah peringatan tentang apa yang telah kita perbuat selama ini. Dan kesadaran itu biasanya datang serta merta tatkala ajal sudah didepan Mata.
Ketahuinya dunia ini dipenuhi dengan beragam pembanding, lihatlah yang bawah dan janganlah menengok keatas. Jika jiwa kita rapuh, apapun yang ada disekeliling kita ibaratnya sebagai ancaman. Ucapkan rasa syukur jika kita lebih banyak menerima Karomah Nya, dan Istigfarnya untuk tidak terjebak dalam bisikan keserakan, karena keserahan itu akan menghilangkan makna untuk menjiwai detik-detik perputaran bumi ini.
Arif Hidayat
Jakarta, 4 Mei 2006
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda