Kapitalisme TV Mempengaruhi Jadwal Iedul Fitri di Indonesia
Kontraversi pelaksanaan hari raya Iedul Fitri di Indonesia bukan sebatas pada keyakinan munculnya hilal pada tanggal 22 Oktober lalu.
Pemerintah Indonesia tetap pada keyakinannya bahwa lebaran dilaksanakan selasa (24/10).
Muhamadiyah dengan tegas telah menetapkan bahwa hari raya Iedul Fitri dilaksanakan pada hari senin (23/10), keputusan Muhammadiyah berdasarkan metode hisab, yang menggunakan Ilmu pengetahuan lebih dikedepankan. Sedangkan yang Selasa memakai metode rukhyat.
Kontraversi jatuhnya hari lebaran sebenarnya bisa diminimalisir tatkala pemerintah Indonesia tidak mengedepankan egonya untuk tetap mempertahankan lebaran jatuh pada hari selasa. Rujukan lebaran tahun ini jatuh pada hari senin sebenarnya sudah ada, masyarakat di tanah arab juga melaksanakan shalat ied pada hari senin begitu juga dengan fatwa yang dikeluarkan oleh organisasi konferensi islam ( OKI ) yang menegaskan umat Islam merayakan shalat iedul fitri pada hari senin.
Dibalik Kebijakan Pemerintah.
Orang awampun sudah mengetahui bahwa dunia pertelevisian di Indonesia telah mengagendakan hari raya akan jatuh pada hari selasa (24/10). Berbagai tayangan khusus disuguhkan menyambut iedul fitri hari ini. Jauh-jauh hari iklan perayaan iedul fitri khusus sudah diinformasikan kepemirsa diseantero tanah air ini.
Gawatnya kalau lebaran dirayakan pada hari senin, semua agenda pertelevisian tersebut bisa kacau balau. Hal ini dimungkinkan karena banyak stasiun TV sudah merekam program yang akan ditayangkan pada lebaran selasa (24/10).
Menariknya pemerintahpun ikut dengan agenda yang telah direncanakan sebelumnya, seperti takbiran akbar dan silaturrahmi nasional yang telah diagendakan pada senin (23/10), mau tidak mau agenda tersebut harus dilaksnakan pada hari senin karena jauh-jauh hari telah dipersiapkan sebelumnya.
Kebijakan pemerintah yang menetapkan hari selasa sebagai hari iedul fitri bukan semata-mata karena perhitungan munculnya hilal, untuk tahun ini pemerintah lebih berpikir politis dan hebatnya telah terkooptasi dengan kapitalisme dunia pertelevisian yang menggaungkan lebaran jatuh pada hari selasa.
Kejadian seperti ini, justru memperlihatkan intevensi pemerintah dalam kehidupan umat beragama justru akan menyesatkan umat beragama itu sendiri.
Banyak yang berguman, jika benar hilal sudah muncul pada minggu (22/10) petang, maka selayaknya pemerintah yang menanggung dosa umat karena melaksanakan puasa pada hari tazrik ( hari yang diharamkan puasa, 1 & 2 Syawal )
Bukan saja pemerintah yang harus menanggung dosa tersebut, namun dunia pertelevisianpu harus bertanggungjawab jika kebenaran hari lebaran justru jatuh pada hari senin (23/10). Setidaknya perlwanan yang dilakukan oleh PWNU Jatim yang tidak mengikuti fatwa PBNU untuk berlebaran pada hari selasa membuka pikiran kita untuk mengakaji kebenaran akan hari Iedul Fitri tahun ini.
Kita bisa menerima perbedaan, namun jangan sampai perbedaan tersebut justru dilatarkanbelakangi untuk mempertahankan ego dan hanya karena untuk memuluskan agenda yang telah ditetapkan sebelumnya.
Jakarta, 25.10.06
Arh
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda