Kita terlahir untuk menjadi anak negeri dengan beban hutang yang terus menumpuk bahkan semakin bertambah hanya dengan polemic bunga pinjaman tak terpikirkan.
Seratus hari pemerintahan SBY – JK sungguh diharapkan untuk melahirkan perubahan besar, bahkan rakyat menanti penuh harap akan sebuah hasil nyata dari sebuah proses kampanye panjang yang akhirnya mengantarkan SBY-JK memimpin sebuah negeri yang dirundung beribu masalah. Harapan itu begitu nyata, sampai-sampai banyak dari rakyat kita menganggap jika sudah melewati seratus hari pemerintahan SBY-JK maka janji-janji Kampaye tidak akan bisa ditindaklanjuti kembali. Dalam pandangan objective, berbagai survey dan polling mengungkap kenyataan, bahwasanya SBY-JK tidak memenuhi harapan masyarakat bahkan harapan dari partai yang mengusung SBY-JK sendiri meragukan komitmen dan kemampuan duet kepimpinan tersebut dapat berbuat banyak demi perubahan yang selalu didengungkannya.
Harus diakui kita juga terlahir untuk menjadi anak negeri yang sangat ahli untuk mengkritik apa saja, bahkan bentuk binatang yang sama sekali belum kita ketahui sudah ada dalam benak kita untuk mengkritisinya. Sangat wajar dalam benak kita bahwa kritikan itu lahir dari sebuah proses panjang yang memberikan pengalaman pada diri kita, bahwa kebijakan yang ada di negeri yang disebut untaian katulistiwa syarat dengan muatan lips service. Muatan lips Service ini pula tak disadari menulari sebagian kaum pemikir, kaum pembaharu yang acapkali senang disebut aktivis. Lahirlah sebuah komunitas baru “kritiker” yang hanya bisa berucap, mencaci bahkan tak sudi menerima hasil jika belum sempurna seratus persen. Tanpa muatan politis yang mendorongnya label “lips service” yang ada dijajaran aparat negara, kini menempel pada kaum aktivis dengan muatan baru “Omdo” alias omong doang. Dan payahnya banyak dari kita setelah dihadapkan dengan realita acapkali gagap untuk mencari solusi akan realita tersebut.
Sebuah kemenangan bisa dicontohkan dari perilaku saudara tua kita yang berhasil menjajah kita selama 3,5 tahun. Mereka adalah sebuah bangsa dengan budaya banyak kerja sedikit berbicara. Hasil luar biasa, kehancuran Hiroshima dan Nagasaki akibat Bom Atom dapat dijawabnya dengan menunjukkan kerja keras dalam bentuk nyata. Begitu juga dengan bangsa lain yang baru-baru ini mengalami krisis moneter. Perbedaannya bangsa kita masih berkutat sebatas konsep “seharusnya”. Sedangkan bangsa lain sudah mulai menunjukkan kinerja dan keluar dari krisis yang menderanya.
Sobatku….apa yang anda sebutkan bahwa pemerintahan SBY-JK dalam seratus hari ini “Cuma pepesan kosong” ada benarnya. Namun kita sudah sangat lelah dengan maraknya penilaian, komentar, bahkan caci maki yang terus menerus. Kita senang mencari korban dibandingkan untuk menyokong korban yang tambah bingung untuk melangkah. Kita pandai beretorika tanpa memikirkan dampak dari retorika tersebut, kita pandai menganalisis sehingga melahirkan pengamat tiap minggunya. Bahkan kita sanggup mengganti pemimpin yang ada meskipun kita sendiri belum memahami siapa diri kita.
Apa yang diungkapkan oleh seorang Einstein sang Jenius “ Otak kita baru digunakan sepuluh persen”, loh…….selebihnya kemana ? sembilan puluh persen ternyata kita gunakan untuk memikirkan hal-hal negative yang justru akan mempengaruhi kejiwaaan kita.
Tak bisa dipungkiri, seseorang melangkah akan terpatri dari sebuah nukleos yang melekat dalam dirinya yang disebut “pikiran”. Pikiran laksananya sebuah computer super canggih, dia bisa mengarahkan siapa saja untuk menapaki apa yang ada dalam pikirannya.
Tidak juga dipungkiri, kita adalah generasi yang gemar memainkan issue dan wacana, sampai-sampai otak kita tidak bisa menampung wacana yang terus berkembang dan menumupuk. Dalam tahapan teori, level issue ternyata berada dalam peringkat terbawah setelah Noise. Level Reality itu mengurut : Noise, Issue, Fact, Data, Information, Knowledge dan Wisdom. Untuk mencapai tingkat wisdom kita masih jauh sebelum memahami diri kita sendiri, karena kunci untuk mengapai semua itu adalah “pahami dirimu”. Pengertian “pahami dirimu” cukup lengket dengan pemahaman spiritual untuk lebih bisa memahami dan mengenali siapa Tuhanmu.
Kita tidak akan disebut banci jika dalam diri kita terpatri “Wisdom”, Wisdom is Inner Value system is the Ultimate Truth. Wisdom / Kearifan adalah prinsip dasar untuk mengapai derajat universal yang bisa diterima seluruh komponen.
Dalam melihat kita gemar menyembunyikan fakta, dalam mendengar kita gemar menyembunyikan nurani dan dalam mengkritisi kita lemah menyajikan solusi tekhnis dan futuristic. Kita gemar melihat kebelakang dan berjalan mundur untuk terus berkutat dengan permasalahan.
Pepesan kosong bukan hanya dialamatkan kepada SBY dan aparat negara lainnya, kita juga layak disebut pepesan kosong, meskipun kita marah atas nama Demokrasi, Kebebasan mengemukakan pendapat, dan seabrek label penguatannya lainnya yang kita anggap Halal berada dipundak kita.
Dalam lembaran pengalaman, barisan “kritiker” biasanya gagap jika sudah masuk dalam system, pada akhirnya senjata makan tuan. Berapa banyak barisan “kritiker” yang justru bingung ketika dihadapkan dengan realita dan lingkungan barunya, dalam kamus teoritis semua bersifat ideal, namun dalam konsep pragmatis ternyata jauh lebih sulit dari teori yang dituliskan pemikir.
Seratus hari SBY – JK memang belum memuaskan semua pihak, namun alangkah indahnya jika pikiran kita untuk mengarahkan 1725 hari tersisah untuk bersama-sama menyalurkan energy positif demi mencapai tujuan yang kita harapkan.
Semenjak Reformasi bergulir kita gemar saling mencaci maki, namun ternyata caci maki tersebut tidak merubah kondisi yang ada. Justru kita terpuruk dalam kontes “masturbasi” ego. Sebelum menjadi politisi kita menyebut diri universalis, setelah menjadi politisi kita menjadi primordialis, Dalam berkotbah kita menyebut diri katalis namun keseharian kita tak lebih dari provokatif. Keseharian kita bangga disebut idealis dalam tingkah laku kita cendrung opportunies, dalam berkata kita kaya dengan teoritis namun dalam perbuatan kita miskin akan pragmatis.
Kita miskin untuk memberikan gerak pada seseorang untuk mengadakan perubahan, padahal perubahan yang diinginkan oleh Bangsa ini tidak semudah membalikkan tangan. Pemimpin kita bukanlah malaikat yang bisa mengubahnya dalam seratus hari. Lebih dari 32 tahun bangsa ini didokrin dengan muatan Orde Baru, dan Hampir 7 tahun kita mengalami Reformasi yang justru terjemahannya jauh dari harapan penggagas perubahan. Yang lebih hebatnya dalam nuansa Reformasi perilaku bangsa ini sebagai bangsa terkorup makin meluas. Korupsi yang tadinya berada dalam lingkup Eksekutif kini malah membajiri kalangan Legeslatif dan Yudikatif. Sebuah pertanyaan konyol “Apakah semua ini buah dari kekritrisan kita?”. Waallahualam…….
Kita membutuhkan sentuhan spritualisme untuk merubah kondisi yang ada, kita mempunyai Intelektual dan Emosional namun justru lemah dalam Spritualisme itu sendiri. Jika disatukan bukan mustahil “Wisdom” akan menyinari diri kita.
Hutang anak cucu kita bukan hanya Materi yang ditinggalkan oleh para Koruptor namun hutang kita juga adalah sikap kita untuk mau bersikap dan berperilaku “Wisdom”.
You Can If You Think You can.
Jakarta, 04 Januari 2005
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda