Tangis tak menjawab permasalahan yang kita hadapi, kita tidak bisa menyalahakan siapa-siapa melainkan harus mau membedah diri tentang apa yang kita perbuat selama ini.
Dosa kolektif lebih tepat mengiringi belasungkawa atas apa yang menimpa Indonesia. Terpikir akan baru lepas dari kemerdekaan, kini kita dihadapkan dalam beribu persoalan yang tak bisa diduga sama sekali. Tuhan Maha tahu akan apa yang ditakdirkan buat Hambanya.
Sejenak apa yang hadir selama ini dalam bentuk bencana, acapkali kita tafsirkan sebagai jawaban Tuhan akan perilaku kita selama ini. Kita terus berpolemik mengapa justru Tuhan marah pada sebuah negara yang sudah porak poranda karena ulahnya sendiri. Kita belum puas dengan apa yang dihadirkan penguasa, kembali pada kenyataan yang bukan pilihan kita “Indonesia Berkabung”.
Akan lebih afdol jika menempatkan diri kita pada titik kesadaran terendah untuk mengikis karat-karat melekat yang terkooptasi dalam jiwa kita. Layaknya bayi yang baru lahir, kita fitri untuk menyerap tinta-tinta positif untuk melangkah lebih baik.
Semua bisa berbangga dengan Demokrasi yang saat ini sedang dilakoni oleh sebuah negara berdaulat Indonesia, ibaratnya kita melompat 300 tahun kedepan jika bisa lulus dalam ujian ini. Sebaliknya kita akan menjadi bangsa bar-bar jika masih berkutat sebatas orasi tanpa mau memahami kondisi pragmatis.
Runtutan peristiwa mengawali pemerintahan baru yang dibangga disebut DwiTunggal saat kampanye berlangsung. Banyak yang menafsirkan runtutan peristiwa adalah tumbal untuk menebus kemenangan yang dicapai oleh penguasa baru.
Paranormal, orang pintar bahkan pengamat memprediksi peristiwa yang sebagai pertanda pemimpin yang dan tidak direstui maha kuasa. Wallahualam…..
Nyatanya adminstrasi dilingkup Kepresiden begitu mengkuatirkan, sampai –sampai sejarah baru ditoreh oleh lembaga Kepresidenan dengan mengeluarkan Keputusan wakil presiden, dan kejadian ini mungkin merupakan yang pertama kalinya di negara berdaulat ini.
Genderang Kampaye Dwi Tunggal makin memudar, yang nampak justru Dwi Kepemimpinan dengan harapan memperoleh simpati yang luas. Melangkah pada dukungan kekuasan, Kabinet yang sebelumnya mempunyai oposisi kini redup dengan perselingkuhan tingkat tinggi. Sebuah akuasisi kebijakan dan kekuasan bisa dilakoni oleh penguasa untuk mendapatkan dukungan penuh dari parlemen dan parpol yang mbalelo. Hasilnya tarik ulur kehadiran Dwi Kepemimpinan melahirkan lakon baru yang cukup memprihatinkan. Yang nampak bukan lagi sebuah drama karena kenyataannya drama tidak mengorbankan realitas. Sebuah film pun sulit ditafsirkan karena pemainnya rata-rata berkeprebadian ganda. Sebuah negara jika dianggap sebagai teater pementasan sudah tentu perlu penonton untuk menyemarakkannya. Disini rakyat masih sumir apakah akan berperan sebagai penonton atau mereka justru terlibat sebagai peran. Sangat lucu menghapa harus berlaku sebagai penonton padahal panggung itu barada pada wilayah kita sendiri. Sebagai peranpun sangat mungkin dipertanyakan, seberapa besar dapat mempengaruhi alur cerita dan scenario yang telah disusun actor-aktor intelektual.
Kita adalah bangsa yang gemar menyenangi diri sendiri, istilahnya bisa dikonotasikan sebagai politik masturbasi, kita adalah bangsa yang senang merampas hak yang bukan milik, kerennya disebut Kleoptokrasi, Kita adalah bangsa yang geram disebut Koruptor, kerennya disebut Naif. Dan kita adalah bangsa ingin disebut perkasa untuk menyenangi diri sendiri itupun layak kita sebut kebiasaan onani. Beribu istilah layak untuk ditempelkan pada punggung bangsa ini yang saat ini membungkuk, dan kian hari makin membungkuk sehingga suatu hari kita akan merangkak karena beban yang terlalu berat.
Lelah mencari panutan kebangsaan, dan kita sangat miskin dengan nilai yang ditanamkan pendiri bangsa akan sebuah nilai kebangsaan. Banyak yang menyalahkan sejarah yang ditulis dengan kebohongan sehingga melahirkan generasi-generasi mandul dalam berkerasi. Namun kita lupa tulisan-tulisan itu hanya sebuah perangkat untuk menambah memory dalam otak kita, pilihannya kembali pada diri sendiri. Mengapa pula bangsa lain bisa bangga dengan kebangsaannya ? padahal mereka sama-sama lahir dengan kita sebagai bangsa yang berbudaya. Kita adalah bangsa yang ingin terlalu cepat untuk meniru apa yang telah diraih bangsa lain. Padahal mereka telah meletakkan dasarnya pada ratusan tahun yang lalu.
Kita berbangga dengan nilai kebangsaan tatkala orang asing dan tentara asing ada dalam wilayah kita. Luncunya sikap kebangsaan tersebut untuk mencurigai aktivitas social yang sedang dijalankannya demi meringankan beban saudara kita di Aceh dan Sumut.
Kebangsaan kita luntur tatlaka pahlawan Devisa diusir dari negeri Jiran karena dianggap manusia Illegal. Dan kebanggsaan kita dilacuri dengan banjirnya barang-barang asing yang murah meriah menyerbu sampai pelosok desa. Kita tetap sebagai bangsa kuli dan konsumen, sebiji penitupun wajib kita impor.
Tsunami baru melanda setitik daratan diujung Sumatera, Tzunami keras akan menluncur dan akan lebih parah dibandingkan dengan Tzunami 26 Desember lalu. Tzunami ini adalah perilaku bangsa ini yang berjumlah lebih dari 200 juta Jiwa. Gelombang tsunami maha dahsyat bisa jadi akan menjadi sebuah kenyataan jika kita masih beronani dengan prinsip-prinsip ketidakjelasan dan kebanggaan semu.
Program seratus hari yang dicanangkan Penguasa terpilih melahirkan sikap apatisme bahwa perubahan akan sulit dilaksanakan. Kemenangan ternyata masih berpihak pada barisan Status Quo, mereka bertepuk dada melihat mandulnya program seratus hari SBY.
Kita akan terus berkabung, bahkan tetesan air mata tersebut akan menguras energy yang ada dalam diri kita. Lamban laun kita kurus dan mati tanpa daya.
Jakartat, 26 Januari 2005
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda