Senin, 01 September 2008

Mercusuar Peradaban, “Hidup dan pikiran Bung Hatta”

. Senin, 01 September 2008

“Suatu masa besar dilahirkan abad, tetapi masa besar itu menemui manusia kerdil”. Kutipan dari penyair besar Jerman “Schiller” mempertegas nurani Bung Hatta merasakan kepedihan dan kekecewaan terhadap Soekarno yang menyimpang dari demokrasi yang dicita-citakan. Hatta adalah sosok fenomental dalam masanya dan berlanjut ketika bangsa ini dirasuki kepedihan akan cobaan yang tak henti-hentinya. Kerangka dasar pikiran Hatta untuk mempertegas bangsa ini sebagai bagian bangsa yang mandiri diilhami oleh keinginan sebagai anak bangsa untuk keluar dari cengkraman penjajahan Belanda. Nurani itu terus menggelana menerobos sekat – sekat imperialisme yang pada akhirnya titik itu terfokus pada alur sejarah yang tak mungkin terhapus “ Proklamasi” 17 Agustus 1945.


Dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, tanggal 12 Agustus 1902 dari pasangan Muhammad Djamil – Saleha. Kakek Bung Hatta dari pihak ayahnya, Datuk Syekh Abdurrahman, merupakan ulama besar yang mendirikan surau di Batu Hampar dekat Bukittinggi. Nama Hatta sendiri diambil dari nama seorang penyair terkenal Persia ( Iran ), Fariduddin al Aththar, yang juga terkenal sebagai tokoh Sufi. Hatta kecil yang mulanya dipanggil Attar yang secara harfiah berarti parfum merupakan nama dari sang penyair tersebut. Ucapan Minangkabau akhirnya mengubah nama Attar menjadi Hatta, yang sampai saat ini terus melekat dalam benak kita.
Satu Abad Bung Hatta jatuh pada senin 12 Agustus 2002 merupakan refleksi bagi kita untuk menggali gagasan serta pikirannya yang selama ini diabaikan oleh penguasa. Hidup dan pikiran Hatta yang begitu dinamis tidak bisa dilihat berdiri sendiri, namun perlu dirangkaikan sebagai dialektika perkembangan sejarah Bangsa ini. Sebagai proklamator dan tokoh Bangsa yang disegani, Hatta dan Indonesia ibarat sebuah sejarah yang saling terkait satu sama lainya. Hatta menciptakan sejarah, dan sejarah mempengaruhi Hatta. Kontras dalam aksinya ternyata Hatta menciptakan perubahan, bukan perubahan yang menciptakan Hatta.
Hatta dalam kiprahnya sebagai pejabat negara selalu menakankan pentingnya Demokrasi, ekonomi kerakyatan yang berbasis pada koperasi, pendidikan politik dan politik luar negeri yang bebas aktif.
Hatta adalah negarawan bagi bangsanya disebabkan oleh sosoknya, karakternya, visinya, dan komitmennya terhadap Bangsa ini, merupakan hikmah yang sangat berarti bagi generasi muda Indonesia dalam manapaki persaingan abad XXI.
Pergelokan intelektual Hatta sebagai pemimpin bagi rakyatnya tercermin dalam Pasal 33 UUD 1945. Penegasan akan isi dari pasal tersebut disajikan dalam sebuah tulisan yang sangat monumental “Ekonomi Indonesia di Masa Depan”. Tulisan yang merupakan pidato Bung Hatta sebagai wakil Presiden RI yang disampaikan pada Konferensi Ekonomi Indonesia di Yokyakarta tahun 1946. Pidato ini merupakan penafsiran asli dari pasal 33 UUD 1945 secara Yuridis – Historis. Pidato ini mencerminkan cita – cita para pendiri kemerdekaan diawal kemerdekaan RI, dan bahkan mencerminkan suasana batin murni sesuai dengan nuraninya, situasi dan kondisi yang mewarnai titik tolak dan pandangan yang sangat jauh bagi cita-cita bangsa ini. Hatta seharusnya ditempatkan sebagai gurunya “John Naisbitt” karena 56 tahun yang lalu, Hatta telah membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul saat ini.
Tiga hal menjadi penekanan Hatta yang umumnya menentukan perekonomian suatu negeri, yaitu Pertama, kekayaan tanahnya; kedua, kedudukannya terhadap negeri lain dalam lingkungan internasional; ketiga, sifat dan kecakapan rakyatnya, sedangkan untuk Indonesia ada tambahan sebagai unsur keempat, yaitu sejarahnya sebagai bekas tanah jajahan. Tambahan unsur keempat sangat relevan dengan saat ini, karena apa yang kita lakukan acapkali melupakan dimensi sejarah, sehingga pemikiran ekonomi Indonesia saat ini, lebih cendrung mengejar nilai tambah ekonomi ( GNP ) tanpa mengejar nilai tambah kultural yang menjiwainya. Yang pada akhirnya menempatkan kebijakan konglomerasi sebagai bagian perencanaan masa depan bangsa ini, hasilnya kehancuran dalam waktu yang sangat singkat. Menempatkan sejarah sebagai bagian perencanaan ekonomi erat sekali dengan upaya untuk melibatkan rakyat Indonesia kedalam lapisan masyarakat dengan harkat dan martabat terhormat yang tidak lagi tersubordinasi, yaitu dengan jalan restrukturisasi ekonomi untuk kemajuan perekonomian rakyat kebanyakan.
Penegasan Bung Hatta dalam pidatonya tahun 1946 ini, bahwa tujuan kita bukanlah untuk meneruskan dasar ekonomi kolonial, yaitu memajukan “ekspor ekonomi”. Menurut Bung Hatta “sistem ekspor ekonomi” adalah keliru, ini memutar ujung menjadi pangkal”. Penegasan ini sangat menarik jika dikaitkan dengan perekonomian Indonesia saat ini. Kebijakan pemerintah untuk mendorong ekspor ternyata melupakan hal-hal fundamental yang seharusnya dipenuhi sebagai kebutuhan pokok didalam negeri. Sejarah baru tertoreh Indonesia menjadi negara terbesar pengimpor Beras dunia. Kebijakan pemerintah yang menitikberatkan pemenuhan kebutuhan ekspor memberikan ketergantungan baru akan bahan baku yang sebagian besar di Impor sampai –sampai mengandung import content mencapai 90%. Nilai tambah bagi Indonesia hanyalah hitungan kecil dibandingkan nilai yang dibayarkan oleh kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh produk dalam negeri.
Dr. Sritua Arief secara konsepsional dan empiris telah mengambil kesimpulan mantap, yakni seperti terbukti dalam dunia ketiga, bahwa sebenarnya bukanlah ekspor yang mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri, tetapi pertumbuhan ekonomi dalam negerilah yang mendorong ekspor.
Ketergantungan Indonesia akan barang Impor semakin menguat disaat daya saing produk dalam negeri tidak bisa mengimbangi produk luar negeri, kenyataan ini merupakan akumulasi dari kebijakan yang tidak memandang ekonomi rakyat sebagai basis pembangunan Indonesia, yang pada akhirnya kue terbesar ekonomi dipegang oleh para konglomerat. Ambruknya ekonomi bangsa ini merupakan kesalahan kolektif dari kebijakan salah yang justru mewarisi dasar ekonomi kolonial.
Pemikiran Hatta dalam memberikan solusi terbaik bagi bangsanya adalah mengajukan kebijaksanaan ekonomi yang bertumpu pada “mempertinggi tenaga beli rakyat” didalam negeri.
Penekanan lain dalam pidato Bung Hatta adalah bahwa perekonomian Indonesia yang kita hadapi meliputi tiga hal pokok, pertama, soal ideologi, yaitu bagaimana mengadakan susunan ekonomi yang sesuai dengan cita-cita tolong menolong. Kedua, soal praktik, yaitu politik perekonomian apa yang praktis dan perlu dijalankan segera. Ketiga, soal koordinasi, yaitu bagaimana mengatur pembangunan perekonomian Indonesia supaya pembangunan itu sejalan dan bersambung dengan pembangunan dunia. Butir ketiga ini mengambarkan Hatta telah memikirkan kedepan tentang masalah globalisasi ekonomi, atau paling tidak mengajukan suatu sistem interdependensi ekonomi internasional dan sistem ekonomi terbuka.
AFTA 2003 sudah diambang mata, globalisasi yang diperkirakan Hatta ternyata menjadi kenyataan, namun kita belum siap untuk berkompetisi secara bijak dalam globalisasi tersebut. Indonesia hanya akan menjadi konsumen terbesar dari era globalisasi saat ini, keterkaitan antara kemampuan bangsa ini untuk menciptakan daya saing yang memadai ternyata ambruk seiring dengan krisis moneter yang mendera sejak lima tahun lalu.
Konsep tolong menolong yang dicita-citakan oleh Bung Hatta di Jabarkan dengan pendirian Koperasi yang sudah tentu akan menitikberatkan peran serta masyarakat dalam menjalankan roda perekonomian bangsa ini. Orientasi kerakyatan yang kuat dalam diri Bung Hatta melahirkan keinginannya agar di tiap-tiap keresidenan didirikan Bank Industri Rumah. Keingginan ini dasari untuk membantu rakyat mendapat perumahan yang layak. Hatta melihat kediaman rakyat harus menjadi tempat hidup yang bersinar bagi seluruh rakyat. Dalam rumah Indonesia ini tertanam dasar untuk menghargai kebudayaan. Usaha untuk membangun perumahan rakyat ini tidak dapat diserahkan kepada pengusaha yang hanya mengejar keuntungan belaka, namun seharusnyalah negara dengan mempekerjakan rakyatnya secara gotong royong membangun perumahan tersebut. Untuk menjalankannya sudah tentu membutuhkan permodalan yang cukup sehingga ada baiknya didirikan Bank Industri Rumah yang bisa mendukung pembangunan perumahan rakyat tersebut.
Visi Hatta yang bertumpu pada kerakyatan seandai dijalankan oleh penguasa niscya nasib negara ini tidak akan separah apa yang kita alami saat ini. Tenggelamnya Visi ini diakibatkan oleh egonya penentu kebijakan yang berpedoman pada konsep kapitalisme. Padahal konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia.
Industrialisasi yang dikonsepkan oleh Hatta sebenarnya bukanlah Industrialisasi yang saat ini berjalan. Hatta menginginkan Industrialisasi mesti ditempuh secara berangsur-angsur, tetapi di Indonesia tidak boleh mengabaikan dasarnya yang asli, yaitu negeri agraria. Penghidupan rakyat mestilah pertanian. Hatta tidak mengingkan ketergantungan hasil pertanian kepada negara lain.
Orientasi kerakyatan yang dikembangkan oleh Bung Hatta agar menjadi pandangan hidup pemuda dalam perjuangan mereka, seperti halnya kutipan dalam pembelaan dirinya di muka mahkamah Belanda di Den Haag pada tahun 1928, berjudul Indonesia Merdeka, :
“….Pemuda Indonesia adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisah dari bangsa Indonesia, yang menderita dan berharap. Ia adalah juru bicara perasaan rakyat, ia adalah jiwanya yang menggelora, yang memberi warna kepada masa depan. Cahaya merah di langit masa datang sudah mulai kelihatan di waktu sekarang. Kami mengucapkan salam kepada fajar yang mulai menyingsing. Pemuda Indonesia ikut mengemudikan arah ke jurusan yang dikehendaki. Kewajibannya ialah mempercepat datangnya hari baru. Ia bertugas untuk mengajar bangsa kami mengecap lezatnya kesenangan hidup, bukan hanya kesengsaraan yang harus menjadi bebannya……”

Basis Kepribadian
Hatta adalah sosok monumental baik ditinjau dari intelektualnya maupun dari sosok pribadinya. Dengan sikap yang santun, jujur, hemat dan menghargai budaya asalnya Hatta digambarkan bagaikan seorang Sufi oleh seorang pemikir Islam Indonesia “Nurkholid Majid”. Adalah kenyataan paradox ketika kita mensejajarkan Hatta dengan beberapa Tokoh nasional yang telah berkecimpung dalam pemerintahan maupun diluar pemerintahan. Memang banyak dari tokoh kita yang mempunyai ide cemerlang terhadap masa depan bangsa ini namun kenyataannya sikap dan tingkah laku mereka tidak mencerminkan buah pikir yang ditelorkan.
Bukan mustahil generasi muda Indonesia akan terjebak pada paradigma yang banyak dianut oleh pelaku penentu kebijakan dinegara kita. Sikap dasar sebagai manusia malah terabaikan dengan banyaknya kepentingan sesaat yang sengaja ditutupi oleh keintelektualan mereka.
Kharisma Hatta sebagai kaum Sufi tidak akan luntur oleh perputaran waktu. Kebenaran akan tetap harum meskipun waktu jualah yang akan membangkitkan nilai-nilai kebenaran tersebut.
Suri tauladan Bung Hatta sebagai rakyat biasa setelah beliau lepas dari pejabat pemerintahan mencerminkan kerendahan hati yang sangat menonjol. Kesempatan untuk mendapatkan materi yang lebih banyak sebenarnya berpeluang pada Bung Hatta, namun Bung Hatta tidak tersentuh dengan godaan tersebut yang justru bisa menjerumuskan nurani pada dosa.
Sosok Hatta menjadi ancaman dikala penekanan kepentingan penguasa bertumpu pada kelompok mereka, itu telah terbukti pada dua generasi presiden RI yaitu Soekarno dan Soeharto.
Kerendahan hati Bung Hatta tercermin dengan sikapnya yang patriot untuk mengundurkan diri dari kedudukan wakil presiden RI. Hatta memandang sikap Soekarno saat itu telah berubah dibandingkan dengan sikap Soekarno diawal perjuangan dulu. Dwi tunggal itu kini terpisah dan Bung Hatta menjadi rakyat biasa namun tetap peduli terhadap masa depan bangsanya.
Pergumulan retorika dan sikap menjadi bahan perdebatan saat ini, ketika kita mencari sikap dasar manusia yang jujur, sopan, ramah. Apa yang muncul kepermukaan adalah hubungan situasional terhadap keinginan yang ingin diraih, pada akhirnya kita terpuruk dalam permainan sikap yang penuh dengan lipstik. Itulah ciri khas yang dimainkan oleh generasi saat ini. Kembali kefitrah manusia yang seharusnya mengandalkan keselerasan hubungan duniawi dan akherat, maka generasi muda Indonesia melahirkan renaisance baru terhadap masa depan bangsa ini, jika kesimbangan tersebut bisa dicapai.
Keteladanan Hatta sebagai seorang tokoh bangsa dan rakyat biasa bukan Hanya terbekas dalam literatur bacaan dan hapalan akan bacaan tersebut. Genarasi muda indonesia harus memulai dari hal terkecil untuk meneladani seorang Hatta. Berawal dari kesadaran diri niscaya apa yang diniatkan akan tercapai, yang sudah tentu akan membawa kemaslahatan bagi bangsa ini. Marilah kita berpegang pada kebenaran, melihat apa adanya, dan mengatakan apa adanya, menemukan kebenaran, berbicara benar dan hidup dalam kebenaran. Memang sulit untuk mengamalkan sebuah doktrin kebenaran, tapi itu akan terlaksana jika ada yang mengamalkannya. Dimulai dari diri sendiri niscaya kampaye kebenaran ini akan menjadi bola es yang bisa mengangkat keterpurukan bangsa ini dari berbagai krisis.
Apa yang telah terjadi di negeri kita ini merupakan rangkaian prilaku kolektif dari penguasa yang tidak berkaca pada nurani, siapa yang dirugikan sudah tentu rakyat biasa yang senantiasa selalu menerima beban terberat dari kebijakan yang salah.
Apa yang menjadi pemikiran Hatta tentang pemuda Indonesia yang tak bisa dipisahkan dari bangsa Indonesia merupakan tantangan yang harus dijawab dengan bukti, bukan dengan retorika. Generasi terdahulu kita sudah terlalu ahli dalam berotorika namun miskin dalam pencapaian hasil yang berumpu pada kepentingan rakyat. Beban itu kini berpindah pada generasi muda, yang kita perlukan adalah sikap arif untuk bisa melihat kenyataan riil tentang apa yang telah terjadi dinegeri tercinta ini. Janganlah kita menambah beban Bung Hatta di alam baka’nya, karena justru perilaku yang kita toreh tidak lebih baik dari perilaku pendahulu – pendahulu kita.
Cita – citan luhur bung Hatta tentang masa depan bangsa ini ternyata terdesak oleh sikap rakus, konsumerisme, suka pamer, praktek korupsi, kolusi dan nepotisme ( KKN ) sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup didunia. Obsesi Hatta luntur karena pemimpin dan elit –elit politik bangsa ini hanya mengejar cita – cita semu yang menguntungkan pribadi dan kroni mereka. Kejujuran, kesederhanahan menjadi barang mahal untuk didapatkan dinegara yang terkenal dengan budaya ramahnya ini.
Generasi muda Indonesia akan bisa menghadapi persaingan diabad XXI jika bercermin pada sejarah masa lalu dan berani menempatkan obsesi untuk menjadikan Indonesia masa depan yang lebih baik.
“Nothing is permanent except change. Change is a continuing process – not an event.” Tidak ada hal permanen kecuali perubahan. Perubahan adalah suatu proses yang berlanjut – bukan suatu peristiwa.

Bandung, 18 August 2002
Arif Hidayat

1 komentar:

andreas iswinarto mengatakan...

mari jalankan ajaran Bung Hatta

Kebusukan Kapitalisme Neoliberal, semakin telanjang!

Di tingkat global setelah kisah krisis air, krisis iklim, krisis minyak, krisis pangan, kini krisis finansial naik panggung, Paradoksnya jalan krisis itu terus ditempuh. Masih saja mekanisme pasar dan korporasi dianggap solusi yang menjanjikan. Ironi abad ini, rasionalitas yang irasional. Rasionalitas yang paling tidak masuk akal.

It’s the capitalism, stupid! (adaptasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)

Silah kunjung
Krisis Keuangan Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datara
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/krisis-keuangan-global-karl-marx-di.html

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com