Senin, 01 September 2008

Kebenaran

. Senin, 01 September 2008

"Marilah kita berpegang pada kebenaran,melihat apa adanya dan mengatakan apa adanya, menemukan kebenaran, berbicara benar dan hidup dalam kebenaran”.


Amat langkah menemukan pribadi yang menjunjung kebenaran dalam hidupnya, padahal kemaslahatan hidup ini akan terjiwai dengan nilai – nilai dari sebuah kebenaran. Kebenaran merupakan hakekat yang mendalam dari sebuah renungan nurani. Acapkali kebenaran tidak dapat menampakkan diri dalam bentuk kemenangan dimana nilai-nilai kebenaran itu menjadi ancaman pada lingkungan yang menafikkannya. Dimata pencipta-NYA kebenaran akan tetap menjadi pedoman penting sebagai pedoman yang harus dijalankan oleh Hambanya. Tapi lacur dikata, kebenaran akan terlihat salah meskipun benar karena keintelektualan seorang manusia.
Kebenaran akan menjadi relatif ketika sudut pandang yang berbeda sebagai teropongnya. Dalam pandangan seorang Bupati Sumbawa mungkin kasus pemukulan seorang guru oleh Burhanuddin Salengke, adalah hal yang wajar dan tidak menyalahi hukum yang berlaku. Dilain pihak korban pemukulan tetap melihat apa yang dilakukan oleh Burhanuddin Salengke merupakan kesalahan fatal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang pejabat pemerintahan. Korelasi pandangan yang berbeda ini akan bisa dipertemukan dalam satu koridor keadilan yang diberi tempat sebuah pengadilan. Disinilah kebenaran bisa terungkap jika nurani penegak hukum berpihak pada patron hukum yang berlaku. Ujian bagi aparat penegak hukum akan bergitu terasa dikala yang diperdebatkan sebagai terdakwa merupakan bagian dari lingkaran kekuasaan daerah yang menancapkan kukunya bagaikan sebuah dinasti kerajaan. Kembali kepada niat seorang hamba, apa yang kita ucapkan dan kita yakini benar dan itu masih sejalan dengan aturan baku maka penafsiran kebenaran akan tidak bisa dilepaskan begitu saja dari ucapan qalbu. Sudah tentu kebenaran akan menjadi bias dikala pembelaan diri begitu kuat untuk tidak mengakui apa yang telah kita lakukan itu salah atau benar.
Rangkaian kejadian menarik menghiasi bulan – bulan berlalu, kasus dihukumnya anak dari presiden Korea merupakan upaya untuk menegakkan kebenaran. Kesadaran akan pemahaman hukum ternyata tidak memberikan tempat untuk memanipulasi hukumnya yang ada menjadi sebuah komoditas keluarga. Apa yang terjadi di Indonesia khususnya di Sumbawa, kekuasaan merupakan jalan terbaik untuk membendung hukum tersebut menyentuh keluarga besar sang penguasa. Sangat bertolak belakang dengan upaya kita untuk menegak tujuan dari reformasi yang salah satunya menegakkan fungsi hukum disegala bidang. Disinilah penafsiran relatif bagi sebuah kebenaran terbukti, kepentingan penguasa menjadi dominan dibandingkan dengan upaya menunjukkan suri tauladan yang lebih baik dalam penegakkan hukum.
Biasnya nilai kebenaran di Sumbawa merupakan upaya kolektif untuk menjadikan lingkungan pengambil kebijakan menjadi sebuah candradimuka KKN. Keterkaitan ini sangat erat untuk mempertahankan diri dan upaya untuk meraih apa yang perlu didapatkan semasa kekuasaan itu masih ada. Kolektifitas pola pikir ini melahirkan persaingan yang kuat untuk mendapatkan keuntungan dari sebuah peluang. Dan malah peluang itu sengaja diciptakan demi meraih keuntungan yang lebih besar. Kolektifitas ini akan menggejala menjadi pembenaran terhadap nilai-nilai non baku yang setidaknya bertentangan dengan kaidah, etika dan moralitas. Masa inilah yang disebut sebagai masa kegelapan, karena yang menyeru kebenaran akan dianggap sebagai pribadi gila yang hanya menghabiskan energy dengan khotba picisannya.
Sebuah generasi yang kehilangan gairah kebenaran akan lahir jika perilaku generasi yang berkuasa saat ini masih mempertahankan pola pikir kebenaran yang dianutnya. Akan sangat sulit untuk membentuk generasi yang amanah jika tingkah laku generasi penguasa tak lebih dari penyamun kebenaran.
Sumbawa saat ini merupakan ladang ujian bagi aparat penegak hukum untuk menunjukkan kebenaran. Bukan rahasia lagi intervensi penguasa ( Bupati dan Kroninya ) merupakan rintangan yang cukup berat untuk menunjukkan wajah hukum yang sebenarnya. Akan sangat berbahaya jika aparat penegak hukum di Sumbawa terbawa dengan arus permainan penguasa Sumbawa. namun masih ada harapan yang besar bahwa hukum di Sumbawa akan masih ditegakkan, meskipun belum menunjukkan taring yang kokoh.
Kasus pemukulan BS terhadap seorang guru yang sampai saat ini belum tuntas merupakan tantangan bagi aparat penegak hukum untuk menunjukkan kebenaran. Kita tidak menginginkan Sumbawa sebagai panggung Senayan, dengan kemampuan Lobi keputusan hukum akan dikalahkan oleh keputusan politis. Perjuangan untuk menegakkan kebenaran pasti akan ada pendukungnya, langkah untuk tetap mengangkat kasus pemukulan ini dijalur hukum merupakan pendidikan politik yang sangat berguna bagi masyarakat Sumbawa. pendidikan politik ini akan menjadi kemenangan hukum atau hanya sebagai keputusan sampah, keputusannya akan berada ditangan penegak hukum.
Setiap perjuangan sudah tentu ada resikonya, itulah nilai yang harus dibayar untuk menggulirkan kebenaran.

Bandung, 20 Agustus 2002
Arif Hidayat

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com