Senin, 01 September 2008

Komitmen

. Senin, 01 September 2008

Tiba – tiba saya menerima SMS dari orang yang telah saya kenal sebelumnya isinya “ Bahwa si ‘A’ akan diganti sebagai Wakil rakyat di gedung terhormat, si “A” tidak menerima dan meminta bantuan saya untuk mengerahkan massa”. Kemudian penulis membalasnya : “Apa anda tidak kapok dengan komitmen abu-abu yang selalu dijanjikan oleh si ‘A’, sudah berapa waktu, tenaga dan biaya yang anda keluarkan untuk mewacanakan dan sekaligus mengerahkan massa agar si ‘A’ tetap bertahan dikursinya, hasilnya upaya anda tetap dianggap kerja sosial setelah bantuan itu anda berikan ?

Acapkali kita selalu meremehkan hal – hal kecil dan sederhana dalam keseharian, seseorang tidak akan jatuh ketika menabrak sebuah unggukan batu yang besar, sebaliknya seseorang akan jatuh ketika ia terantuk dengan sebuah benda kecil yang tidak diperhatikannya. Komitmen akan menghasilkan sebuah perubahan besar jika perilaku kita searah dan seimbang dengan apa yang kita ucapkan. Hilangnya arah pembangunan saat ini tak lain diakibatkan oleh memudarnya komitmen para pemegang amanat untuk menjalankan apa yang telah digariskan. Sebaliknya komitmen akan menjadi strategi jitu untuk diungkap ketika pertama kali sebuah program diluncurkan, yang sudah tentu nilai komitmen ini hanyalah pepesan kosong. Kondisi ini menempatkan komitmen sebagai bagian dari strategi untuk menaruh harapan dari para pendukung serta masyarakat yang dijadikan object kampanyenya.
Komitmen merupakan kepercayaan yang harus dijalankan, balasan tidak menjalankan sebuah komitmen sebenarnya masih terlalu sukar untuk diterjemahkan dalam proses penegakan hukum yang fair. Nilai ukur yang riel jika komitmen dilanggar sudah tentu kembali pada diri sendiri yaitu tanggung jawab moral.
Ketika seorang pemimpin tidak komit lagi dengan amanat yang dijalankannya, maka kepercayaan rakyat terhadapnya sudah tentu berkurang bahkan akan melakukan perlawanan. Jika kondisi wilayah mengarahkan rakyat menjadi sebuah candradimuka “ABS” asal bapak senang, maka komitmen menjadi sebuah kalimat sakral yang akan disimpan rapat-rapat agar tidak muncul kepermukaan. Kepercayaan hilang itulah hasil dari tidak komitnya seseorang.
Saya teringat dengan cerita seorang petani dari Tanah Sumbawa, kondisi perekonomian yang corat marut melahirkan ide untuk menulis sebuah surat kepada Tuhan, adapun isi surat petani tersebut “ Tuhan, aku telah berusaha semaksimal mungkin, namun panenku gagal, aku telah berhutang jutaan rupiah, dan kini malah seseorang yang aku cintai menderita sakit, anakku semata wayang terpaksa berhenti sekolah karena ketidakadaan biaya. Tuhan…aku memohon kepadamu untuk memberikanku uang sebanyak satu juta rupiah”. Surat itupun diserahkan ke kantor pos. Petugas pos melihat surat yang ditujukan kepada Tuhan berpikir keras kemana seharusnya surat tersebut dikirim. Iapun teringat kepada peristiwa 3 tahun yang lalu ketika para calon Bupati memaparkan visinya, semuanya berkomitmen untuk membantu rakyatnya. Petugas pos yang menaruh iba tersebut lalu mengirimkan surat petani itu ke Bupati terpilih. Sang Bupatipun berusaha memenuhi permintaan sang petani, dalam waktu singkat sang Bupati berhasil mengumpukan uang sebanyak delapan ratus ribu rupiah yang selanjutnya diberikan ke sang petani. Dengan terharu petani tersebut mengucapkan syukur atas bantuan Tuhan yang telah dikiriminya surat, namun sang petani memprotes kepada Tuhan, kanapa uang tersebut harus dikirim lewat seorang Bupati yang nyata-nyatanya telah memotong uang tersebut sebanyak dua ratus ribu rupiah.
Cerita diatas menghantarkan pengembaraan kita pada sebuah ucapan yang telah diucapkan, acapkali apa yang telah kita ucapkan akan hilang begitu saja. Petugas pos yang menerawangkan pikirannya kemasa lalu menemukan memori sebuah komitmen yang telah diucapkan maka iapun menterjemahkan pada upaya menyelesaikan persoalan orang lain. Sebaliknya sang petani melihat kenyataan yang ada didaerahnya, penyelewengan dana pembangunan serta seabrek kolusi dan nepotisme mematrikan memorinya bahwa sesuatu yang dititipkan / diamanatkan melalui pemimpin pemerintahan setempat sudah pasti tidak akan sesuai dengan permintaan dan harapan rakyatnya. Komitmen yang disia-siakan pemimpin daerah selama ini mendorong sang petani untuk bersikap negatif terhadap apa yang diterimanya meskipun itu berasal dari sang Bupati bukan dari Tuhan.
Komitmen merupakan sebuah bola es yang menggunung dan berantai, orang yang menjalankan komitmen senantiasa akan bisa diterima dimana saja, sebaliknya yang tidak berkomitmen senantiasa akan selalu menjadi bahan pergunjingan.
Penulis teringat dengan seorang rekan Doktor ilmu pemerintahan asal Sumbawa yang saat ini mengabdi di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri ( STPDN ), rekan penulis melihat Pergantian Antar Waktu ( PAW) anggota legeslatif yang saat ini banyak kontraversi seyokyanya didasarkan pada sebuah Komitmen awal. Apapun yang terjadi semasa jabatan itu sedang berlangsung dan akan digantikan seharusnya dapat diterima dengan lapang dada. Politik etis yang dijalankan harus mencerminkan komitmen awal meskipun dalam perjalanannya dukung mendukung mengalir untuk tetap mempertahankan anggota legeslatif bersangkutan.
Memang sangat menyakitkan untuk menjalankan sebuah komitmen dengan utuh, kepentingan pribadi, kelompok merupakan dorongan yang kuat untuk membiaskan makna sebuah komitmen. Komitmen seorang Kepala Daerah ketika mulai menduduki posisi Jabatan tersebut untuk mengedepankan kepentingan rakyat seharusnya dijalankan. Bukan dipolitisi untuk kepentingan terbatas. Ketika masa pemerintahannya berjalan ternyata komitmen semula tidak dijalankan maka timbul komitmen baru dari sang pemimpin daerah untuk tidak lagi mencalonkan diri sebagai Pemimpin Daerah periode mendatang. Sebuah komitmen yang menarik ketika upaya koreksi diri bisa menyentuh nurani, namun apa yang terjadi masa suksesi Pemimpin Daerah beberapa tahun lagi, kasak kusuk pembentukan sebuah Tim sukses malah menjadi agenda mendesak.
Perilaku ini ternyata menjamur dipermukaan Bumi Indonesia yang mengklaim dirinya dalam era reformasi, bukan hanya dipulau Jawa diluar pulau jawapun perilaku diatas lebih ekstrem dilakukan.
Apakah anda menjadi bagian dari dongeng diatas ? mungkin ya mungkin tidak. Sudah pasti yang merasa dirinya tercermin dalam tulisan ini akan membuat telinganya memerah….. mari kita membuat sebuah teka – teki “Siapakah Dia ?” hadiahnya sebuah komitmen membela nurani rakyat….sssssssttt rakyat yang mana ? gelap ach.

Bandung, 30 Agustus 2002
Arif Hidayat

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com