Kenangan akan terbekas ketika pertama kali berjumpa, baik buruk tingkah laku seseorang akan terlihat dimanapun dia berada, karena sikap dan sifat akan muncul sebagai kondisi bathin.
Segar dalam ingatan kita, tepatnya Sabtu 20 Juli 2002 bertempat di Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ) – Jakarta, kabupaten Sumbawa mengadakan pegelaran seni dan budaya dengan berbagai paket yang ditawarkan. Di balik acara yang terlihat sukses tersebut ternyata mneyimpan karakter yang sebenarnya akan pola kepempimpinan Latif Majid. Kondisi ini tercoreng dengan tingkah laku seorang peninjau Burhanuddin AR Salengke ( BS ) yang saat ini berstatus Camat Brang Rea.
Kejadian bermula ketika perbincangan Bang Yar ( Ikasum Jaya ), Mansyur, S.H ( RKM NTB ) dua orang rekannya serta penulis didepan gerbang anjungan NTB. Kebetulan 3 rekan dari RKM NTB itu berasal dari Bima yang saat ini berdomisili di Jakarta pusat. Perbincangan yang membahas tentang acara pergelaran seni malam itu belum juga dimulai meskipun pukul 20.00 WIB telah lewat. Inti pokok dari pembicaran saat itu tentang sikap seorang pemimpin - Bupati Sumbawa yang ditunggui oleh undangan yang datang, tapi seharusnya seorang pemimpin harus sudah berada di tempat acara sesuai dengan waktu undangan yang tertera pukul 19.00 Wib. Pembicaraan mengarah pada masih dilestarikannya sikap feodalisme yang terbukti pada malam tersebut dengan sengajanya Latif Majid datang setelah undangan telah menunggunya sejam lebih. Malah salah seorang dari Ikasum Jaya mengatakan “ karakter ini sudah mengarah pada Feodal diatas feodal”. Tanpa diduga dengan lantangnya sebuah suara menyeru “Siapa yang menyebut Latif Majid Feodal !” dengan sikap arogan, orang yang kami tak kenal sebelumnya langsung memarahi tamu dari Bima yang mewakili RKM NTB- Jakarta ( Rukun keluarga masyarakat – NTB ), ungkapan senonoh yang tak seharusnya keluar malah menggambarkan sikap kampungan yang tak perlu dipertontonkan dikhalayak ramai. Korban caci maki Burhanuddin Salengke, dengan tenangnya menahan emosi dan malah menyarankan kalau ingin buat masalah jangan ditempat ini, karena akan mencoreng nama Sumbawa saja. Dengan arogan BS mengatakan “ Kalau ingin jadi preman jangan menyingung-nyingung Latif Majid”, diapun mengungkapkan bahwa dirinya di Sumbawa merupakan Cowboy yang cukup disegani. Sangat disayangkan BS melihat pembicaraan tentang feodal sama sekali tidak mengambarkan karakter dari Latif Majid yang sangat kontravesi. Padahal saat itu pukul 20.15 WIB Latif Majid baru tiba setelah ditunggu oleh para undangan yang terdiri dari warga IKASUM jaya, RKM NTB, Duta besar beserta perwakilannya serta banyak undangan khusus lainnya yang telah berdatangan semenjak pukul 19.00 Wib.
Kejadian yang berlangsung kurang lebih sepuluh menit tersebut cukup menyadarkan penulis bahwa kondisi kepempimpinan di Sumbawa cukup kronis, kepemimpinan yang tidak didasari oleh keprofesioanalisme melahirkan arogansi yang berlebihan untuk menunjukkan kemampuan yang lipstik.
Jarak Sumbawa – Jakarta yang cukup jauh ternyata tidak menentramkan Latif Majid sebagai Bupati Sumbawa, sehingga sangat perlu membawa seorang peninjau yang berkarakter Tukang Pukul. Apa jadinya Sumbawa andaikata kejadian di Jakarta tersebut malah setiap hari terjadi di Sumbawa. Lembaga Hukum pasti akan dianggap sebagai lembaga serimonial yang sangat tidak mungkin akan mneyentuh kekuasaan Latif Majid. Apa yang telah ditoreh di Sumbawa dengan sikap dan Sifat BS ternyata memberikan gambaran yang jelas kepada kita bahwa kasus pemukulan guru, mabuk di Kafe pelabuhan Balat serta masih banyak perilaku yang sangat bertentangan dengan Budaya lokal malah mendapat perlindungan dari Latif Majid.
Nama baik seorang pemimpin bukan hanya ditentukan oleh prilaku dan kebijakan pribadi dari seorang pemimpin, namun lingkungan disekeliling pemimpin tersebut itulah yang akan menjadikan pemimpin tersebut disegani atau malah nantinya akan dicaci maki oleh rakyatnya. Kondisi kepempinan Sumbawa yang dilingkari oleh lingkungan Tukang pukul niscaya akan menyeret sejarah kepemimpinan Latif Majid tercoreng. Yang harus kita ingat karakter masyarakat Sumbawa yang masih paternalistik akan memberikan efek negatif untuk mengembangkan sikap kepemimpinan demokratis dalam tataran hukum yang berlaku. Bisa jadi sebagian anggota masyarakat akan menggunakan metode yang sama seperti halnya Latif Majid untuk membetengi dirinya dari berbagai kejanggalan dengan mempergunakan tukang pukul.
Apa yang menjadi momok bagi pemimpin saat ini bahwa setelah kekuasaannya habis maka segala kemungkinan akan terbalik, bisa jadi sentuhan hukum yang saat ini belum mengarah pada lingkungan Latif Majid semasa jabatannya habis malah akan dikejar-dikejar oleh pelanggaran yang pernah dilakukannya. Mungkin itu harapan kita. Meskipun sikap skeptis masih menyelimuti kita akan tidak mempannya Hukum terhadap Lingkaran Latif Majid tapi angin perubahan niscaya akan mendukung pada kebenaran. Apa yang terjadi saat ini upaya untuk memindahkan mantan-mantan pelaku ORBA ke Hotel Prodeo ( Penjara ) sudah menampakkan hasil meskipun belum terlalu mengembirakan. Dua tahun kedepan bisa digunakan untuk menarik napas panjang dalam mempersiapkan segala bukti yang mendukung pelanggaran dan penyalahgunaan wewenang yang telah diamanatkan khususnya pada lingkaran Bupati – bupati pertikelir Sumbawa.
Berkaca pada apa yang telah dilakukan oleh mantan Presiden RI, Soeharto ternyata dewa kekuasaan itu akan ada batasnya. Kita melihat keluarga Cendana diobok – obok oleh arus yang menginginkan perubahan bisa jadi kondisi serupa akan terlaksana di Sumbawa setelah masa kekuasaan Latif Majid berakhir. Ingat tidak akan ada yang abadi selama semua itu direncanakan dan dilaksanakan oleh manusia. Semua mempunyai batas toleransinya.
Pendekatan Latif Majid untuk melindungi BS dari berbagai ulah negatif yang ditimbulkannya merupakan hal yang merisaukan kita semua. Karena bagaimanapun Bangkai ditutup baunya pasti akan keluar menyengat. Status sebagai seorang camat ternyata sama sekali tidak mengubah karakternya, malah dengan sengaja Latif Majid mempergunakan tokoh agama setempat untuk tetap melindungi sang keluarga besar.
Sangat disayangkan, sikap feodal dianggap tidak ada, padahal harapan terbesar dari kami jika sikap feodal itu ada maka yang sudah tentu perubahan yang diinginkan. Kondisi pola pikir seorang BS sangat mustahil merubah Sumbawa kearah lebih baik, apa lagi merubah apa yang perlu dilakukan oleh Latif Majid selaku Bupati Sumbawa. seandainya kondisi seperi ini tetap dipertahankan oleh Latif Majid sudah tentu hasil yang didapatkan tak ubahnya menjadikan Sumbawa sebagai Zaman purbakala.
Pertemuan yang tak disengaja dengan BS di TMII tersebut merupakan pertemuan pertama kalinya, meskipun BS dan penulis belum pernah saling mengenal, tapi setidaknya pembenaran akan perilaku negatif yang telah dilakukan di Sumbawa ternyata memberikan bukti yang kuat akan karakter yang tidak bisa dihilangkan. Bisa jadi kejadian malam itu akan menjadi sebuah generalisasi pola kepimpinan di Sumbawa dengan otot bukan dengan otak. Sungguh tragedis ….Nauzubillah………..!
”Your attitude is a little thing but it makes a big diffrence.” Sikap anda merupakan hal kecil, tetapi itu menghasilkan perbedaan besar.
Bandung, 28 July 2002
Arif Hidayat
Kejadian bermula ketika perbincangan Bang Yar ( Ikasum Jaya ), Mansyur, S.H ( RKM NTB ) dua orang rekannya serta penulis didepan gerbang anjungan NTB. Kebetulan 3 rekan dari RKM NTB itu berasal dari Bima yang saat ini berdomisili di Jakarta pusat. Perbincangan yang membahas tentang acara pergelaran seni malam itu belum juga dimulai meskipun pukul 20.00 WIB telah lewat. Inti pokok dari pembicaran saat itu tentang sikap seorang pemimpin - Bupati Sumbawa yang ditunggui oleh undangan yang datang, tapi seharusnya seorang pemimpin harus sudah berada di tempat acara sesuai dengan waktu undangan yang tertera pukul 19.00 Wib. Pembicaraan mengarah pada masih dilestarikannya sikap feodalisme yang terbukti pada malam tersebut dengan sengajanya Latif Majid datang setelah undangan telah menunggunya sejam lebih. Malah salah seorang dari Ikasum Jaya mengatakan “ karakter ini sudah mengarah pada Feodal diatas feodal”. Tanpa diduga dengan lantangnya sebuah suara menyeru “Siapa yang menyebut Latif Majid Feodal !” dengan sikap arogan, orang yang kami tak kenal sebelumnya langsung memarahi tamu dari Bima yang mewakili RKM NTB- Jakarta ( Rukun keluarga masyarakat – NTB ), ungkapan senonoh yang tak seharusnya keluar malah menggambarkan sikap kampungan yang tak perlu dipertontonkan dikhalayak ramai. Korban caci maki Burhanuddin Salengke, dengan tenangnya menahan emosi dan malah menyarankan kalau ingin buat masalah jangan ditempat ini, karena akan mencoreng nama Sumbawa saja. Dengan arogan BS mengatakan “ Kalau ingin jadi preman jangan menyingung-nyingung Latif Majid”, diapun mengungkapkan bahwa dirinya di Sumbawa merupakan Cowboy yang cukup disegani. Sangat disayangkan BS melihat pembicaraan tentang feodal sama sekali tidak mengambarkan karakter dari Latif Majid yang sangat kontravesi. Padahal saat itu pukul 20.15 WIB Latif Majid baru tiba setelah ditunggu oleh para undangan yang terdiri dari warga IKASUM jaya, RKM NTB, Duta besar beserta perwakilannya serta banyak undangan khusus lainnya yang telah berdatangan semenjak pukul 19.00 Wib.
Kejadian yang berlangsung kurang lebih sepuluh menit tersebut cukup menyadarkan penulis bahwa kondisi kepempimpinan di Sumbawa cukup kronis, kepemimpinan yang tidak didasari oleh keprofesioanalisme melahirkan arogansi yang berlebihan untuk menunjukkan kemampuan yang lipstik.
Jarak Sumbawa – Jakarta yang cukup jauh ternyata tidak menentramkan Latif Majid sebagai Bupati Sumbawa, sehingga sangat perlu membawa seorang peninjau yang berkarakter Tukang Pukul. Apa jadinya Sumbawa andaikata kejadian di Jakarta tersebut malah setiap hari terjadi di Sumbawa. Lembaga Hukum pasti akan dianggap sebagai lembaga serimonial yang sangat tidak mungkin akan mneyentuh kekuasaan Latif Majid. Apa yang telah ditoreh di Sumbawa dengan sikap dan Sifat BS ternyata memberikan gambaran yang jelas kepada kita bahwa kasus pemukulan guru, mabuk di Kafe pelabuhan Balat serta masih banyak perilaku yang sangat bertentangan dengan Budaya lokal malah mendapat perlindungan dari Latif Majid.
Nama baik seorang pemimpin bukan hanya ditentukan oleh prilaku dan kebijakan pribadi dari seorang pemimpin, namun lingkungan disekeliling pemimpin tersebut itulah yang akan menjadikan pemimpin tersebut disegani atau malah nantinya akan dicaci maki oleh rakyatnya. Kondisi kepempinan Sumbawa yang dilingkari oleh lingkungan Tukang pukul niscaya akan menyeret sejarah kepemimpinan Latif Majid tercoreng. Yang harus kita ingat karakter masyarakat Sumbawa yang masih paternalistik akan memberikan efek negatif untuk mengembangkan sikap kepemimpinan demokratis dalam tataran hukum yang berlaku. Bisa jadi sebagian anggota masyarakat akan menggunakan metode yang sama seperti halnya Latif Majid untuk membetengi dirinya dari berbagai kejanggalan dengan mempergunakan tukang pukul.
Apa yang menjadi momok bagi pemimpin saat ini bahwa setelah kekuasaannya habis maka segala kemungkinan akan terbalik, bisa jadi sentuhan hukum yang saat ini belum mengarah pada lingkungan Latif Majid semasa jabatannya habis malah akan dikejar-dikejar oleh pelanggaran yang pernah dilakukannya. Mungkin itu harapan kita. Meskipun sikap skeptis masih menyelimuti kita akan tidak mempannya Hukum terhadap Lingkaran Latif Majid tapi angin perubahan niscaya akan mendukung pada kebenaran. Apa yang terjadi saat ini upaya untuk memindahkan mantan-mantan pelaku ORBA ke Hotel Prodeo ( Penjara ) sudah menampakkan hasil meskipun belum terlalu mengembirakan. Dua tahun kedepan bisa digunakan untuk menarik napas panjang dalam mempersiapkan segala bukti yang mendukung pelanggaran dan penyalahgunaan wewenang yang telah diamanatkan khususnya pada lingkaran Bupati – bupati pertikelir Sumbawa.
Berkaca pada apa yang telah dilakukan oleh mantan Presiden RI, Soeharto ternyata dewa kekuasaan itu akan ada batasnya. Kita melihat keluarga Cendana diobok – obok oleh arus yang menginginkan perubahan bisa jadi kondisi serupa akan terlaksana di Sumbawa setelah masa kekuasaan Latif Majid berakhir. Ingat tidak akan ada yang abadi selama semua itu direncanakan dan dilaksanakan oleh manusia. Semua mempunyai batas toleransinya.
Pendekatan Latif Majid untuk melindungi BS dari berbagai ulah negatif yang ditimbulkannya merupakan hal yang merisaukan kita semua. Karena bagaimanapun Bangkai ditutup baunya pasti akan keluar menyengat. Status sebagai seorang camat ternyata sama sekali tidak mengubah karakternya, malah dengan sengaja Latif Majid mempergunakan tokoh agama setempat untuk tetap melindungi sang keluarga besar.
Sangat disayangkan, sikap feodal dianggap tidak ada, padahal harapan terbesar dari kami jika sikap feodal itu ada maka yang sudah tentu perubahan yang diinginkan. Kondisi pola pikir seorang BS sangat mustahil merubah Sumbawa kearah lebih baik, apa lagi merubah apa yang perlu dilakukan oleh Latif Majid selaku Bupati Sumbawa. seandainya kondisi seperi ini tetap dipertahankan oleh Latif Majid sudah tentu hasil yang didapatkan tak ubahnya menjadikan Sumbawa sebagai Zaman purbakala.
Pertemuan yang tak disengaja dengan BS di TMII tersebut merupakan pertemuan pertama kalinya, meskipun BS dan penulis belum pernah saling mengenal, tapi setidaknya pembenaran akan perilaku negatif yang telah dilakukan di Sumbawa ternyata memberikan bukti yang kuat akan karakter yang tidak bisa dihilangkan. Bisa jadi kejadian malam itu akan menjadi sebuah generalisasi pola kepimpinan di Sumbawa dengan otot bukan dengan otak. Sungguh tragedis ….Nauzubillah………..!
”Your attitude is a little thing but it makes a big diffrence.” Sikap anda merupakan hal kecil, tetapi itu menghasilkan perbedaan besar.
Bandung, 28 July 2002
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda