Suksesi adalah kenyataan wajar dikala masa jabatan seseorang berakhir, bukan mustahil dengan adanya Suksesi ini akan muncul calon – calon pemimpin baru yang selama ini dikenal dalam lingkup terbatas. Suksesi akan dianggap sebagai bayangan menakutkan bagi penguasa saat ini yang masih memegang tampuk jabatan yang akan di suksesikan, lahirlah upaya untuk tetap melanggeng posisi yang sebelumnya akan berakhir. Suksesi acapkali selalu bersinggungan dengan posisi “politis” dan memerlukan dukungan politis dari berbagai komponen untuk mencapai jabatan tersebut. Akan halnya jabatan struktural yang merupakan rangkaian promosi jabatan kata Suksesi seringkali kurang tepat.
Dihadapan masyarakat NTB dalam tahun – tahun mendatang Suksesi mulai ramai dibicarakan, tiga etnis berbeda mulai melayangkan nama-nama bakal calon gubernur dan wakilnya. Ditambah dengan semarak untuk mengukuhkan bargaining beberapa calon dalam lintas etnik yang berbeda. Apa yang terjadi adalah menghilangkan perbedaan etnisitas dengan kepentingan yang sama, langkah ini mengambarkan kenyataan positif jika perilaku bermasyarakat akan bisa diterapkan dalam konsep egaterian.
Berkaca dalam tahun-tahun disaat orde baru berkuasa dan awal reformasi digaungkan, calon – calon Gubernur dan pemimpin daerah acapkali berasal dari lingkungan Birokrat dan Militer. Kenyataan ini cukup signifikan dengan agenda politis yang masih dikuasai oleh partai politik tertentu akan power mereka untuk mendudukkan sang pemimpin daerah. Kenyataan ini memberikan gambaran bahwa pola birokrasi dengan pemikiran birokrasi masih sulit lepas dari para politisi daerah. Akibatnya perubahan daerah masih terbatas slogan yang hanya mementingkan kepentingan birokrat, tanpa bisa mengimbangi perubahan global yang sangat cepat.
Pecahnya telur paradigma lama ini setidaknya tercermin oleh mulai munculnya beberapa pemimpin daerah yang berasal dari Profesional yang umumnya berkecimpung di Wiraswasta. Seperti Gubernur Riau dan Gorontalo kedua pemimpin daerah tersebut benar-benar berasal dari Profesional. Gubernur Gorontalo yang baru – baru ini muncul dengan berbagai polemik ternyata di pegang oleh pengusaha Nasional asal daerah tersebut “ Fadel Muhammand”. Bagaimana dengan NTB ? gaung profesional untuk tampil menjadi orang nomor satu di NTB mulai mengkristal dari berbagai komponen dan daerah. Dari suku sasak salah seorang Profesional yang bergerak di Bidang travel wisata muncul dengan tawaran menarik akan perubahan di NTB.
Gegapnya bursa calon orang nomor satu di NTB ini mulai terlihat dalam dua suku yang berbeda yaitu Sasak dan Mbojo. Sasak banyak menampilkan wajah-wajah baru sebagai calon Gubernur NTB, sedangkan Mbojo sendiri masih menyodorkan Harun Al Rasyid gubernur NTB sekarang sebagai calon kuat mereka. Sumbawa dengan latar belakangnya sebagai masyarakat terbuka masih melihat peluang yang mungkin bisa dimainkan.
Suara berbagai komponen mulai muncul untuk menampilkan beberapa figur dari Birokrat Sumbawa seperti A. Kafi di Mataram, Latif Majid dan H.B. Thamrin Rayes di Sumbawa, Saruji Masnirah di Bandung dan Wahid Salim di Jakarta. Dan mungkin beberapa nama birokrat asal Sumbawa akan muncul kepermukaan seiring dengan makin semaraknya nama-nama Calon Gubernur dari dua etnis lainnya.
Dilain pihak beberapa komponen Sumbawa mulai melirik alternatif lain sebagai sebuah solusi akan masa depan NTB, dengan jalan memunculkan figur Profesional sebagai bakal calon Gubernur NTB perode mendatang. Sudah tentu profesional yang diunggulkan merupakan SDM Sumbawa yang sudah menunjukkan kapabilitasnya pada profesi yang sudah digelutinya selama ini. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menginvetaris profesional asal Sumbawa yang berhasil di Pulau Jawa, namun masih sedikit dari mereka yang berhasrat dan telah membuktikan darma baktinya bagi Sumbawa. salah seorang profesional yang saat ini cukup mendapat pengakuan global akan kapabilitasnya di mata Investor asing dan nasional adalah Malik Salim yang saat ini bergabung di PT. Newmont Nusa Tenggara sebagai Senior External Manager. Cukup wajar jika masyarakat menilai kapabilitas seorang Malik Salim yang sebelumnya pernah memegang jabatan posisi strategis di Hitachi dan Hexindo.
Timbul sebuah pertanyaan, perubahan apa bagi NTB jika seorang profesional yang memimpinnya ? kembali kepada peran dan peluang yang dimainkan pada penerapan Otonomi Daerah, kemampuan daerah untuk bisa tetap Survive harus diimbangi dengan besarnya Investasi yang masuk kedalam daerah tersebut. Yang sudah tentu NTB saat ini selalu berada dalam hitungan buncit ( terakhir ) dalam banyak hal sehingga membutuhkan sebuah proses re-engginering untuk bisa keluar dari penilain yang ada. Konsep Kaizen dengan perubahan sedikit demi sedikit akan tergilas oleh makin reaktifnya daerah lain dalam menarik investasi kedaerahnya. Kondisi NTB saat ini memerlukan keberanian dari berbagai pihak untuk mendobrak paradigma lama bahwa NTB harus dipimpin dari kalangan Birokrat semata. Sudah tentu solusi yang bisa disodorkan adalah peluang seorang profesional untuk menjadi orang nomor satu di NTB akan memungkin menjadi akar dari solusi masa depan NTB itu sendiri. Menggarisbawahi pada batasan profesional, sebenarnya format apa yang dibutuhkan bagi NTB ? yang dibutuhkan adalah seorang profesional yang bukan hanya bermain dalam tataran lokal dan nasional. Tapi kita sudah saatnya membutuhkan seorang profesional yang mempunyai jaringan luas dalam tataran global. Kondisi ini dibutuhkan karena di Indonesia masih dibutuhkan kerjasama intensif dengan pihak luar ( non Indonesia ) baik dari segi Investasi, hubungan dagang maupun transformasi Tekhnologi dan pengetahuan.
Demam untuk menampilkan seorang Profesional sebagai pemimpin daerah bukan hanya dilirik oleh NTB, daerah lain seperti Jakarta, Jawa Barat dan berbagai daerah yang akan mengadakan Suksesi kepemimpinan juga mengincar profesional asal daerahnya untuk menjadi orang nomor satu.
Apa yang dikatakan oleh seorang Herman Kertjaya sebagai seorang konsultan dari Mark Plus di Jokja beberapa hari yang lalu, bahwa pemimpin daerah saat ini sudah selayaknya menyandang posisi CEO ( Chief Executive Officer ) bagi daerahnya. Kata CEO sendiri lebih hangat dikenal di dunia profesional ( swasta ). Untuk menjadi seorang CEO dibutuhkan beragam pengalaman, pengetahuan dan wawasan yang sangat mendukung bagi dunianya. Sudah tentu CEO yang diharapkan bagi daerah adalah mereka yang mempunyai kemampuan global memadai dan telah teruji.
Bagi Sumbawa salah seorang calon CEO NTB sudah dimilikinya yang memang saat ini juga berkiprah secara langsung di NTB khususnya perannya di Newmont Nusatenggara.
Bandung, 18 July 2002
Arif Hidayat
Berkaca dalam tahun-tahun disaat orde baru berkuasa dan awal reformasi digaungkan, calon – calon Gubernur dan pemimpin daerah acapkali berasal dari lingkungan Birokrat dan Militer. Kenyataan ini cukup signifikan dengan agenda politis yang masih dikuasai oleh partai politik tertentu akan power mereka untuk mendudukkan sang pemimpin daerah. Kenyataan ini memberikan gambaran bahwa pola birokrasi dengan pemikiran birokrasi masih sulit lepas dari para politisi daerah. Akibatnya perubahan daerah masih terbatas slogan yang hanya mementingkan kepentingan birokrat, tanpa bisa mengimbangi perubahan global yang sangat cepat.
Pecahnya telur paradigma lama ini setidaknya tercermin oleh mulai munculnya beberapa pemimpin daerah yang berasal dari Profesional yang umumnya berkecimpung di Wiraswasta. Seperti Gubernur Riau dan Gorontalo kedua pemimpin daerah tersebut benar-benar berasal dari Profesional. Gubernur Gorontalo yang baru – baru ini muncul dengan berbagai polemik ternyata di pegang oleh pengusaha Nasional asal daerah tersebut “ Fadel Muhammand”. Bagaimana dengan NTB ? gaung profesional untuk tampil menjadi orang nomor satu di NTB mulai mengkristal dari berbagai komponen dan daerah. Dari suku sasak salah seorang Profesional yang bergerak di Bidang travel wisata muncul dengan tawaran menarik akan perubahan di NTB.
Gegapnya bursa calon orang nomor satu di NTB ini mulai terlihat dalam dua suku yang berbeda yaitu Sasak dan Mbojo. Sasak banyak menampilkan wajah-wajah baru sebagai calon Gubernur NTB, sedangkan Mbojo sendiri masih menyodorkan Harun Al Rasyid gubernur NTB sekarang sebagai calon kuat mereka. Sumbawa dengan latar belakangnya sebagai masyarakat terbuka masih melihat peluang yang mungkin bisa dimainkan.
Suara berbagai komponen mulai muncul untuk menampilkan beberapa figur dari Birokrat Sumbawa seperti A. Kafi di Mataram, Latif Majid dan H.B. Thamrin Rayes di Sumbawa, Saruji Masnirah di Bandung dan Wahid Salim di Jakarta. Dan mungkin beberapa nama birokrat asal Sumbawa akan muncul kepermukaan seiring dengan makin semaraknya nama-nama Calon Gubernur dari dua etnis lainnya.
Dilain pihak beberapa komponen Sumbawa mulai melirik alternatif lain sebagai sebuah solusi akan masa depan NTB, dengan jalan memunculkan figur Profesional sebagai bakal calon Gubernur NTB perode mendatang. Sudah tentu profesional yang diunggulkan merupakan SDM Sumbawa yang sudah menunjukkan kapabilitasnya pada profesi yang sudah digelutinya selama ini. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menginvetaris profesional asal Sumbawa yang berhasil di Pulau Jawa, namun masih sedikit dari mereka yang berhasrat dan telah membuktikan darma baktinya bagi Sumbawa. salah seorang profesional yang saat ini cukup mendapat pengakuan global akan kapabilitasnya di mata Investor asing dan nasional adalah Malik Salim yang saat ini bergabung di PT. Newmont Nusa Tenggara sebagai Senior External Manager. Cukup wajar jika masyarakat menilai kapabilitas seorang Malik Salim yang sebelumnya pernah memegang jabatan posisi strategis di Hitachi dan Hexindo.
Timbul sebuah pertanyaan, perubahan apa bagi NTB jika seorang profesional yang memimpinnya ? kembali kepada peran dan peluang yang dimainkan pada penerapan Otonomi Daerah, kemampuan daerah untuk bisa tetap Survive harus diimbangi dengan besarnya Investasi yang masuk kedalam daerah tersebut. Yang sudah tentu NTB saat ini selalu berada dalam hitungan buncit ( terakhir ) dalam banyak hal sehingga membutuhkan sebuah proses re-engginering untuk bisa keluar dari penilain yang ada. Konsep Kaizen dengan perubahan sedikit demi sedikit akan tergilas oleh makin reaktifnya daerah lain dalam menarik investasi kedaerahnya. Kondisi NTB saat ini memerlukan keberanian dari berbagai pihak untuk mendobrak paradigma lama bahwa NTB harus dipimpin dari kalangan Birokrat semata. Sudah tentu solusi yang bisa disodorkan adalah peluang seorang profesional untuk menjadi orang nomor satu di NTB akan memungkin menjadi akar dari solusi masa depan NTB itu sendiri. Menggarisbawahi pada batasan profesional, sebenarnya format apa yang dibutuhkan bagi NTB ? yang dibutuhkan adalah seorang profesional yang bukan hanya bermain dalam tataran lokal dan nasional. Tapi kita sudah saatnya membutuhkan seorang profesional yang mempunyai jaringan luas dalam tataran global. Kondisi ini dibutuhkan karena di Indonesia masih dibutuhkan kerjasama intensif dengan pihak luar ( non Indonesia ) baik dari segi Investasi, hubungan dagang maupun transformasi Tekhnologi dan pengetahuan.
Demam untuk menampilkan seorang Profesional sebagai pemimpin daerah bukan hanya dilirik oleh NTB, daerah lain seperti Jakarta, Jawa Barat dan berbagai daerah yang akan mengadakan Suksesi kepemimpinan juga mengincar profesional asal daerahnya untuk menjadi orang nomor satu.
Apa yang dikatakan oleh seorang Herman Kertjaya sebagai seorang konsultan dari Mark Plus di Jokja beberapa hari yang lalu, bahwa pemimpin daerah saat ini sudah selayaknya menyandang posisi CEO ( Chief Executive Officer ) bagi daerahnya. Kata CEO sendiri lebih hangat dikenal di dunia profesional ( swasta ). Untuk menjadi seorang CEO dibutuhkan beragam pengalaman, pengetahuan dan wawasan yang sangat mendukung bagi dunianya. Sudah tentu CEO yang diharapkan bagi daerah adalah mereka yang mempunyai kemampuan global memadai dan telah teruji.
Bagi Sumbawa salah seorang calon CEO NTB sudah dimilikinya yang memang saat ini juga berkiprah secara langsung di NTB khususnya perannya di Newmont Nusatenggara.
Bandung, 18 July 2002
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda