Selamat Datang di Kabupaten Sumbawa Barat ! Selamat Datang di Kongres Rakyat Sumbawa Barat !
Spanduk itu terpampang di jalan protokol, dimulut kota sampai selebaran pamplet yang tertempel dikaca bus antar kota.Sumbawa Barat merupakan gerbang penghubung Kabupaten Sumbawa dengan pulau lombok. Pertumbuhan ekonomi setidaknya menunjukkan daerah ini akan menjadi raksasa yang sedang menggeliat. Sederet investor telah dan akan berinvestasi di wilayah Sumbawa Barat yang sudah tentu diharapkan akan menambah gairah pertumbuhan di yang wilayah ini.
Kembali pada kilas balik beberapa tahun belakangan ini, Gaung pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat sudah menggema baik ditataran lokal, regional maupun nasional. Bola ini bergulir dan mendapat lampu hijau dari pemerintah propinsi.
Tepatnya sehari setelah pemilihan Bupati Sumbawa, Deklarasi Pembentukan Sumbawa Barat dilakukan di Kecamatan Taliwang. Latar belakang Deklarasi ini tidak lain karena faktor politis belaka. Apa yang menjadi kenyataan salah seorang Calon Bupati yang berasal dari daerah Taliwang merupakan harapan goalnya calon tersebut sebagai Kepala Daerah. Proses adalah Demokrasi, rakyat tidak bisa mengklaim dan memvonis bahwa jago mereka harus dan pasti terpilih. Sikap Demokrat di tunjukkan oleh Calon tersebut. Untuk menghindari kejadian yang bersifat anarkis jalan terbaik adalah mencegahnya. Sang Calon dengan terburu-buru menemui tokoh masyarakat khususnya yang berada di Kec. Taliwang. Di jelaskan langkah yang akan ditempuh oleh masyarakat dengan jalan berbondong-bondong menuju Sumbawa Besar cukup riskan menganggu stabilitas. Dalam perkiraan sang Calon kalau ia tidak terpilih pasti masyarakat dari Taliwang akan mengamuk. Sudah tentu Sumbawa akan tercoreng. Solusi terbaik yang diambil saat itu biarkan masyarakat Taliwang mengekspresikan aspirasi, maka dengan spontan dideklarasikannya “Kabupaten Sumbawa Barat”. Sudah jelas papan penyambutan tertulis “ Selamat Datang di Ibukota Kabupaten Sumbawa Barat “.
Gaung ini bersambut dalam masyarakat yang pada event terakhir dilaksanakannya “ Kongres rakyat Sumbawa Barat” di kecamatan Alas. Pertanyaan mendasar, apakah ide pembentukan kabupaten Sumbawa Barat ini merupakan kekecewaan politik ? akan terdapat jawaban yang berbeda. Kalau kita melihat dari kasus diatas mungkin orang akan mengasumsikannya sebagai kekecewaan politik. Kalau kita menelusuri lebih jauh kebelakang, ide pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat sudah dimunculkan sebelum masa pemerintahan Yakob Koswara. Namun realisasi ini belum diwujudkan karena kemauan politis pemerintah yang masih enggan melepaskan wilayah Sumbawa Barat dari Kabupaten Sumbawa. Deklarasi di Taliwang dan Kongres di Alas hanya merupakan proses dari beberapa titik yang sebelumnya telah ditancapkan. Sekali lagi Deklarasi dan Kongres bukan merupakan titik awalnya.
Berkaca pada kemauan politis Pemerintah Sumbawa, setidaknya lampu hijau sudah dinyalakan. Tinggal bagaimana komponen yang memperjuangkan Kabupaten Sumbawa Barat ini memanfaatkan peluang yang terbentang di hadapannya. Pandangan umum yang tersosialisasi saat ini pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat karena keberadaan PT. Newmont. Pandangan ini cukup keliru, masa pemerintahan Sebelum Yakob Kuswara Newmont belum beroperasi di Sumbawa, itu hanya kebetulan saja. Dan tidak bisa dipungkiri dengan keberadaan Newmont masyarakat terpompa semangatnya untuk mengatakan secara terbuka bahwa kami telah siap berdiri sendiri.
Komite Versus Kongres
Gaung pembentukan Sumbawa Barat tidak bisa dilepaskan dari peran Komite yang berdiri di Kecamatan Taliwang. Hampi satu tahun berdirinya komite belum menunjukkan langkah yang taktis untuk menggolkan Kabupaten Sumbawa Barat. Kewajaran ini timbul, karena didalam komite sendiri timbul berbagai faksi yang mementingkan kelompoknya. Satu kelemahan yang mendasar dalam komite ini adalah “komponen Taliwang” terlalu dominan. Kejadian yang cukup menghentakkan di kala papan selamat datang di Ibu Kota Sumbawa Barat di tancapkan sebagai ekspresi kepercayaan diri yang berlebihan. Padahal komponen dari kecamatan tetangga belum diajak berdiskusi untuk menentukan dimana letak yang strategis sebagai calon Ibukota Kabupaten. Masyarakat Taliwang menyadari mengapa mereka menyebut wilayah mereka sebagai calon Ibukota tak lain dan bukan Imbas dari konstribusi Newmont yang ada di wilayah ini. Dalam analisis rasionalitas kalau kita berbicara seberapa besar suatu daerah memberikan konstribusi malah yang lebih tepat adalah Jereweh atau sekongkang. Karena kedua daerah itulah Wilayah operasi PT. Newmont. Itulah titik positif masyarakat Jereweh dan Sekongkang yang menangkap persoalan dengan kepala dingin.
Gaung bersambut beberapa bulan kemudian di Alas diadakan seminar mengenai upaya pembentukan kabupaten Sumbawa Barat. Hasil kongret dari seminar tersebut dicapai kata sepakat, bahwa komponen yang ada diwilayah Sumbawa Barat jangan terburu-buru mengklaim wilayahnya sebagai Ibukota Kabupaten. Taliwang bersedia menggantikan Papan bilboard yang selama ini mengklaim dirinya sebagai ibukota.
Diawal tahun 2001 tepatnya bulan Maret, di Alas dilaksanakan Kongres rakyat Sumbawa Barat, yang berhasil mensosialisasikan rencana ini pada tataran Nasional. Keberhasilan ini didukung oleh kemampuan Panitia Penyelenggara yang dapat memanfaatkan media elektronik berupa TV swasta. Gaung ini bersambut, sehingga dalam laporan pertanggungjawaban Gubernur NTB, Pembentukan Kabupaten sumbawa Barat akan di prioritaskan. Tindak lanjut dari Kongres di Alas ini, yaitu pembentukan Tim Pengkajian yang melibatkan komponen yang ada di Sumbawa Barat sebanyak 8 kecamatan.
Ada baiknya kita berkaca pada Komite, jangan sampai Tim pengkajian yang akan terbentuk ini akan dimonopoli oleh suatu wilayah tertentu, inilah yang akan membentuk polarisasi. Dalam pandangan Taktis Tim pengkajian ini harus ditempatkan dalam koridor Netralitas sudah tentu wilayah terbaik untuk dijadikan wilayah kantornya adalah Sumbawa Besar.
Cukup beralasan dengan terselenggaranya kongres di Alas sebagian komponen Taliwang mempersiapkan langkah Taktis mereka untuk tetap mempertahankan Taliwang sebagai calon Ibukota.
Dalam pandangan saya, semua kecamatan wajar mengajukan wilayahnya sebagai calon Ibukota namun kita harus berpegang teguh pada konsep profesionalisme serahkan penunjukkan Ibukota kabupaten kepada Tim Tehknis yang telah di bentuk Oleh pemerintah dan Masyarakat. Hasil akhirnya harus kita terima dengan terbuka.
Hambatan dan peluang
Setahun gaung pembentukan kabupaten Sumbawa Barat cukup tersosialisasi dengan baik ke dalam masyarakat. Api dalam sekam setidaknya sangat mungkin menjadi kobaran yang besar jika egoisme kedaerahan makin dipertahankan. Kacamata pelajaran cukup memberikan referensi kepada kita disaat Komite yang berada di Wilayah Taliwang berdiri, timbul faksi dan perbedaan yang cukup mencolok. Masing-masing faksi mempertahankan kemauan masing-masing. Sudah tentu polemik intern ini akan membawa arah perjuangan hanya sebatas menumbuhpadamkan konflik internal. Di satu sisi kemampuan taktis generasi muda Alas seakan-akan mengancam kelangsungan komite yang cendrung dibawah bayang-bayang generasi tua. Idealisme lokal inilah yang akan menghambat pemebentukan Kabupaten Sumbawa. Dengan ini menimbulkan keraguan dari pihak eksekutif dan legeslatif Sumbawa untuk menganggarkan dana pemekaran. Setidaknya kita harus menyadari mengapa Eksekutif dan legeslatif Sumbawa tidak menganggarkan dana pada tahun anggaran 2001 ini. Tak lain mereka belum bisa memegang komponen mana yang akan mewakili masyarakat Sumbawa Barat untuk diberikan hak pengolaan anggaran tersebut.
Peluang yang ada dihadapan tak lain optimalkan Tim pengkajian pembentukan kabupaten Sumbawa Barat ini.
Komponen yang ada harus sepakat bahwa visi mereka adalah “ Goalkan Pendirian Kabupaten Sumbawa Barat”. Terlalu dini kalau kita harus berpolemik dimana ibukota harus diletakkan. Kalau pikiran ini kita tempatkan sebagai rencana strategis niscaya pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat akan Gatot atau Gagal Total.
Mari kita berpikir rasional dan profesional, penunjukkan ibukota kabupaten diserahkan kepada Tim Tehnis yang telah dipercayakan kepada pemerintah dan tokoh masyarakat.
Kompetisi Lokal
Seandainya pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat berhasil, kita jangan dengan cepat bertepuk tangan dan bergembira. Sederet tantangan akan menghadang. Langkah awal yang harus disenergikan adalah mengoptimalkan penggunaan SDMnya. Itulah kunci keberhasilan bagi kabupaten baru ini.
Dilain pihak kab. Sumbawa dengan potensi wilayah Sumbawa timur harus bersiap diri untuk pemekaran selanjutnya. Pemekaran ini bukanlah upaya untuk memisahkan histori selama ini, namun itu hanya pemisahan administrasi formal.
Rencana strategis pengembangan Kabupaten Sumbawa harus disusun dari sekarang, bukan rencana dalam masa pemerintahan Latief majid, alangkah baiknya kerangka pengembangan 20 ( dua puluh) tahun kedepan sudah tersusun dengan rapi. Rencana inilah yang akan dijadikan kerangka acuan untuk memfokuskan bagian mana yang akan diutamakan. Jangan sampai pada masa pergantian kepemimpinan daerah rencana pengembangan jangka panjang akan putus dan tidak terarah.
Kompetisi lokal ada baiknya diarahkan pada kajian konstruktif, bukan mengedepankan idealime lokal yang cendrung sektarian untuk kepentingan kelompoknya. Jauh kedepan, pemikiran yang ahanya dilatarbelakangi oleh konsep pemanfaatan sumber daya alam akan kalah bersaing daripada pemanfaatan Sumber daya manusianya. Alangkah baiknya kita Tempatkan pengembangan SDM merupakan priopritas utama untuk mengasah kompotesi lokal. Saya tetap berkeyakinan dengan majunya SDM di suatu wilayah maka wilayah tersebut akan menjadi pusat pertumbuhan.
Berikan saya 3 ( Tiga ) SDM yang tangguh, maka Sumbawa akan berubah menjadi gula yang diperebutkan !
Bandung, 4 April 2001
Arif Hidayat
Tepatnya sehari setelah pemilihan Bupati Sumbawa, Deklarasi Pembentukan Sumbawa Barat dilakukan di Kecamatan Taliwang. Latar belakang Deklarasi ini tidak lain karena faktor politis belaka. Apa yang menjadi kenyataan salah seorang Calon Bupati yang berasal dari daerah Taliwang merupakan harapan goalnya calon tersebut sebagai Kepala Daerah. Proses adalah Demokrasi, rakyat tidak bisa mengklaim dan memvonis bahwa jago mereka harus dan pasti terpilih. Sikap Demokrat di tunjukkan oleh Calon tersebut. Untuk menghindari kejadian yang bersifat anarkis jalan terbaik adalah mencegahnya. Sang Calon dengan terburu-buru menemui tokoh masyarakat khususnya yang berada di Kec. Taliwang. Di jelaskan langkah yang akan ditempuh oleh masyarakat dengan jalan berbondong-bondong menuju Sumbawa Besar cukup riskan menganggu stabilitas. Dalam perkiraan sang Calon kalau ia tidak terpilih pasti masyarakat dari Taliwang akan mengamuk. Sudah tentu Sumbawa akan tercoreng. Solusi terbaik yang diambil saat itu biarkan masyarakat Taliwang mengekspresikan aspirasi, maka dengan spontan dideklarasikannya “Kabupaten Sumbawa Barat”. Sudah jelas papan penyambutan tertulis “ Selamat Datang di Ibukota Kabupaten Sumbawa Barat “.
Gaung ini bersambut dalam masyarakat yang pada event terakhir dilaksanakannya “ Kongres rakyat Sumbawa Barat” di kecamatan Alas. Pertanyaan mendasar, apakah ide pembentukan kabupaten Sumbawa Barat ini merupakan kekecewaan politik ? akan terdapat jawaban yang berbeda. Kalau kita melihat dari kasus diatas mungkin orang akan mengasumsikannya sebagai kekecewaan politik. Kalau kita menelusuri lebih jauh kebelakang, ide pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat sudah dimunculkan sebelum masa pemerintahan Yakob Koswara. Namun realisasi ini belum diwujudkan karena kemauan politis pemerintah yang masih enggan melepaskan wilayah Sumbawa Barat dari Kabupaten Sumbawa. Deklarasi di Taliwang dan Kongres di Alas hanya merupakan proses dari beberapa titik yang sebelumnya telah ditancapkan. Sekali lagi Deklarasi dan Kongres bukan merupakan titik awalnya.
Berkaca pada kemauan politis Pemerintah Sumbawa, setidaknya lampu hijau sudah dinyalakan. Tinggal bagaimana komponen yang memperjuangkan Kabupaten Sumbawa Barat ini memanfaatkan peluang yang terbentang di hadapannya. Pandangan umum yang tersosialisasi saat ini pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat karena keberadaan PT. Newmont. Pandangan ini cukup keliru, masa pemerintahan Sebelum Yakob Kuswara Newmont belum beroperasi di Sumbawa, itu hanya kebetulan saja. Dan tidak bisa dipungkiri dengan keberadaan Newmont masyarakat terpompa semangatnya untuk mengatakan secara terbuka bahwa kami telah siap berdiri sendiri.
Komite Versus Kongres
Gaung pembentukan Sumbawa Barat tidak bisa dilepaskan dari peran Komite yang berdiri di Kecamatan Taliwang. Hampi satu tahun berdirinya komite belum menunjukkan langkah yang taktis untuk menggolkan Kabupaten Sumbawa Barat. Kewajaran ini timbul, karena didalam komite sendiri timbul berbagai faksi yang mementingkan kelompoknya. Satu kelemahan yang mendasar dalam komite ini adalah “komponen Taliwang” terlalu dominan. Kejadian yang cukup menghentakkan di kala papan selamat datang di Ibu Kota Sumbawa Barat di tancapkan sebagai ekspresi kepercayaan diri yang berlebihan. Padahal komponen dari kecamatan tetangga belum diajak berdiskusi untuk menentukan dimana letak yang strategis sebagai calon Ibukota Kabupaten. Masyarakat Taliwang menyadari mengapa mereka menyebut wilayah mereka sebagai calon Ibukota tak lain dan bukan Imbas dari konstribusi Newmont yang ada di wilayah ini. Dalam analisis rasionalitas kalau kita berbicara seberapa besar suatu daerah memberikan konstribusi malah yang lebih tepat adalah Jereweh atau sekongkang. Karena kedua daerah itulah Wilayah operasi PT. Newmont. Itulah titik positif masyarakat Jereweh dan Sekongkang yang menangkap persoalan dengan kepala dingin.
Gaung bersambut beberapa bulan kemudian di Alas diadakan seminar mengenai upaya pembentukan kabupaten Sumbawa Barat. Hasil kongret dari seminar tersebut dicapai kata sepakat, bahwa komponen yang ada diwilayah Sumbawa Barat jangan terburu-buru mengklaim wilayahnya sebagai Ibukota Kabupaten. Taliwang bersedia menggantikan Papan bilboard yang selama ini mengklaim dirinya sebagai ibukota.
Diawal tahun 2001 tepatnya bulan Maret, di Alas dilaksanakan Kongres rakyat Sumbawa Barat, yang berhasil mensosialisasikan rencana ini pada tataran Nasional. Keberhasilan ini didukung oleh kemampuan Panitia Penyelenggara yang dapat memanfaatkan media elektronik berupa TV swasta. Gaung ini bersambut, sehingga dalam laporan pertanggungjawaban Gubernur NTB, Pembentukan Kabupaten sumbawa Barat akan di prioritaskan. Tindak lanjut dari Kongres di Alas ini, yaitu pembentukan Tim Pengkajian yang melibatkan komponen yang ada di Sumbawa Barat sebanyak 8 kecamatan.
Ada baiknya kita berkaca pada Komite, jangan sampai Tim pengkajian yang akan terbentuk ini akan dimonopoli oleh suatu wilayah tertentu, inilah yang akan membentuk polarisasi. Dalam pandangan Taktis Tim pengkajian ini harus ditempatkan dalam koridor Netralitas sudah tentu wilayah terbaik untuk dijadikan wilayah kantornya adalah Sumbawa Besar.
Cukup beralasan dengan terselenggaranya kongres di Alas sebagian komponen Taliwang mempersiapkan langkah Taktis mereka untuk tetap mempertahankan Taliwang sebagai calon Ibukota.
Dalam pandangan saya, semua kecamatan wajar mengajukan wilayahnya sebagai calon Ibukota namun kita harus berpegang teguh pada konsep profesionalisme serahkan penunjukkan Ibukota kabupaten kepada Tim Tehknis yang telah di bentuk Oleh pemerintah dan Masyarakat. Hasil akhirnya harus kita terima dengan terbuka.
Hambatan dan peluang
Setahun gaung pembentukan kabupaten Sumbawa Barat cukup tersosialisasi dengan baik ke dalam masyarakat. Api dalam sekam setidaknya sangat mungkin menjadi kobaran yang besar jika egoisme kedaerahan makin dipertahankan. Kacamata pelajaran cukup memberikan referensi kepada kita disaat Komite yang berada di Wilayah Taliwang berdiri, timbul faksi dan perbedaan yang cukup mencolok. Masing-masing faksi mempertahankan kemauan masing-masing. Sudah tentu polemik intern ini akan membawa arah perjuangan hanya sebatas menumbuhpadamkan konflik internal. Di satu sisi kemampuan taktis generasi muda Alas seakan-akan mengancam kelangsungan komite yang cendrung dibawah bayang-bayang generasi tua. Idealisme lokal inilah yang akan menghambat pemebentukan Kabupaten Sumbawa. Dengan ini menimbulkan keraguan dari pihak eksekutif dan legeslatif Sumbawa untuk menganggarkan dana pemekaran. Setidaknya kita harus menyadari mengapa Eksekutif dan legeslatif Sumbawa tidak menganggarkan dana pada tahun anggaran 2001 ini. Tak lain mereka belum bisa memegang komponen mana yang akan mewakili masyarakat Sumbawa Barat untuk diberikan hak pengolaan anggaran tersebut.
Peluang yang ada dihadapan tak lain optimalkan Tim pengkajian pembentukan kabupaten Sumbawa Barat ini.
Komponen yang ada harus sepakat bahwa visi mereka adalah “ Goalkan Pendirian Kabupaten Sumbawa Barat”. Terlalu dini kalau kita harus berpolemik dimana ibukota harus diletakkan. Kalau pikiran ini kita tempatkan sebagai rencana strategis niscaya pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat akan Gatot atau Gagal Total.
Mari kita berpikir rasional dan profesional, penunjukkan ibukota kabupaten diserahkan kepada Tim Tehnis yang telah dipercayakan kepada pemerintah dan tokoh masyarakat.
Kompetisi Lokal
Seandainya pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat berhasil, kita jangan dengan cepat bertepuk tangan dan bergembira. Sederet tantangan akan menghadang. Langkah awal yang harus disenergikan adalah mengoptimalkan penggunaan SDMnya. Itulah kunci keberhasilan bagi kabupaten baru ini.
Dilain pihak kab. Sumbawa dengan potensi wilayah Sumbawa timur harus bersiap diri untuk pemekaran selanjutnya. Pemekaran ini bukanlah upaya untuk memisahkan histori selama ini, namun itu hanya pemisahan administrasi formal.
Rencana strategis pengembangan Kabupaten Sumbawa harus disusun dari sekarang, bukan rencana dalam masa pemerintahan Latief majid, alangkah baiknya kerangka pengembangan 20 ( dua puluh) tahun kedepan sudah tersusun dengan rapi. Rencana inilah yang akan dijadikan kerangka acuan untuk memfokuskan bagian mana yang akan diutamakan. Jangan sampai pada masa pergantian kepemimpinan daerah rencana pengembangan jangka panjang akan putus dan tidak terarah.
Kompetisi lokal ada baiknya diarahkan pada kajian konstruktif, bukan mengedepankan idealime lokal yang cendrung sektarian untuk kepentingan kelompoknya. Jauh kedepan, pemikiran yang ahanya dilatarbelakangi oleh konsep pemanfaatan sumber daya alam akan kalah bersaing daripada pemanfaatan Sumber daya manusianya. Alangkah baiknya kita Tempatkan pengembangan SDM merupakan priopritas utama untuk mengasah kompotesi lokal. Saya tetap berkeyakinan dengan majunya SDM di suatu wilayah maka wilayah tersebut akan menjadi pusat pertumbuhan.
Berikan saya 3 ( Tiga ) SDM yang tangguh, maka Sumbawa akan berubah menjadi gula yang diperebutkan !
Bandung, 4 April 2001
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda