Perubahan drasastis mulai terlihat disaat peta kekuatan politis dalam pemerintahan mulai di pegang oleh Putera Daerah dengan memegang posisi kunci Gubernur NTB. Gambaran sangat jelas disaat Harun AlRasyid Sebagai gubernur NTB yang merupakan Putera Perdana NTB memegang kendali NTB, faksi kepentingan tersusun secara sistematis. Pembagian kekuasaan merupakan alternatif terbaik untuk meredam gejolak etnis Sasak yang merasa dirinya Dominan dalam percaturan kebijakan NTB. Sikap ini muncul disebabkan karena posisi Ibukota NTB yang kebutulan berada di pulau Lombok khususnya Mataram. Sementara ini strategi penetrasi posisi kunci di Pemerintahan Tingkat Propinsi terus dilakukan oleh etnis Mbojo dengan Tameng referensi Gubernur NTB. Lalu… Dimana posisi etnis Samawa ? yang merupakan posisi penting sebagai mesin penghasil keuangan NTB ? masih dalam kesabaran.
Terlalu naif kalau kita mengatakan komposisi etnis yang ada ditingkat satu sangat berimbang. Dalam perjalanan yang begitu singkat semenjak Putera Daearh memegang posisi kumci dan reformasi mulai diterapkan. Dua etnis terpisah sasak dan Mbojo merupakan kuantitas terbesar dalam struktur pemerintahan Tingkat Propinsi. Lombok dengan kelompok Stategisnya berusaha menguasai sektor penentu kebijakan Umum yang ada di NTB. Maka lahirlah progrram Nepostisme baru yang didasarkan pada latar belakang etnisitas. Sungguh sangat riskan bagi masa depan NTB kedepan. Pikiran yang mengangap wilayah yang kebetulan sebagai Ibukota Propinsi merupakan hanya milik kelompok mereka, akan menumbuhkan persaingan yang tidak sehat untuk memperebutkan poisis-posisi tertentu dalam penentu kebijakan dipemerintahan dan diluar pemerintahan.
Peta kekuatan NTB yang hanya terlihat dikuasai oleh dua etnis yaitu Sasak dan Mbojo merupakan pukulan serius bagi etnis Samawa yang sampai saat ini masih berkutat dalam persoalan internal. Sebenarnya Samawa dengan wilayah yang terluas NTB menyimpan banyak Potensi SDM yang handal. Namun persoalan kesempatan inilah yang kerapkali mengkerdilkan peran etnis Samawa untuk memegang posisi strategis di tingkat Propinsi.
Peta itu semakin jelas ketika kita mulai menggambarkan Struktur pemegang kunci di Tingkat Propinsi. Gubernur dari Mbojo, Wakil Gubernur dari Sasak dan Sekda dari Sasak merupakan peta kekuatan yang tidak bisa dipungkiri betapa strategi kedua etnis tersebut tertata dengan rapi.
Gaung suksesi Wakil Gubernur NTB mulai berdendang. Aspirasi mengalir dalam format masing-masing kepentingan. Lombok dengan orangnya yang sudah memegang posisi tersebut berusaha mempertahankan agar Putera daerahnya tetap memegang posisi wakil gubernur sampai dengan masa berakhirnya Gubernur NTB. Dilain pihak ada keinginan dari kelompok lain untuk mengosongkan saja posisi tersebut. Perebutan posisi kekuasaan ditingkat propinsi sebenarnya sangat menguatirkan bagi kita. Sejujurnya kalau kita menelusuri lebih lanjut didalam tubuh Pemerintahan Propinsi nicaya kita akan merinding. Betapa tidak nilai kemanusiaan akan dikorbankan hanya untuk mengukuhkan bargaining etnis tertentu.
Akan berakhirnya masa jabatan wakil Gubernur NTB setidaknya bisa memberikan pemahaman kepada kita untuk bisa berpikir jernih dan adil dalam mendistribusikan kepentingan tiga etnis yang ada. Selama ini etnis Samawa tidak diberikan porsi untuk tampil kepermukaan, mengapa tidak posisi tersebut diberikan kepada etnis Samawa ? rasanya sangat sulit untuk mewujudkan rencana ini. Karena dalam perhitungan politis etnis Samawa tidak memiliki kelompok kerja Strategis seperti dua etnis lainnya, yang bisa mempengaruhi kebijakan ditataran Lokal NTB. Lalu nilai apa yang perlu diandalkan ? tak lain niat baik dari dua etnis yang ada untuk memberikan kesempatan kepada etnis Samawa.
Dalam perjalanan waktu dan sejarah yang telah terukir, etnis samawa sebenarnya terlalu bersabar dalam menyikapi betapa buntunya kepentingan mereka ditingkat Propinsi. Kita harus sadar bahwa perjalanan sejarah bukanlah entry mutlak diulangi. Dan Sumbawa tidak rela etnis mereka hanya sebagai pemain Underdog ditataran NTB, itupun kalau NTB akan bisa utuh dengan tiga etnis yang ada. Akan sangat memungkinkan perlakuan yang diskriminatif yang diterima oleh Etnis Samawa akan mempercepat proses pemisahan diri untuk membetuk propinsi Sendiri. Suatu kenyataan yang sangat mungkin akan terjadi, karena pola kesabaran yang telah diterapkan oleh etnis Samawa tidak bisa selamanya untuk ditolerir. Ada saatnya kita wajib mempertanyakan seberapa besar kepentingan dan hak itu yang telah disediakan. Mungkin anda akan berpikir sumbawa terlalu etnisitas menunutut posisi yang ada, tak lain semua itu merupakan akumulasi dari sikap dua etnis lain yang secara terbuka menyusun strategi untuk menguasai posisi kunci untuk kelompoknya.
Generasi muda Sumbawa tidak akan rela Daerahnya hanya dijadikan Sapi perah bagi daerah lain di NTB tanpa memperoreh porsi yang jelas dalam strukutur dan peta kebijakan di NTB.
Kesabaran itu ada titik jenuhnya…tinggal bagaimana anda mengelolah kesabaran agar tidak menjadi Bumerang Yang militansi. Jawabannya ada di dua etnis yang merasa menguasai NTB. Kita tunggu niat baik anda.
Bandung, 22 April, 2001
Arif Hidayat
Terlalu naif kalau kita mengatakan komposisi etnis yang ada ditingkat satu sangat berimbang. Dalam perjalanan yang begitu singkat semenjak Putera Daearh memegang posisi kumci dan reformasi mulai diterapkan. Dua etnis terpisah sasak dan Mbojo merupakan kuantitas terbesar dalam struktur pemerintahan Tingkat Propinsi. Lombok dengan kelompok Stategisnya berusaha menguasai sektor penentu kebijakan Umum yang ada di NTB. Maka lahirlah progrram Nepostisme baru yang didasarkan pada latar belakang etnisitas. Sungguh sangat riskan bagi masa depan NTB kedepan. Pikiran yang mengangap wilayah yang kebetulan sebagai Ibukota Propinsi merupakan hanya milik kelompok mereka, akan menumbuhkan persaingan yang tidak sehat untuk memperebutkan poisis-posisi tertentu dalam penentu kebijakan dipemerintahan dan diluar pemerintahan.
Peta kekuatan NTB yang hanya terlihat dikuasai oleh dua etnis yaitu Sasak dan Mbojo merupakan pukulan serius bagi etnis Samawa yang sampai saat ini masih berkutat dalam persoalan internal. Sebenarnya Samawa dengan wilayah yang terluas NTB menyimpan banyak Potensi SDM yang handal. Namun persoalan kesempatan inilah yang kerapkali mengkerdilkan peran etnis Samawa untuk memegang posisi strategis di tingkat Propinsi.
Peta itu semakin jelas ketika kita mulai menggambarkan Struktur pemegang kunci di Tingkat Propinsi. Gubernur dari Mbojo, Wakil Gubernur dari Sasak dan Sekda dari Sasak merupakan peta kekuatan yang tidak bisa dipungkiri betapa strategi kedua etnis tersebut tertata dengan rapi.
Gaung suksesi Wakil Gubernur NTB mulai berdendang. Aspirasi mengalir dalam format masing-masing kepentingan. Lombok dengan orangnya yang sudah memegang posisi tersebut berusaha mempertahankan agar Putera daerahnya tetap memegang posisi wakil gubernur sampai dengan masa berakhirnya Gubernur NTB. Dilain pihak ada keinginan dari kelompok lain untuk mengosongkan saja posisi tersebut. Perebutan posisi kekuasaan ditingkat propinsi sebenarnya sangat menguatirkan bagi kita. Sejujurnya kalau kita menelusuri lebih lanjut didalam tubuh Pemerintahan Propinsi nicaya kita akan merinding. Betapa tidak nilai kemanusiaan akan dikorbankan hanya untuk mengukuhkan bargaining etnis tertentu.
Akan berakhirnya masa jabatan wakil Gubernur NTB setidaknya bisa memberikan pemahaman kepada kita untuk bisa berpikir jernih dan adil dalam mendistribusikan kepentingan tiga etnis yang ada. Selama ini etnis Samawa tidak diberikan porsi untuk tampil kepermukaan, mengapa tidak posisi tersebut diberikan kepada etnis Samawa ? rasanya sangat sulit untuk mewujudkan rencana ini. Karena dalam perhitungan politis etnis Samawa tidak memiliki kelompok kerja Strategis seperti dua etnis lainnya, yang bisa mempengaruhi kebijakan ditataran Lokal NTB. Lalu nilai apa yang perlu diandalkan ? tak lain niat baik dari dua etnis yang ada untuk memberikan kesempatan kepada etnis Samawa.
Dalam perjalanan waktu dan sejarah yang telah terukir, etnis samawa sebenarnya terlalu bersabar dalam menyikapi betapa buntunya kepentingan mereka ditingkat Propinsi. Kita harus sadar bahwa perjalanan sejarah bukanlah entry mutlak diulangi. Dan Sumbawa tidak rela etnis mereka hanya sebagai pemain Underdog ditataran NTB, itupun kalau NTB akan bisa utuh dengan tiga etnis yang ada. Akan sangat memungkinkan perlakuan yang diskriminatif yang diterima oleh Etnis Samawa akan mempercepat proses pemisahan diri untuk membetuk propinsi Sendiri. Suatu kenyataan yang sangat mungkin akan terjadi, karena pola kesabaran yang telah diterapkan oleh etnis Samawa tidak bisa selamanya untuk ditolerir. Ada saatnya kita wajib mempertanyakan seberapa besar kepentingan dan hak itu yang telah disediakan. Mungkin anda akan berpikir sumbawa terlalu etnisitas menunutut posisi yang ada, tak lain semua itu merupakan akumulasi dari sikap dua etnis lain yang secara terbuka menyusun strategi untuk menguasai posisi kunci untuk kelompoknya.
Generasi muda Sumbawa tidak akan rela Daerahnya hanya dijadikan Sapi perah bagi daerah lain di NTB tanpa memperoreh porsi yang jelas dalam strukutur dan peta kebijakan di NTB.
Kesabaran itu ada titik jenuhnya…tinggal bagaimana anda mengelolah kesabaran agar tidak menjadi Bumerang Yang militansi. Jawabannya ada di dua etnis yang merasa menguasai NTB. Kita tunggu niat baik anda.
Bandung, 22 April, 2001
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda