Selasa, 29 Juli 2008

Suharto dan Latief

. Selasa, 29 Juli 2008

Dua nama yang melekat dalam memori ethnic Sumbawa merupakan hotline yang tak habis dijadikan news.
Suharto secara nasional merupakan dedengkot status quo dengan penghargaan tinta emas dalam melestarikan KKN. Sementara Latief merupakan nama pejabat lokal yang tiba-tiba muncul sebagai pempinan daerah yang sudah tentu merupakan akar dari Soeharto. Kini suharto berpindah generasi dalam replika generasi muda. Tataran feedback melatarbelakangi dalam dunia politiknya adalah seorang pengacara muda.
Politikus lokal dari Golkar ini awalnya merupakan harapan untuk mengimbangi gaung reformasi namun justru menjadi arus balik yang menentang reformasi.
Duet Suharto dan Latief ini adalah kerjasama faktual yang diukir sejak proses pemilihan Bupati Sumbawa, apa yang berpindah dari proses itu adalah hasil yang mengembirakan di mata pemegang status Quo. Golkar sebagai kendaraan politik politisi muda tersebut dan latif sebagai Birokrat tulen memberikan konstribusi dan peranan yang besar dalam menggali kembali kejayaan orde baru. Golkar dipolitisi padahal Partai tersebut namanya sudah terpuruk kini makin terpuruk oleh oknum yang sengaja menggunakan idiom kepengacaraan dalam menangkis opini lawan politiknya.

Suharto dipecat dari partainya sementara latief mencoba mempertahankan tampuk kekuasaannya sebagai Bupati Sumbawa. Sehari setelah pemecatannya suharto dengan besar hati mengeluarkan statement ia akan mundur dari DPRD Sumbawa dengan kesadaran sendiri. Dibalik ucapan itu waktu bergulir, malah suharto menuntut balik ketua Golkar Sumbawa pak khairuddin. Di balik itu desakan masyarakat dan mahasiswa kepada Latief makin menguat. Lahirlah komitment untuk merekomendasikan Pemecatan suharto CS dari keanggotaan DPRD Sumbawa. Lain cerita berselang beberapa hari Latief kemudian mengingkari ucapannya.

Kedua tokoh tersebut mengukir sejarah yang cukup memalukan. Suharto mendesak latief dan latief mengalah. dari kejadian tersebut ada beberapa asumsi yang lahir diantaranya :



1. Jika Suharto dipecat atau direkomendasikan pemecatannya dari DPRD Sumbawa oleh Latif, maka suharto akan mengungkapkan semua permainan dan rekayasa Proses pemilihan Bupati Sumbawa. Maka efeknya Suharto jatuh, latif juga akan jatuh. Keterkaitan ini sangat jelas dimana tarik ulur persolan tersebut sangat krusial. Penulis sendiri pernah bertemu dengan suharto sehari setelah pemecatannya dari keanggotaan Golkar. Pertemuan tersebut justru berlangsung diruang tunggu Bupati Sumbawa. Wallahu alam kedekatan itu sampai dimana.

2. Oknum anggota DPRD Sumbawa juga akan terkena imbas akan pemcatan tersebut, dikarena bila salah satu anggota DPRD Sumbawa terlempar niscaya ia akan bernyanyi di luar.

3. Ketakutan itu juga akan mengarahkan mereka pada pengusutan secara hukum positif dan lebih parah lagi kalau pengadilan rakyat yang akan berbicara.



Imbas faktual dari ulah kedua orang tersebut lahirlah anarkisme yang dilakukan oleh rakyat Sumbawa, senin 19 Juni 2000. Kita masih berkaca pada peristiwa yang menjadi berita nasional tersebut. Masihkah kita mempertahankan latif dan Suharto Cs yang merekayasa proses pemilhan Bupati. Lembaga eksekuti, legeslatif dan Yudikatif tidak berharga lagi dimata masyarakat Sumbawa. Apa lagi yang bisa dijadikan pedoman ?

Jawabannya kearifan dari Suharto dan Latief untuk menyadari bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah rekayasa semata. Jantankah mereka untuk meletakkan jabatannya ? kita tunggu.





Bandung, 22 Juni 2000

Arif Hidayat



0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com