Hanya tangan tangan manusialah yang membawa perubahan berarti, namun semua itu belum memberikan jaminan akan sebuah hasil yang positif.
Kejenuhan mulai melanda prosesi intelektualitas manusia, skill dan knowledge merupakan kembanggaan kembar disaat ilmu pengetahuan merajai pola pikir manusia disaat menuju otoritas tanpa batas. Manusia dengan sepenggal pengalamannya dapat mengubah tatatan yang sudah berjalan sekian ratus tahun, begitu pula penemuan baru merupakan contoh kongkret akan sebuah hasil dari imajinasi yang terus mencari pencarian. Dibalik semua itu manusia kembali pada satu kejenuhan kondisi yang sudah tentu akan kembali pada fitrahnya sebagai seorang ciptaan Illahi. Hasil-hasil kreativitas manusia itu akan menjadi sebuah ancaman serius dikala moralitas manusia menterjemahkan karya sebagai ajang pemusnahan etika.Kehancuran bangsa ini yang dianonimkan dengan Krisis moneter tak lepas dari lemahnya ESQ yang diaplikasikan selama ini. Ukuran keberhasilan tersebut jauh lebih penting jika diukur dari kedudukan dan kekayaan yang kencendrungan melihat hasil dari proses fisikal belaka. Dibalik itu proses untuk mencapai tujuan adalah penghalalan menurut kacamata masing-masing. Semua masih sadar bangsa ini bukanlah bangsa Atheis yang tidak mempercayai Tuhan, namun atas nama tuhan dan agama pengetahuan itu sengaja di putar balikkan demi mencapai ambisi pribadi masing-masing.
Ukuran keberhasilan berupa hasil fisik yang selama ini dijadikan patron, ternyata penuh dengan kebusukan yang sangat mengkuatirkan. Kekuatiran itu makin membesar disaat sikap dan sifat yang dijadikan paternalistik selama ini menjalar bagaikan virus yang sulit dimusnakan. Semua berlomba untuk mendapatkan peluang.
Hanya akan menjadi sebuah retorika, kekayaan alam kita malah dijadikan target untuk mendapatkan apa yang selama ini belum mereka miliki. Pengetahuan yang lebih akan mendominasi manusia lainnya dalam penghisapan terstruktur dalam wadah kebijakan resmi. Akan semakin sulit manusia Indonesia ini keluar dari rantai Mentalitas yang selama membelit pola pikir mereka. Brainstorming merupakan upaya untuk mengembalikan mentalitas dan moralitas manusia Indonesia ini pada cita – cita perjuangan founding father kita. Namun itu sungguh sulit diterapkan mengingat masih kuatnya sisa-sisa kekuatan lama yang makin memperbesar lini pengaruhnya.
Apa yang dihasilkan dari Reformasi adalah malah menumbuhkan jamur-jamur baru dalam melestarikan tradisi lama. Manusia Indonesia mengikrarkan dirinya sebagai manusia beragama, yang dibumbui Iman, Taqwa dan seabrek label normatif, namun masih jauh nilai-nilai tersebut. Kita terlalu pandai memainkan retorika kata-kata untuk mengambarkan jati diri, padahal semua itu tak lain hanya sebagai ginju dalam pengertian tradisional dan Lipstik dalam pengertian Modern.
Akar masalah bangsa ini bukan hanya terletak pada jajaran tingkat tinggi yang duduk di Legeslatif maupun Eksekutif, kebebasan salah kaprah malah membawa masalah itu pada tingkat akar rumput.
Bantuan luar negeri merupakan ajang baru untuk mendapatkan komisi, maka lahirlah sikap ketergantungan yang berlebihan terhadap pinjaman asing. Sementara itu bantuan Sosial yang disalurkan kepada masyarakat Miskin merupakan ajang baru untuk menciptakan lingkaran baru dalam berkolusi. Mata rantai itu sungguh panjang, sehingga timbul rasa frustasi dari anggota masyarakat yang menginginkan suatu perubahan.
Negara Kaya, itu merupakan sebutan terdahulu bagi Indonesia. Kenyataannya sampai saat ini kita masih memiliki kekayaan tersebut berupa Sumber Daya Alam. Kekayaan SDA tersebut tak diimbangi dengan kekayaan SDM yang mempunyai Emotional Spiritual Quotient ( ESQ ), akibatnya lahirlah ketimpangan untuk menunjukkan materi sebagai nilai ukur keberhasilan
Reformasi sudah berlalu dan sampai saat ini reformasi tersebut masih coba ditegakkan. Ada kekuatiran mendasar reformasi ini hanya akan dijadikan label dalam membangun kekuatan lama. Kasus Bulloggate II merupakan drama yang patut dipertontokan sebagai rekayasa kekuatan lama. Dan kasus-kasus lainnya yang dengan sengaja dipetieskan adalah bentuk lain dari upaya mereka membela diri.
Ditingkat daerah, penerapan Otonomi Daerah malah membuka peluang baru untuk mendapatkan kesempatan terbatas yang sebelumnya mereka belum raih. Ajang KKN baru mulai bermunculan seiring dengan makin sablengnya pembuat keputusan didaerah. Untuk saat ini daerah mulai berlomba mengisi kasnya masing-masing dengan jalan mengadakan pungutan dan retribusi yang dilegalkan dengan kebijakan. Padahal semua itu akan menjerumuskan mereka pada suatu kesimpulan bahwa daerah tersebut tidak kondusif untuk sebuah langkah awal investasi.
Keadaan tidak bisa berubah hanya dengan membalikkan telapak tangan. Perubahan akan bisa terwujud jika sikap paternalistik bangsa ini diwujudkan dengan tindakan positif. Para pemimpin kita sudah saatnya bukan hanya beretorika atas nama partai, golongan maupun pribadinya. Namun sudah saatnya untuk mengedapankan kepentingan rakyat sebagai Visi dan misi mereka. Semua itu harus dimulai dari diri sendiri, mengharapkan orang lain yang berubah sama saja dengan menulis didalam air. Dalam lingkungan micro sikap masyarakat kita untuk mengamalkan ajaran agama mereka merupakan kekuatan yang sebenarnya dapat dijadikan referensi penting dalam mengembalikan Indonesia ini pada kemakmuran. Membangun kekutan berdikari alah hal penting yang harus ditancapkan dalam masyarakat untuk membebaskan mereka dari ketergantungan yang selama ini dinikmati. Sudah tentu semua itu harus diikuti dengan kebijakan yang mendukung langkah-langkah perubahan, bukan malah melahirkan kebijakan yang memberatkan masyarakat menunjukan kretivitas dan imajajinasi positifnya.
Indonesia cukup kaya dengan manusia yang menyebut dirinya sebagai pemimpin, namun terlalu miskin dengan manusia yang mempunyai moralitas positif. Keikhlasan untuk menjalankan sesuatu hanya merupakan sebuah sikap normatif yang diajarkan oleh nilai-nilai luhur, kongretnya masih menjadi bias yang tak terbacakan. Kita kehilangan nurani untuk mau mengakui perbedaan dan kesalahan, atas nama kelompok kesalahan harus diperjuangkan menjadi kebenaran semu. Padahal masyarakat kita telah jenuh dengan perilaku elitis yang semaunya mementaskan skenario.
Kenyataan pahit telah dialami oleh bangsa ini, kita telah kehilangan manusianya dengan segudang Moralitas positif, padahal itulah kunci dari segala perubahan yang diidamkan bangsa ini. Andaikata kenyataan itu masih dan terus berlangsung, niscaya tinggal menunggu waktu akan kehancuran bangsa ini. Perubahan akan dimulai dari diri sendiri, tanpa merubah diri sendiri semua yang kita lakukan hanya sebuah kesia-siaan. Jangan bercita-cita merubah orang lain jika diri sendiri belum bisa dirubah.
Adalah sikap positif dalam diri sendiri membentuk kekuatan untuk menempatkan perubahan sebagai misi awal. Segumpal daging dalam tubuh itu adalah inti pokok dari aliran perubahan itu, manusia dilahirkan dengan hati yang suci, namun lingkunganlah yang mempengaruhi hati tersebut. Adalah fitrah manusia yang pasti mengetahui kebaikan dan keburukan hatinya. Hanya ego masing-masing menciptakan status quo akan sikap yang selama ini dijalaninya.
Persoalan bangsa adalah persoalan kumulatif yang dimulai dari persoalan diri sendiri, membentuk komunitas yang lebih besar dalam keluarga, kelompok, masyarakat dan bangsa itu sendiri. Kampaye global yang ditujukan untuk merubah mentalitas bangsa ini tidak mungkin tersentuh jika mentalitas pribadi yang menjadi bagian dari bangsa ini terlupakan.
Indonesia kembali akan menjadi negara jaya jika pribadi-pribadinya menyadari prosesi kejayaan tersebut berasal dari diri mereka, bukan berasal dari Bantuan asing, yang acapkali di cap sebagai pengemis.
Bandung, 10 December, 2001
Arif Hidayat
Ukuran keberhasilan berupa hasil fisik yang selama ini dijadikan patron, ternyata penuh dengan kebusukan yang sangat mengkuatirkan. Kekuatiran itu makin membesar disaat sikap dan sifat yang dijadikan paternalistik selama ini menjalar bagaikan virus yang sulit dimusnakan. Semua berlomba untuk mendapatkan peluang.
Hanya akan menjadi sebuah retorika, kekayaan alam kita malah dijadikan target untuk mendapatkan apa yang selama ini belum mereka miliki. Pengetahuan yang lebih akan mendominasi manusia lainnya dalam penghisapan terstruktur dalam wadah kebijakan resmi. Akan semakin sulit manusia Indonesia ini keluar dari rantai Mentalitas yang selama membelit pola pikir mereka. Brainstorming merupakan upaya untuk mengembalikan mentalitas dan moralitas manusia Indonesia ini pada cita – cita perjuangan founding father kita. Namun itu sungguh sulit diterapkan mengingat masih kuatnya sisa-sisa kekuatan lama yang makin memperbesar lini pengaruhnya.
Apa yang dihasilkan dari Reformasi adalah malah menumbuhkan jamur-jamur baru dalam melestarikan tradisi lama. Manusia Indonesia mengikrarkan dirinya sebagai manusia beragama, yang dibumbui Iman, Taqwa dan seabrek label normatif, namun masih jauh nilai-nilai tersebut. Kita terlalu pandai memainkan retorika kata-kata untuk mengambarkan jati diri, padahal semua itu tak lain hanya sebagai ginju dalam pengertian tradisional dan Lipstik dalam pengertian Modern.
Akar masalah bangsa ini bukan hanya terletak pada jajaran tingkat tinggi yang duduk di Legeslatif maupun Eksekutif, kebebasan salah kaprah malah membawa masalah itu pada tingkat akar rumput.
Bantuan luar negeri merupakan ajang baru untuk mendapatkan komisi, maka lahirlah sikap ketergantungan yang berlebihan terhadap pinjaman asing. Sementara itu bantuan Sosial yang disalurkan kepada masyarakat Miskin merupakan ajang baru untuk menciptakan lingkaran baru dalam berkolusi. Mata rantai itu sungguh panjang, sehingga timbul rasa frustasi dari anggota masyarakat yang menginginkan suatu perubahan.
Negara Kaya, itu merupakan sebutan terdahulu bagi Indonesia. Kenyataannya sampai saat ini kita masih memiliki kekayaan tersebut berupa Sumber Daya Alam. Kekayaan SDA tersebut tak diimbangi dengan kekayaan SDM yang mempunyai Emotional Spiritual Quotient ( ESQ ), akibatnya lahirlah ketimpangan untuk menunjukkan materi sebagai nilai ukur keberhasilan
Reformasi sudah berlalu dan sampai saat ini reformasi tersebut masih coba ditegakkan. Ada kekuatiran mendasar reformasi ini hanya akan dijadikan label dalam membangun kekuatan lama. Kasus Bulloggate II merupakan drama yang patut dipertontokan sebagai rekayasa kekuatan lama. Dan kasus-kasus lainnya yang dengan sengaja dipetieskan adalah bentuk lain dari upaya mereka membela diri.
Ditingkat daerah, penerapan Otonomi Daerah malah membuka peluang baru untuk mendapatkan kesempatan terbatas yang sebelumnya mereka belum raih. Ajang KKN baru mulai bermunculan seiring dengan makin sablengnya pembuat keputusan didaerah. Untuk saat ini daerah mulai berlomba mengisi kasnya masing-masing dengan jalan mengadakan pungutan dan retribusi yang dilegalkan dengan kebijakan. Padahal semua itu akan menjerumuskan mereka pada suatu kesimpulan bahwa daerah tersebut tidak kondusif untuk sebuah langkah awal investasi.
Keadaan tidak bisa berubah hanya dengan membalikkan telapak tangan. Perubahan akan bisa terwujud jika sikap paternalistik bangsa ini diwujudkan dengan tindakan positif. Para pemimpin kita sudah saatnya bukan hanya beretorika atas nama partai, golongan maupun pribadinya. Namun sudah saatnya untuk mengedapankan kepentingan rakyat sebagai Visi dan misi mereka. Semua itu harus dimulai dari diri sendiri, mengharapkan orang lain yang berubah sama saja dengan menulis didalam air. Dalam lingkungan micro sikap masyarakat kita untuk mengamalkan ajaran agama mereka merupakan kekuatan yang sebenarnya dapat dijadikan referensi penting dalam mengembalikan Indonesia ini pada kemakmuran. Membangun kekutan berdikari alah hal penting yang harus ditancapkan dalam masyarakat untuk membebaskan mereka dari ketergantungan yang selama ini dinikmati. Sudah tentu semua itu harus diikuti dengan kebijakan yang mendukung langkah-langkah perubahan, bukan malah melahirkan kebijakan yang memberatkan masyarakat menunjukan kretivitas dan imajajinasi positifnya.
Indonesia cukup kaya dengan manusia yang menyebut dirinya sebagai pemimpin, namun terlalu miskin dengan manusia yang mempunyai moralitas positif. Keikhlasan untuk menjalankan sesuatu hanya merupakan sebuah sikap normatif yang diajarkan oleh nilai-nilai luhur, kongretnya masih menjadi bias yang tak terbacakan. Kita kehilangan nurani untuk mau mengakui perbedaan dan kesalahan, atas nama kelompok kesalahan harus diperjuangkan menjadi kebenaran semu. Padahal masyarakat kita telah jenuh dengan perilaku elitis yang semaunya mementaskan skenario.
Kenyataan pahit telah dialami oleh bangsa ini, kita telah kehilangan manusianya dengan segudang Moralitas positif, padahal itulah kunci dari segala perubahan yang diidamkan bangsa ini. Andaikata kenyataan itu masih dan terus berlangsung, niscaya tinggal menunggu waktu akan kehancuran bangsa ini. Perubahan akan dimulai dari diri sendiri, tanpa merubah diri sendiri semua yang kita lakukan hanya sebuah kesia-siaan. Jangan bercita-cita merubah orang lain jika diri sendiri belum bisa dirubah.
Adalah sikap positif dalam diri sendiri membentuk kekuatan untuk menempatkan perubahan sebagai misi awal. Segumpal daging dalam tubuh itu adalah inti pokok dari aliran perubahan itu, manusia dilahirkan dengan hati yang suci, namun lingkunganlah yang mempengaruhi hati tersebut. Adalah fitrah manusia yang pasti mengetahui kebaikan dan keburukan hatinya. Hanya ego masing-masing menciptakan status quo akan sikap yang selama ini dijalaninya.
Persoalan bangsa adalah persoalan kumulatif yang dimulai dari persoalan diri sendiri, membentuk komunitas yang lebih besar dalam keluarga, kelompok, masyarakat dan bangsa itu sendiri. Kampaye global yang ditujukan untuk merubah mentalitas bangsa ini tidak mungkin tersentuh jika mentalitas pribadi yang menjadi bagian dari bangsa ini terlupakan.
Indonesia kembali akan menjadi negara jaya jika pribadi-pribadinya menyadari prosesi kejayaan tersebut berasal dari diri mereka, bukan berasal dari Bantuan asing, yang acapkali di cap sebagai pengemis.
Bandung, 10 December, 2001
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda