“No one likes to be beaten but it is better to be beaten than to cheat or to be wrong”
“ Tak seorang pun suka dikalahkan, akan tetapi lebih baik dikalahkan daripada berbuat curang atau berbuat salah”.Golden Quote diatas tak lain mengambarkan sikap kebijaksanaan dan kesatriaan seorang pemimpin, sebalik sikap yang bertolak belakang mengambarkan naluri seorang pemimpin untuk mengedepankan ambivalensinya dalam membuat keputusan.
Tesis diatas sungguh tergambarkan dalam kondisi perpolitikan Sumbawa saat ini, kondisi yang sudah tercipta stabil kini makin memanas seiring dengan terciptanya pemerintahan yang tidak bersih di pemerintahan Sumbawa. Waktulah yang akan menggerakkan rakyat Sumbawa untuk menuntut keadilan akan pembodohan yang selama ini dimainkan oleh Bupati kecil Sumbawa yang tak lain kerabatnya Bupati Formal. Apa yang dihasilkan dari pendidikan Formal “Lemhanas” hanyalah menambah sederet Piagam tertulis yang perlu dipajang di Ruang Kerja Bupati. Diluar itu hanya sebuah omong kosong belaka. Kepemimpinan akan tergambarkan dengan sikap kearifan akan kondisi Riel daerahnya. Sudah tentu seorang pemimpin akan bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah dan dia menyadari dimana dan kapan serta kondisi keberadaannya. Jika ia masih buta dengan kondisi sekitarnya tak lain pemimpin tersebut adalah gambaran Dajjal yang akan merusakkan tata penghidupan masyarakatnya.
Sebuah pertanyaan sederhana, Apa yang telah dihasilkan Oleh Bupati Sumbawa Selama 2 Tahun kepempinannya ? Sungguh naïf kalau saya mengatakan tidak ada, hasilnya memang nampak, namun tak lain hanyalah sebuah miniatur kecil akan lingkungan Hiper KKN. Brongjongnisasi adalah hasil nyata yang mungkin akan sangat dibanggakan oleh Bupati Sumbawa, namun itu hanya sebuah kebohongan publik akan sebuah nilai Proyek yang di mark up beratus-ratus persen. Kasus diatas hanyalah sebagian kecil sepak terjang Bupati – Bupati kecil yang masih tetap exis sampai saat ini.
Kondisi inilah yang membuka mata hati sebagian masyarakat Sumbawa, akan betapa parahnya KKN di tanah Bertuah Sumbawa. Sehingga pencarian keadilan bertumpu mata satu Figur yang tak lain Duet Bupati Sumbawa yaitu Sekda Sumbawa. Figure ini malah dijadikan Simbol Bupati resmi oleh sebagian rakyat Sumbawa. Apa yang terjadi tak lain menyulitkan posisi Sekda Sumbawa. Gambaran jelas tentang akan memanasnya perpolitikkan diSumbawa terus dimainkan oleh kelompok Bupati sendiri. Tak lain kondisi ini sengaja diciptakan untuk menciptakan dualisme kepemimpinan di Sumbawa. Output yang diharapkan adalah kerjasama Bupati dan Sekda Sumbawa tidak bisa dilanjutkan lagi. Ini adalah permainan lama yang sengaja dimainkan oleh kelompok Latief Majid. Kasus serupa telah diterapkan pada Sekda Sebelumnya. Diluar scenario diatas kelompok Bupati dengan sengaja melemparkan Batas umur bagi pengabdian seorang Sekda. Dan berbagai trik lain akan bermunculan seiring dengan makin frustasinya Bupati sumbawa akan kinerjanya selama ini.
Dalam ilmu psikologi kondisi ini merupakan gambaran jelas untuk menutupi kekurangannya. Seseorang yang merasa dirinya terdapat kekurangan dan kesalahan akan selalu berusaha melemparkan sebuah rencana yang Hyper untuk bisa menutupi kebobrokannya. Namun dalam Hukum alam kebenaran akan selalu muncul seiring dengan berjalannya waktu.
Penciptaan Dualisme kepemimpinan ini sengaja diperbesar dengan membangun opini yang luas didalam masyarakat. Bukan hanya dimasyarakat didalam pemerintahan Sumbawa juga di buat terkotak-kotak dengan arah dukungan Bupati atau Sekda. Manajemen konflik sengaja diciptakan agar terjadi keresahan yang membesar, Bupati ingin menjadi pahlawan dari semua masalah yang diciptakan tersebut. Apakah itu akan berhasil ? analisis saya masih jauh dari sebuah keberhasilan. Saya cukup beralasan berpandangan demikian, Sumber masalah di Sumbawa tak Lain Bupati itu sendiri. Dilain pihak masih ada setitik pengharapan dari pembacaan Nurani masyarakat Sumbawa ( baca sumbawa besar ) akan sebuah nilai salah dan benar. Meskipun terlalu Hipokrit untuk menyuarakan secara terbuka sebuah perlawanan.
Minggu kedua Januari 2002 akan menjadi ladang Demontrasi Masyarakat Sumbawa akan kebijakan Bupati selama ini. Berbagai komponen telah mempersiapkan diri untuk menggugat kebijakan yang selama ini masih lebih buruk dari Rezim Orde Baru. Opini diatas berkembang luas di Sumbawa besar, justru yang diharapkan oleh kelompok Bupati adalah akan keterlibatan aktif jaringan Sekda Sumbawa dalam Demonstrati Januari mendatang. Jika Jaringan Sekda Sumbawa sampai terpancing dengan itu, menjadi sebuah alasan bagi kelompok Bupati Sumbawa bahwa Sekda Sumbawa ingin mengkudeta Bupati Sumbawa. Opini ini akan dibumbui dengan berita-berita negatif Sekda Sumbawa.
Kondisi memanasnya perpolitikan Sumbawa akan berlanjut jika legeslatif Sumbawa masih mencari status aman bagi posisi mereka. Yang perlu diambil oleh legeslatif adalah ketegasan untuk melihat persoalan secara fair dan lepas dari berbagai tekanan. Selain itu peran penegak hukum untuk membawa persoalan KKN dilingkaran Bupati Sumbawa merupakan kunci utama untuk melihat siapa yang benar dan salah. Sudah tentu jika itu salah , masih bermoralkah kita jika masa jabatan Bupati perlu dilanjutkan ? akan banyak tantangan dan hambatan bagi penegak hukum untuk menjawab semua persoalan ini, tapi kebenaran akan tetap muncul, terkubur didunia, terbalas diakherat.
“one does not improve through argument but through example” “ Seseorang tidak menjadi baik karena argument tetapi karena Contoh.” Itulah gambaran pemimpin Sumbawa saat ini.
Bandung, 31 Desember 2001
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda