25 Juli 2000 merupakan moment penting bagi Partai Amanat Nasional Sumbawa untuk mengarungi debutnya dalam dunia politik. Secara konseptual ini akan menjadi kebanggaan berarti bagi Insan Partai bergambar matahari ini untuk mulai membenahi dirinya dalam berkompetesi merebut hati rakyat Sumbawa agar mereka bersimpati pada partai tsb.
Tak jauh dari harapan yang ingin dicapai kedepan sudah tentu hasil terdahulu yang dibuktikan dengan porelehan kursi di DPRD Sumbawa merupakan hasil nyata akan besar kecilnya pengaruh partai tersebut di dalam masyarakat Sumbawa. Dengan perolehan 2 kursi, masih jauh tertinggal dari perolehan partai Golkar, PDIP dan PPP.Debut PAN yang diilhami oleh tokoh reformis Prof.DR. Amin Rais, mendapat tanggapan positif dari golongan terpelajar yang sudah tentu kebanyakan berdomisili di kota-kota besar. Sebuah aset berharga bagi Indonesia baru jika potensi ini dapat dilelola dengan profesional sudah tentu akan menghasilkan harapan yang lebih baik akan mengakarnya nilai reformasi. Sumbawa tak lepas dari tokoh reformis Muda, terilham bergabung dengan partai ini. Cetusan awal sebagai partai terbuka setidaknya menghasilkan benang merah akan kesadaran pluralitas yang ada di negeri ini. Konsekwensinya sekat-sekat primordial yang kental harus hilang seiring dengan Visi dan Misi partai ini.
Adalah hak pasti untuk meneropong masa depan kita harus berkaca pada masa lalu. Lahirnya PAN di Sumbawa yang diawali dengan perebutan pengaruh dua kubu, menoreh makna mendalam akan kerdilnya sikap bijaksana kita menatap kesatuan yang kompleks. Namun ini terjawab dengan dideklarasikan PAN kec. Alas sebagi titik awal berdirinya Partai Amanat Nasional secara resmi di Tanah Samawa. Lambat laun ketegangan dua kubu yang bersikeras di Ibukota Kabupaten mencair seiring dengan kebutuhan mendesak akan waktu dekatnya pemilihan umum.
Optimistis awal untuk mendapatkan suara maksimal ternyata masih jauh dari harapan. Koreksi kearah itu setidaknya sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari DPD PAN Sumbawa. Harus kita akui sikap mengurutkan pengalaman masa lalu sebagai amunisi masa depan merupakan kelemahan mendasar bagi insan dalam Partai ini. Berkaca dalam kebijakan harian komposisi kepengurusan PAN Sumbawa setidaknya mengambarkan betapa kuatnya peranan individu yang kebetulan bertempat tinggal di Sumbawa Besar. Tak bisa dipungkiri sikap memiliki ( baca : keinginan akan jabatan ) jauh lebih besar dirasakan oleh insan partai yang bertempat tinggal di ibukota kabupaten. Padahal keberadaan sekretariat PAN di Sumbawa Besar hanya merupakan faktor kebetulan belaka, karena Sumbawa Besar merupakan Ibu Kota kabupaten Sumbawa. Begitu juga ibu kota kabupaten lainnya. Gambaran jelas akan komposisi kepengurusan yang ideal setidaknya mewakili seluruh kecamatan yang ada di kab. Sumbawa.
Dari pola kerja yang tergambar selama ini, insan muda PAN yang tergabung dalam kepengurusan DPD, setidaknya masih memperlihatkan egoistik. Distribusi informasi dan kebijakan ke DPC ( kecamatan ) merupakan kelemahan mendasar yang belum terkoreksi sampai saat ini. Pengurus DPD seolah-olah berjalan sendiri tanpa adanya faktor lain yang ikut mendukung keberadaan PAN di Sumbawa. Peranan DPC setidaknya harus dipertimbangkan dan menjadi agenda penting untuk mengukuhkan kerjasama yang harmonis. Padahal kita harus mengakui konstribusi DPC ini tidak kecil untuk meraih suara yang menjadi titik temu akan keberhasilan partai ini.
Seiring dengan tuntutan reformasi di Sumbawa setidaknya PAN Sumbawa masih terdepan mendukung gerakan reformasi yang digulirkan oleh golongan terpelajar Sumbawa. Titik lemah kebijakan yang ditempuh ternyata masih ada, dengan masih kuatnya sikap sentralistik jajaran pimpinan PAN di Sumbawa Besar. Gaung untuk melengserkan anggota yang diduga teridentifikasi money Politik dan rekayasa keputusan dalam pemilihan Bupati Sumbawa setidaknya masih belum menunjukkan hasil pasti. Padahal DPC-DPC PAN sudah berkomitmen sewaktu sidang rakyat untuk merekomendasikan anggotanya yang diduga Money Politic tsb. Namun inisiatif dari jajaran partai di Kabupaten hanya ucapan belaka tanpa tindak lanjut untuk turun ke kecamatan-kecamatan. Sumbawa belum terbiasa dengan sikap downtop yang porsi inisiatif terbesar datang dari bawah.
Masa depan setidaknya akan diharapkan lebih baik, begitu juga dengan pelaksanaan Musyawarah Daerah PAN Sumbawa setidaknya akan menghasilkan keputusan yang berarti bagi langkah PAN kedepan. Bukanya keputusan Hipokrit yang cendrung sentralistik, tanpa mengabaikan peranan DPC-DPC di Sumbawa. Masih ada waktu untuk menoreh harapan yang lebih baik tersebut. Bukanya mendatangkan dikotomi yang lebih besar setelah tampuk kekuasaan terpegang ( baca menjadi anggota DPRD ). Marilah kita berpikir dalam kerangka Demokrasi untuk bisa menjadi pengemudi terdepan dalam menimbulkan eksisitas masyarakat madani. Masih banyak PR yang harus dijawab akan permasalah di Sumbawa. Ini menjadi tantangan yang harus terjawab dengan membenahi insan yang tergabung dalam partai ini.
Bravo Musda PAN Sumbawa !
Bandung 23 Juli 2000
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda