Rabu, 30 Juli 2008

Poros Samawa

. Rabu, 30 Juli 2008

Perubahan begitu cepat, dan kita harus mengikuti perubahan tersebut. Bukan larut dalam perubahan karena selamanya akan menjadi object dari perubahan yang berlangsung.
Sungguh menarik dalam kajian teoritis, upaya untuk membebaskan diri dari genggaman kekuasaan hegemoni propinsi merupakan tindakan nyata komponen Samawa dalam menemukan satu tujuan. Gerakan yang ada melibatkan komponen pendobrak yang kebanyakan diilhami dari gerakan generasi muda. Dalam tataran lokal gerakan tersebut merupakan upaya pembebasan diri dari tradisi heirarkis yang menempatkan Sumbawa sebagai objeck pemerasan. Kesadaran yang ada bukan hanya digaungkan dalam tahap wacana semata, tapi lebih sistimatis menuju pembagian peran untuk mengubah struktur baku yang memang tidak menguntungkan Sumbawa.


“Selamat datang Sumbawa Barat” merupakan refleksi nyata yang dituangkan dalam gerakan kampanye, bahwa Sumbawa akan menjadi bagian Integral dalam tataran “Samawa”. Dalam pandangan kekinian terobosan Sumbawa Barat mendeklarasikan dirinya sebagai Kabupaten mandiri mendapat sikap pro dan kontra sesama Samawa. Kajian ini adalah wajar dikala pemahaman sebagaian masyarakat kita belum mengetahui tujuan akhir dari semua rencana Integral Kabupaten Sumbawa. Tuduhan dan malah sikap antagonis ditujukan kepada komponen pengerak Sumbawa Barat bahwa mereka terlalu arogan memisahkan kultur Samawa akan kemandirian mereka. Ini akan sangat beralasan jika kita menarik benang merah bahwa sikap komponen Sumbawa Barat dilatarbelakangi oleh maraknya investasi diwilayahnya. Ini memang kenyataan tapi bukan itu merupakan alasan yang mendasar, puluhan tahun kebelakang upaya untuk membagi Sumbawa menjadi beberapa Kabupaten telah diupayakan, namun masih terhambat oleh Birokrasi yang berlangsung di Rezim Orde Baru. Kenyataan ini didasarkan dengan mempersiapkannya Kecamatan Alas sebagai calon Ibukota. Semua itu merupakan kilas balik bahwa pemekaran Kabupaten hanya menunggu waktu yang tertunda.

Gaung pemekaran Kabupaten Sumbawa makin menuju tangga optimal, berbagai rekomendasi telah dan akan dikeluarkan untuk menjadikan Sumbawa Barat sebagai Kabupaten Mandiri. Dalam perjalanan menuju pencarian diri tersebut ide awal Nama Kabupaten Sumbawa Barat terproses menjadi Samawa Ano Rawi. Proses yang ada melahirkan Poros Samawi sebagai penggerak wacana pemekaran.

Gambaran jelas akan peran Sumbawa kedepan merupakan rangkaian integral dari segala proses yang ada di Sumbawa saat ini. Kabupaten Samawa Ano Rawi hanyalah merupakan titik terkecil dari rencana besar untuk tetap menjadikan Sumbawa menjadi kekuatan yang besar. Adalah sangat tidak fair jika semua akan tertuju pada pengembangan Samawa Ano Rawi ( Samawi ) . Potensi diSumbawa merupakan sebaran ekonomis meskipun belum semuanya termanfaatkan secara optimal.

Sumbawa Timur dengan potensi lahan tidurnya merupakan aset yang sangat potensial dalam mengembalikan Sumbawa sebagai gudangnya ternak. Dengan sentuhan tekhnogi modern lahan-lahan yang ada tersebut akan berubah menjadi sebuah potensi ekonomi yang sangat besar. Ditambah dengan masih banyaknya Sumber mineral yang belum dieksplorasi merupakan aset masa depan dalam menyimbangkan pembangunan didataran Samawa.

Arah kebijakan yang ada bukan lagi memfokuskan sebagian daerah yang telah berkembang, namun alangkah baiknya secara bersama-sama komponen Sumbawa dari Timur sampai Barat memikirkan agar Sumbawa secara berkesinambungan melahirkan Kabupaten-kabupaten Baru. Target jangka menengah sudah tentu arahnya akan difokuskan agar Sumbawa Timur juga akan menjadi Kabupaten Mandiri. Proses yang akan ditempuh setidaknya telah mendapat angin segar dari penentu kebijakan di Sumbawa.

Dua dorongan besar akan menjadi momentum bangkitnya Sumbawa dalam menciptakan iklim kompetisi yang sehat. Dorongan dari Sumbawa barat dan Timur merupakan alasan riel bagi komponen samawa dalam menghilangkan sekat perbedaan dalam menggapai tujuan bersama “ Samawa merdeka”.

Di Sumbawa Barat dengan poros samawinya dan di Sumbawa Timur alangkah baiknya dibentuk lembaga penggerak seperti halnya Sumbawa Barat. Equilibrium dua langkah tersebut akan melahirkan Poros Samawa yang merupakan refleksi dari kepentingan gerakan Rakyat Sumbawa dari Timur Sampai ke Barat. Dalam gambaran nyatanya poros Samawa ini akan diisi oleh komponen-komponen penggerak yang merupakan aktivis dengan gambaran visi yang jelas akan masa depan Sumbawa.

Sekat perbedaan dan priksi kepentingan yang selama ini menjadi identitas dalam pergerakan merupakan tantangan tersendiri bagi pelaku gerakan di Sumbawa. Semua itu akan sia-sia jika tahap awal semuanya telah membicarakan apa yang akan “aku”, “kami” dapatkan. Nilai pergerakan ini akan bernilai jika semua langkah yang ada diniatkan dengan tulus tanpa pamrih. Semua diserahkan dan ternilai oleh maha pencipta.

Tulang Punggung gerakan yang ada sudah semestinya dibebankan kepada generasi Mudanya, pendelegasian wewenang dan tanggung jawab dari generasi tua merupakan strategi jangka panjang untuk menghindari Missing Link leadership. Sehingga pada akhirnya kelangkaan calon-calon pemimpin dapat diatasi dengan bijaksana.

Konsep sebuah gerakan Modern tak lepas dari peran pengeraknya menciptakan sebuah Network atau jaringan. Gerakan Massa hanya merupakan bagian terkecil tapi belum tentu efektif membentuk wacana positif. Dengan pola pikir strategi efektif niscaya wacana yang ada akan menjadi sebuah kekuatan besar dalam menggerakkan rakyat Sumbawa akan sebuah tujuan besar.

Apa yang diharapkan dari rencana tersebut tak lain adalah perubahan dalam peta pemerintahan Indonesia. Target untuk membentuk sebuah Provinsi mandiri merupakan tujuan menengah dalam mengeksiskan peran Sumbawa dalam percaturan nasional. Dalam koridor perubahan dunia peta politik Indonesia juga akan mengalami pergeseran jika memang benar Sumbawa akan menjadi sebuah wilayah yang berdaulat. Semauanya merupakan rencana besar, namun rencana tersebut tidak akan efektif andaikata pemahaman akan pencapaian tidak diiringi dengan sosialisasi yang baik kepada masyarakat Sumbawa. Akan menjadi sia-sia dan melahirkan pertentangan jika komunikasi yang dibangun hanya terbata-bata atau sepotong-potong.

Kemampuan individu dalam membentuk network merupakan keharusan dalam memulai gerakan integral ditanah Samawa. Bukan lagi membicarakan kepentingan kelompok yang terlalu sempit pemahamannya, terlebih jangkauan penguasaan permasalahan integral dalam satu pemahaman adalah potensi yang harus diasah bagi individu pengerak di Sumbawa. Kepemimpinan informal dengan batasan lokal merupakan serangkaian potensi yang perlu dirangkaikan dalam gerakan Poros Samawa ini. Semua langkah yang akan ditempuh merupakan perpaduan antara seni dan kemampuan merangkaikan sumber daya terbatas menjadi nukleos yang dahsyat.

Sikap bijaksana akan dituntut kepada komponen Poros Samawi yang terlebih dahulu melakukan upaya pemekaran wilayah. Pengalaman dan tantangan yang ada merupakan pelajaran berharga yang perlu ditransferkan kepada komponen penggerak dari Sumbawa Timur. Balancing yang diharapkan akan mengurangi ketimpangan lead Time dalam menunggu waktu yang tepat akan kemandirian tersebut.

Kemampuan itu pasti ada, namun mungkin belum kita temukan dimana sebaran kemampuan tersebut. Penulis percaya Sumbawa Timur juga akan bergerak seperti halnya rekan-rekan Sumbawa Barat dalam memadukan keharmonian tujuan akhir tanah samawa.

Satu kata, satu tujuan demi kemajuan tanah Samawa. Kesempatan pasti ada tinggal bagaimana manusianya mensiasati kesempatan tersebut.

Bravo Poros Samawa !





Bandung, 27 July 2001

Arif Hidayat



0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com