Hasil kongret tercetus dari sepercik niat, diaplikasikan dengan tindakan nyata dalam perjalanan yang belum tentu sepenuh pengharapan.
Manusia merupakan realitas dari rencana maha kuasa untuk bergerak mencapai kemuliaannya, sudah tentu perubahan yang dihasilkan merupakan entry positif dalam kaidah mormatif pada garis – garis kebijakan.Peradaban akan mengalami evolusi dalam tingkatan dan periode tertentu. Manusia akan menciptakan sejarah dalam tingkatan tersebut. Sikap tabu untuk mengharamkan perubahan sejarah merupakan bentuk nyata dalam menolak perubahan. Seribu asumsi dan alasan akan dilontarkan tentang dampak negatif yang akan diakibatkan dari sebuah perubahan. Bukan hanya sebatas itu mereka akan menggunakan identitas lokal sebagai pemersatu yang buktinya tidak bisa menciptakan tatanan persaingan, lahirlah generasi yang dimanja oleh lingkungan. Tidak ada yang perlu dibanggakan kecuali ketertinggalan. Pola pikir ini akan menjadi kendala yang sangat berat dalam mengembalikan sumbawa pada kemandirian Mikro. Saat ini dengan wilayah dua pertiga pulau Sumbawa merupakan kekuatan besar untuk bangkit jika manusia-manusia didalamnya menyadari bahwa kekuatan tersebut memang ada. Akan sangat teatrikal jika gambaran kekuatan tersebut hanya sebatas konsep tanpa tindak lanjut akan sebuah aksi.
Manarik dikaji, Status Pulau Seribu menjadi sebuah pemerintahan administratif merupakan cetusan positif membangun kemandirian lokal. Tanpa gembar – gembor yang over, hasil nyata mengungkapkan panutan kebersamaan. Akan sangat sangat paradox jika kenyataan ini berdampingan dengan kondisi di Sumbawa. Tarik menarik kepentingan selalu menjadi bagian yang kontras dalam mewujudkan Sumbawa dalam satu persaingan yang sehat.
Sumbawa Barat sudah menjadi wacana lokal akan sebuah kemandirian administrasi pemerintahan. Harapan terus berdatangan akan realisasi sebuah Kabupaten Baru.
Tak lepas dari wacana berkembang, komponen pendukung yang mencetuskan ide Sumbawa Barat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan babak baru Sumbawa dalam rangkaian sejarah. Rangkaian ini tidaklah untuk diputuskan saat ini, namun perlu di dukung sebagai lokomotif penggerak akan sebuah hasil. Perjalanan waktu tidak bisa dipisahkan dari sejarah yang terbentuk, dari Komite hingga Kongres rakyat merupakan babak yang telah dilalui dalam mewujudkan Impian tersebut. Sampai saat ini belum mencapai titik klimaks meskipun pemerintah secara resmi telah membentuk Badan Pengkajian tentang Sumbawa Barat. Akankah terus menciptakan rangkaian tarik ulur lagi bagi penentu kebijakan dalam pembentukan Sumbawa Barat ini. Inilah yang akan menjadi kendala nyata bagi individu-individu yang tergabung dalam Badan pengkajian tersebut.
Ada beberapa argument taktis untuk disosialisasikan kepada masyarakat Sumbawa, pembentukan Kabupaten baru tersebut bukanlah upaya untuk mencabut Sumber keuangan Kabupaten Sumbawa. Dokrinisasi tentang Sumber keuangan akan menjadi bagian yang kuat untuk tidak melepaskan Sumbawa Barat dari kabupaten Sumbawa. Dan ini yang menjadi basic thingking bagi penentu keputusan di Sumbawa Besar. Padahal Sumber keuangan yang berjangka panjang belum tersentuh oleh kebijakan lokal.
Sederet rencana telah terpancang bagi masa depan Sumbawa, Sumbawa Barat belum terealisasi, sudah muncul keinginan untuk menciptakan Sumbawa sebagai kota Administratif. Wacana ini wajar namun alangkah baiknya kita mengalokasikan fokus dalam bagian – bagian mikro. Kebersamaan semua komponen untuk mengoalkan secepatnya Sumbawa barat merupakan gerbang untuk melangkah dalam tahapan selanjutnya. Bisa jadi Sumbawa akan menjadi tiga komponen pendukung, yaitu Sumbawa Barat, Sumbawa timur dan Sumbawa itu sendiri yang berubah menjadi Kota Sumbawa. Kesatuan persepsi untuk saling bahu membahu menciptakan Sumbawa Baru haruslah kita tancapkan saat ini. Tidak ada yang perlu disingkirkan namun yang ada hanyalah sebuah pemberdayaan yang bertahap.
Kesadaran untuk mengakui kekuatan perubahan terletak pada Sumber daya manusianya harus ditanamkan mulai saat ini. Akan timbul kepincangan jika distribusi peran hanya dimainkan oleh sekelompok kecil masyarakat yang kebetulan mempunyai akses terhadap perubahan dan lingkungan. Penciptaan regenerasi SDM adalah tanggung jawab moral bagi Komponen penggerak yang saat ini boleh dibilang masih eksis untuk bisa menciptakan wacana. Tidak ada kata lagi “Missing Link” itu terputus oleh lemahnya SDM dalam menangani perubahan yang ada.
Tersebar SDM sumbawa diberbagai tempat, bukan lagi berita baru. Mengoptimalkan SDM tersebut untuk Sumbawa merupakan bukti baru bahwa koherensi yang ada belum bisa menciptakan kristalisasi Visi bagi Sumbawa Baru. Bergerak dari komponen terkecil merupakan langkah awal untuk menciptakan kristalisasi Visi, ada beberapa kemudahan yang bisa kita manfaatkan sebagai jalan terobosan. Salah satunya Komunitas Virtual berupa Internet.
Satu tahun lagi kita telah masuk dalam persaingan regional Berupa AFTA, yaitu pasar bebas dikawasan ASEAN. Tanpa perencanan yang matang akan peran Sumbawa, niscaya akan tergilas oleh kemajuan. Sumber daya alam merupakan ironi manis dalam menciptakan alasan akan sebuah kemajuan. Namun itu akan habis dengan sifatnya yang terbatas. Langkah kongret yang perlu dilakukan tak lain memanfaatkan hasil dari SDA tersebut seoptimal mungkin untuk inveatasi jangka panjang. Investasi tersebut adalah perubahan yang diawali Oleh Sumber daya manusianya yang kompetitif terhadap perubahan.
Masih ada waktu untuk menciptakannya. Gandengkan rangkaian kekuatan dari Timur Sumbawa sampai Barat Sumbawa menuju lahirnya era Baru “Sumbawa Baru”.
Bandung, October 3, 2001
Arif Hidayat
Manarik dikaji, Status Pulau Seribu menjadi sebuah pemerintahan administratif merupakan cetusan positif membangun kemandirian lokal. Tanpa gembar – gembor yang over, hasil nyata mengungkapkan panutan kebersamaan. Akan sangat sangat paradox jika kenyataan ini berdampingan dengan kondisi di Sumbawa. Tarik menarik kepentingan selalu menjadi bagian yang kontras dalam mewujudkan Sumbawa dalam satu persaingan yang sehat.
Sumbawa Barat sudah menjadi wacana lokal akan sebuah kemandirian administrasi pemerintahan. Harapan terus berdatangan akan realisasi sebuah Kabupaten Baru.
Tak lepas dari wacana berkembang, komponen pendukung yang mencetuskan ide Sumbawa Barat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan babak baru Sumbawa dalam rangkaian sejarah. Rangkaian ini tidaklah untuk diputuskan saat ini, namun perlu di dukung sebagai lokomotif penggerak akan sebuah hasil. Perjalanan waktu tidak bisa dipisahkan dari sejarah yang terbentuk, dari Komite hingga Kongres rakyat merupakan babak yang telah dilalui dalam mewujudkan Impian tersebut. Sampai saat ini belum mencapai titik klimaks meskipun pemerintah secara resmi telah membentuk Badan Pengkajian tentang Sumbawa Barat. Akankah terus menciptakan rangkaian tarik ulur lagi bagi penentu kebijakan dalam pembentukan Sumbawa Barat ini. Inilah yang akan menjadi kendala nyata bagi individu-individu yang tergabung dalam Badan pengkajian tersebut.
Ada beberapa argument taktis untuk disosialisasikan kepada masyarakat Sumbawa, pembentukan Kabupaten baru tersebut bukanlah upaya untuk mencabut Sumber keuangan Kabupaten Sumbawa. Dokrinisasi tentang Sumber keuangan akan menjadi bagian yang kuat untuk tidak melepaskan Sumbawa Barat dari kabupaten Sumbawa. Dan ini yang menjadi basic thingking bagi penentu keputusan di Sumbawa Besar. Padahal Sumber keuangan yang berjangka panjang belum tersentuh oleh kebijakan lokal.
Sederet rencana telah terpancang bagi masa depan Sumbawa, Sumbawa Barat belum terealisasi, sudah muncul keinginan untuk menciptakan Sumbawa sebagai kota Administratif. Wacana ini wajar namun alangkah baiknya kita mengalokasikan fokus dalam bagian – bagian mikro. Kebersamaan semua komponen untuk mengoalkan secepatnya Sumbawa barat merupakan gerbang untuk melangkah dalam tahapan selanjutnya. Bisa jadi Sumbawa akan menjadi tiga komponen pendukung, yaitu Sumbawa Barat, Sumbawa timur dan Sumbawa itu sendiri yang berubah menjadi Kota Sumbawa. Kesatuan persepsi untuk saling bahu membahu menciptakan Sumbawa Baru haruslah kita tancapkan saat ini. Tidak ada yang perlu disingkirkan namun yang ada hanyalah sebuah pemberdayaan yang bertahap.
Kesadaran untuk mengakui kekuatan perubahan terletak pada Sumber daya manusianya harus ditanamkan mulai saat ini. Akan timbul kepincangan jika distribusi peran hanya dimainkan oleh sekelompok kecil masyarakat yang kebetulan mempunyai akses terhadap perubahan dan lingkungan. Penciptaan regenerasi SDM adalah tanggung jawab moral bagi Komponen penggerak yang saat ini boleh dibilang masih eksis untuk bisa menciptakan wacana. Tidak ada kata lagi “Missing Link” itu terputus oleh lemahnya SDM dalam menangani perubahan yang ada.
Tersebar SDM sumbawa diberbagai tempat, bukan lagi berita baru. Mengoptimalkan SDM tersebut untuk Sumbawa merupakan bukti baru bahwa koherensi yang ada belum bisa menciptakan kristalisasi Visi bagi Sumbawa Baru. Bergerak dari komponen terkecil merupakan langkah awal untuk menciptakan kristalisasi Visi, ada beberapa kemudahan yang bisa kita manfaatkan sebagai jalan terobosan. Salah satunya Komunitas Virtual berupa Internet.
Satu tahun lagi kita telah masuk dalam persaingan regional Berupa AFTA, yaitu pasar bebas dikawasan ASEAN. Tanpa perencanan yang matang akan peran Sumbawa, niscaya akan tergilas oleh kemajuan. Sumber daya alam merupakan ironi manis dalam menciptakan alasan akan sebuah kemajuan. Namun itu akan habis dengan sifatnya yang terbatas. Langkah kongret yang perlu dilakukan tak lain memanfaatkan hasil dari SDA tersebut seoptimal mungkin untuk inveatasi jangka panjang. Investasi tersebut adalah perubahan yang diawali Oleh Sumber daya manusianya yang kompetitif terhadap perubahan.
Masih ada waktu untuk menciptakannya. Gandengkan rangkaian kekuatan dari Timur Sumbawa sampai Barat Sumbawa menuju lahirnya era Baru “Sumbawa Baru”.
Bandung, October 3, 2001
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda