Mengukur Peran Pemda Sumbawa Dalam Meningkatkan SDM Kepegawaian
Oleh arif
Urung rembuk masalah intern Pemda Sumbawa merupakan hak pasti dari Pemda Sumbawa itu sendiri, namun metode kontrol yang datang dari luar sisitem dapat menjadi balance bagi pengembangan metode dan kebijakan yang dikeluarkannya.
Perhatian serius tentang SDM merupakan program yang tak bisa disepelekan begitu saja, karena nilai investasi jangka panjang ini akan menentukan arah pembangunan dan kebijakan ditanah Sumbawa untuk tahun mendatang. Proyek ini merupakan pengharapan untuk menembus dosa-dosa terdahulu pemda Sumbawa akan minimnya perhatian akan regenarasi aparatur Pemda akan pengembangan pengetahuan dan skillnya. Sampai-sampai periode sebelumnya dalam hal kepemimpinan puncak di Sumbawa tidak adanya putra daerah dikarenakan terbatasnya masalah pendidikan lanjutannya.
Penerapan otonomi daerah sudah diambang pintu, segala konsekwensi yang selama ini menjadi doktrinisasi pusat akan menjadi tanggung jawab daerah. Persiapan untuk menyongsong dan menerapkan otonomi tersebut tak lain harus bisanya penyesuain SDM itu sendiri.
Menilik langkah yang selama ini dirancang oleh Pemda Sumbawa untuk mempersiapkan SDM dalam lingkup Pemda setidaknya sudah mengarah pada Goodwill project. Tiga tahun terakhir merupakan langkah nyata dalam pemberdayaan SDM pemda Sumbawa dengan jalan mengirimkan Mahasiswa tugas Belajar kedaerah lain. Jenjang pendididkan yang ditempuh juga bervariasi dari tingkat Diploma sampai dengan S2. Sepintas program tersebut terlihat mengembirakan namun dalam aplikasi dilapangan perlu pembaharuan yang jelas akan keberpihakan pemda Sumbawa akan konstribusi bagian yang harus didapatkan oleh Etnis Sumbawa. Dari pantauan selama ini terdapat kelemahan diantaranya.
1. Mahasiswa tugas belajar yang dikirim prosentasenya sangat minin dibandingkan dengan Pemda lainnya dalam lingkup NTB.
2. Pengiriman Mahasiswa yang bukan etnis Sumbawa, namun bertugas diSumbawa masih harus dipertanyakan komitmennya terhadap Sumbawa, mengingat setelah menyelesaikan tugas belajar mereka kebanyakan pindah kedaerah asalnya. Hal ini merupakan beban Pemda Sumbawa karena biaya yang dikeluarkan merupakan beban Pemda Sumbawa.
3. Peran sosial yang diemban oleh mahasiswa tugas belajar didaerah tujuan ternyata masih lemah, hal ini terlihat kurangnya inisiatif mereka untuk berbaur dengan etnis Sumbawa yang sudah lama bertempat tinggal didaerah tersebut.
4. Khusus untuk mahasiswa tugas belajar angkatan 2000 ke Bandung, pemda Sumbawa menerapkan kebijakan ganda, yang menimbulkan diskriminasi. Hal ini terbukti dengan terlihatnya Pemda Sumbawa untuk melemparkan tanggung jawab dalam hal dana Tunjangan Belajar. Tugas belajar kedaerah lain seperti Jokjakarta, Ujung Pandang dan Padang dana Tunjangan Belajar sudah lama cair, namun Mahasiswa yang berada di Bandung seolah-olah dipingpong dalam mengurus dana Tunjangan Belajar tersebut
Dari peristiwa point terakhir dapat menimbulkan akses diantaranya
1. Kecurigaan penyelewengan Dana tunjangan belajar oleh Bagian Diklat kepegawain Pemda Sumbawa. Dikarenakan Tidak adanya klarikasi dan penjelasan yang jelas mengenai ketidak cairan dana tersebut.
2. Menimbulkan rasa frustasi bagi mahasiwa tugas belajar, karena ketidakjelasan kebijakan di Pemda Sumbawa
3. Akan menimbulkan preseden yang buruk bagi regenasi dilingkungan Pemda Sumbawa.
4. Bukan mustahil dari hal yang sepele tersebut akan menimbulkan pembangkangan internal yang lambat laun akan menganggu kinerja di Pemda Sumbawa.
Kearifan berpikir bagi seluruh staff Pemda Sumbawa untuk mengedepankan faktor pendidikan haruslah dirangsang semaksimal mungkin. Kita tidak bisa menutup mata akan sikap apatis dan iri dari pengawai senior yang hanya lulusan tingkat menengah akan menjadi penyebab dijegalkannya pegawai muda ( Yunior ) dalam melanjutkan studinya.
Gambaran jelas dan pasti akan masa depan Sumbawa justru terletak pada pegawai mudanya, insan Senior lambat laun dengan hukum alam akan menjalani masa pensiunannya.
Teruskah kita iri dengan masa depan generasi muda kita ?
Tolonglah Bapak-bapak senior untuk berpikir dengan nurani yang jernih akan masa depan Sumbawa.
Bandung, 15 Juni 2000
Arif Hidayat
Penerapan otonomi daerah sudah diambang pintu, segala konsekwensi yang selama ini menjadi doktrinisasi pusat akan menjadi tanggung jawab daerah. Persiapan untuk menyongsong dan menerapkan otonomi tersebut tak lain harus bisanya penyesuain SDM itu sendiri.
Menilik langkah yang selama ini dirancang oleh Pemda Sumbawa untuk mempersiapkan SDM dalam lingkup Pemda setidaknya sudah mengarah pada Goodwill project. Tiga tahun terakhir merupakan langkah nyata dalam pemberdayaan SDM pemda Sumbawa dengan jalan mengirimkan Mahasiswa tugas Belajar kedaerah lain. Jenjang pendididkan yang ditempuh juga bervariasi dari tingkat Diploma sampai dengan S2. Sepintas program tersebut terlihat mengembirakan namun dalam aplikasi dilapangan perlu pembaharuan yang jelas akan keberpihakan pemda Sumbawa akan konstribusi bagian yang harus didapatkan oleh Etnis Sumbawa. Dari pantauan selama ini terdapat kelemahan diantaranya.
1. Mahasiswa tugas belajar yang dikirim prosentasenya sangat minin dibandingkan dengan Pemda lainnya dalam lingkup NTB.
2. Pengiriman Mahasiswa yang bukan etnis Sumbawa, namun bertugas diSumbawa masih harus dipertanyakan komitmennya terhadap Sumbawa, mengingat setelah menyelesaikan tugas belajar mereka kebanyakan pindah kedaerah asalnya. Hal ini merupakan beban Pemda Sumbawa karena biaya yang dikeluarkan merupakan beban Pemda Sumbawa.
3. Peran sosial yang diemban oleh mahasiswa tugas belajar didaerah tujuan ternyata masih lemah, hal ini terlihat kurangnya inisiatif mereka untuk berbaur dengan etnis Sumbawa yang sudah lama bertempat tinggal didaerah tersebut.
4. Khusus untuk mahasiswa tugas belajar angkatan 2000 ke Bandung, pemda Sumbawa menerapkan kebijakan ganda, yang menimbulkan diskriminasi. Hal ini terbukti dengan terlihatnya Pemda Sumbawa untuk melemparkan tanggung jawab dalam hal dana Tunjangan Belajar. Tugas belajar kedaerah lain seperti Jokjakarta, Ujung Pandang dan Padang dana Tunjangan Belajar sudah lama cair, namun Mahasiswa yang berada di Bandung seolah-olah dipingpong dalam mengurus dana Tunjangan Belajar tersebut
Dari peristiwa point terakhir dapat menimbulkan akses diantaranya
1. Kecurigaan penyelewengan Dana tunjangan belajar oleh Bagian Diklat kepegawain Pemda Sumbawa. Dikarenakan Tidak adanya klarikasi dan penjelasan yang jelas mengenai ketidak cairan dana tersebut.
2. Menimbulkan rasa frustasi bagi mahasiwa tugas belajar, karena ketidakjelasan kebijakan di Pemda Sumbawa
3. Akan menimbulkan preseden yang buruk bagi regenasi dilingkungan Pemda Sumbawa.
4. Bukan mustahil dari hal yang sepele tersebut akan menimbulkan pembangkangan internal yang lambat laun akan menganggu kinerja di Pemda Sumbawa.
Kearifan berpikir bagi seluruh staff Pemda Sumbawa untuk mengedepankan faktor pendidikan haruslah dirangsang semaksimal mungkin. Kita tidak bisa menutup mata akan sikap apatis dan iri dari pengawai senior yang hanya lulusan tingkat menengah akan menjadi penyebab dijegalkannya pegawai muda ( Yunior ) dalam melanjutkan studinya.
Gambaran jelas dan pasti akan masa depan Sumbawa justru terletak pada pegawai mudanya, insan Senior lambat laun dengan hukum alam akan menjalani masa pensiunannya.
Teruskah kita iri dengan masa depan generasi muda kita ?
Tolonglah Bapak-bapak senior untuk berpikir dengan nurani yang jernih akan masa depan Sumbawa.
Bandung, 15 Juni 2000
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda