Senin, 28 Juli 2008

Mengukur Akur Paradigma LSM Sumbawa

. Senin, 28 Juli 2008

Mengukur Akur Paradigma LSM Sumbawa


Oleh arif

Booming keberadaan LSM ( lembaga swadaya masyarakat ) adalah kenyataan yang tak bisa dipungkiri dalam suasana reformasi saat ini. LSM dalam istilah kerennya NGO ( non Government Organisation ) adalah lembaga yang bergerak dalam mengerakkan ekonomi, wawasan serta upaya lain menoreh partisipatif dalam masyarakat. Pola kerja yang bersifat Volunter (kesukarelaan) adalah bagian utama dari visi pembentukan LSM itu sendiri.

Dalam gerak dan langkah yang ada keberadaan LSM ini setidaknya membawa harapan baru akan partisipasi aktif menciptakan suasana Demokrasi. namun dilain pihak penyalahgunaan wewenang LSM yang tak bisa dilepaskan dari sifat individu yang berhasrat mempergunakan LSM sebagai ujung tombok untuk memaksakan ambisinya, adalah kenyataan pahit yang harus dihindari oleh insan LSM.

Bagaimana LSM di Sumbawa ?

Pertumbuhan LSM di Sumbawa bagaikan deret ukur, itu cukup mengembirakan. Latar belakang pertumbuhan tersebut di akibatkan oleh faktor politik, sosial dan ekonomi. Dalam perjalanan yang terkesan dengan euforio reformasi langkah dan bukti nyata keberadaan LSM sumbawa masih harus membenahi diri.

Tak mengherankan kita mungkin bertanya perubahan apa yang ada. Kenyataan rill dari pola kerja LSM di Sumbawa masih merupakan tanda tanya. Sifat dasar yang digunakan untuk kepentingan sesaat lebih mendominasi ketimbang visi kedepan dalam berkompetisi diera Global. Namun tidak semua LSM yang ada di Sumbawa mewarnai kepentingan sesaat dalam percaturan kiprahnya.

Roda waktu mengantarkan penilaian dari berbagai komponen yang variatif, sejauh ini kelemahan yang terindentifikasi bagi LSM di Sumbawa yaitu :

1. LSM yang yang lahir kebanyakan di latarbelakangi untuk kepentingan politis.Bukan terfokus untuk kepentingan Sosial dan ekonomi masyarakat.

2. Kapabilitas dan profesionalisme individu yang tergabung dalam LSM belum bisa mengimbangi tuntutan akan perubahan yang cepat.

3. Kiprah LSM yang ada masih sebatas ucapan yang pragmatis, belum memahami dan mendalami segi tehnis yang praktis.

4. Aliansi strategis dengan jaringan LSM regional, nasional maupun internasional masih kurang, sehingga timbul kesan wawasan yang sempit didalamnya.

5. Berdirinya suatu LSM tidak didukung dengan Visi dan Misi yang jelas ditambah lagi kerangka kerja yang kongret tidak signifikan dengan kebutuhan dalam masyarakat.

Dari kenyataan yang tergambar akses negatif yang tergores di memori lingkungannya yaitu,

1. Berkurangnya kepercayaan untuk mengadakan kerjasama, dikarenakan masih perlunya dipertanyakan kemampuan akan keahlian individu yang tergabung dalam LSM tertentu.

2. Akan timbulnya sikap apatis dari masyarakat karena LSM tersebut hanya pintar ngomong, dibandingkan memperjuangkan ekonomi masyarakat.

3. Timbulnya kesan bahwa berdirinya LSM tersebut hanya sebagai Opportunis, bukan idealis

Dari pengalaman dan data yang terkumpul ada beberapa kenyataan yang membuktikan bahwa LSM di Sumbawa akan membawa dampak Delematis baik bagi masa depan LSM itu sendiri maupun bagi pihak lain yang mengadakan kerjasama.

Kerja sama dengan investor yang ada malah melahirkan ouput yang tidak memenuhi standar minimal yang telah ditetapkan oleh Company yang mengadakan kerjasama. Contohnya LSM yang berada dilingkar tambang Batu Hijau. Disini dituntut adanya kerjasama dengan LSM lokal. konstribusi dan hasil nyata dari LSM lokal belum bisa mengimbangi pola kerja dari partership lainnya dari luar Sumbawa. Dilain pihak etnis Sumbawa terus berteriak untuk mengatakan ini "Aku" pemilik sah dari tanah ini. Sebenarnya kita harus introspeksi bahwa kerjasama bukan hanya dilatarbelakangi oleh faktor kebetulan. Dan ini terbukti di Sumbawa, anugerah alam berupa mineralnya membawa etnis Sumbawa dalam perubahn baru. Dalam jangka pendek mungkin akan memberikan dampak langsung bagi etnis Sumbawa, namun jangka panjang justru akan menjadi Bumerang. Tidak ada didunia ini dunia usaha yang hanya memberikan ikan pada yang ditolongnya, namun pancinglah yang justru menyelamatkan suatu bangsa akan kemandiriannya. Disinilah dituntut tugas dan partisipasi aktif dari LSM di Sumbawa untuk bisa membangun dan merubah mentalitas warganya. Tahap awal yang dikerjakan tak lain adalah perubahan internal dari diri individu yang tergabung dalam LSM tersebut. Akannkah CAP ' omomng kosong' akan kita pertahankan ? rasanya tidak.

Kesatuan visi untuk membangun Sumbawa juga masih rendah, LSM yang lahir juga menimbulkan kesan eksklusifitas, padahal pembetukan jaringan kerja yang luas akan melahirkan perubahan yang berarti untuk bisa memberikan konstribusi bagi Sumbawa

Kita tak ingin LSM di Sumbawa hanya berkutat memperjuangkan kepentingannya masing-masing yang justru akan menimbulkan akses kurang sehatnya persaingan dan kerjasama untuk masa depan. Akankah sikap mengobok-obok sesama LSM di Sumbawa menjadi kenyataan yang bisa menimbulkan konflik horisontal ? marilah kita berkaca dari pengalaman.



Bandung, 6 Juli 2000

Arif Hidayat

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com