Sangat mudah menjadi penghianat, terlalu rumit menjadi idealis.
Peluang adalah nilai berarti bagi orang yang jeli melihatnya, seiring dengan peluang yang ada tak sedikit visi dan misi untuk memanfaatkan peluang tersebut bias dengan variatif kepentingan yang memboncenginya.Adalah kenyataan pasti akan ukiran langkah yang ditempuh oleh individu, kelompok ataupun institusi di Sumbawa untuk mengedepan indentitasnya dalam perubahan lingkungan dengan datangnya angin reformasi. Sarat makna dalam ucapan semua mengklaim dirinya sebagai faktor pendukung dan penentu REFORMASI daerah. Namun sungguh pahit dalam kenyataan, klaim reformasi tersebut justru membawa kemunduran Sumbawa dalam kubang status Quo. Sama sekali belum menyentuh dalam pemahaman Civil Society.
Indonesia dalam hitungan angka ke-55, hanya sebuah makna wacana tanpa pemahaman pasti akan apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini. Itu kita teropongkan dalam skala nasional. Teropong mikro dalam skala lokal sudah pasti keprihatinan terhadap Sumbawa akan menyayat pertanyaan pasti “ Kemana Sumbawa akan di Bawa ?”.
Sebuah kado kemerdekaan yang cukup rumit untuk diwujudkan justru sangat dinantikan oleh rakyat Sumbawa yaitu Lengsernya Latief Majid dari Bupati Sumbawa. Kado tersebut untuk mendapatkannya diperlukan pengorbanan yang tak kecil nilainya. Kenyataan cukup mengembirakan diawal tuntutan reformasi dalam kasus pemilihan Bupati Sumbawa. Banyak LSM yang tergugah untuk menyelamatkan Sumbawa dari sekelompok pemburu kekuasaan. Mereka berlomba menunjukkan ini “AKU’ sebagai bagian pengukir sejarah reformasi Sumbawa. Angin perubahan begitu cepat terkontaminasi, pelantikan Sdr. Latief Majid dengan bantuan intervensi Gubernur NTB mengubah haluan sekelompok LSM untuk mengakhiri petualangan politiknya sebagai bagian idealis. Adalah hak pasti kebebasan untuk menentukan kearah mana pola pikir individu ataupun kelompok untuk memihak kepada siapapun. Perubahan pola pikir yang cendrung cepat menunjukkan betapa picik dan kerdilnya kita menghadapi kekuasaan formal yang didukung oleh pemerintah. Kita cendrung membutai diri sendiri akan kelegalan yang ditinjau dari segi hukum dan moralitas. Kecendrungan untuk berbangga menjadi oppotunies setidaknya mengenjala seiring dengan tawaran kompromis lingkaran Bupati terpilih.
Taruhan pasti akan pengingkaran makna reformasi tersebut adalah moralitas. Sengaja atau tidak moralitas tersebut digadaikan demi kedekatan dengan kelompok eksekutif dan legeslatif. Padahal kedua kelompok tersebut belum tentu bertahan dalam hitungan 365 hari.
Kecendrungan untuk menggadaikan moralitas sangat didukung oleh lemahnya pemahaman terhadap agama yang dianutnya. Islam sebagai kebanggaan dalam KTP hanya bermakna jika hari Raya tiba atau hanya jika Jum’atan berlangsung.
Opportunies lebih tepat memaknai kelompok yang sengaja mengingkari perjuangan Reformasi. Dalam langkah yang dijalankan kelompok opportunies senantiasa mengikuti dinamika yang ada. Saat ini mereka akan lebih mendekatkan diri dalam lingkaran penguasa lokal. Sudah pasti kedekatan ini akan mengarah pada pembagian proyek. Bukan rahasia lagi berbicara mengenai isi perut siapapun rela menjual moralitasnya.dalam psikologis politik kelompok reformis ini juga akan berubah haluan jika kedudukan mereka terancam dengan berbagai kondisi. Andaikata Drs. Latif Majid mundur saat ini niscaya kelompok opportunies ini akan mendeklarasikan dirinya sebagai bagian yang memperjuangkan reformasi. Bunglon adalah perumpamaan dalam langkah mereka.
Sikap opportunies ini akan membawa perubahan besar dalam menilai seberapa jauh etnis Sumbawa menunjukkan komitmennya akan niat awal. Sikap ini bisa berdampak negatif bagi penilain global terhadap etnis Sumbawa. Etnis lain akan memvonis bahwa kerjasama dengan etnis Sumbawa hanya akan membawa ketidakpastian. Bukankah itu akan merugikan etnis Sumbawa secara keseluruhan ? ya sudah pasti.
Kecendrungan opportunies ini sangat didukung oleh torehan langkah dalam Dewan Sumbawa. Integritas sebagai wakil rakyat sengaja digadaikan untuk memperkuat lingkaran kekuasaannya. Banyaknya oknum yang berperan menggadaikan integritasnya merupakan contoh positif bagi kelompok Opportunies ini. Sumbawa dengan sikap paternalistiknya masih pakem melihat bahwa kelompok kekuasaan itu adalah contoh terbaik. Padahal saat ini institusi kekuasaan sudah terkontaminasi dengan kepentingan individu dan kelompok yang cukup membahayakan.
Setidaknya waktu masih memberikan peluang kepada kita untuk masih merenungi langkah yang selama ini kita tempuh. Sebelum terpuruk dalam lingkaran kangker Opportunies yang kritis ada baiknya kita belokkan langkah kita untuk mendukung angin reformasi. Bukankah reformasi memerlukan dukungan dari segenap komponen masyarakat Sumbawa untuk bisa mentrasfer perubahan yang ada. Mimpi masyarakat madani bukan hanya mimpi, kenyataan itu akan bisa dirasakan jika komponen masyarakat Sumbawa mendukung angin reformasi.
Kado terbaik untuk memaknai kemerdekaan RI ke-55 ini, marilah bersatu untuk mendukung angin reformasi di Sumbawa. Angin tersebut tidak mengenal dari mana dia datang. PNS, Swasta, Pelajar, Mahasiswa, Petani, Pedagang, aktivis dll adalah bagian dari kita untuk bisa mengukir sejarah bagi Sumbawa bahwa kebenaran akan tetap kita kedepankan. Marilah bicara dengan nurani apa yang sebenarnya dibutuhkan Sumbawa saat ini.
Bandung, 15 Agustus 2000
Arif Hidayat
Indonesia dalam hitungan angka ke-55, hanya sebuah makna wacana tanpa pemahaman pasti akan apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini. Itu kita teropongkan dalam skala nasional. Teropong mikro dalam skala lokal sudah pasti keprihatinan terhadap Sumbawa akan menyayat pertanyaan pasti “ Kemana Sumbawa akan di Bawa ?”.
Sebuah kado kemerdekaan yang cukup rumit untuk diwujudkan justru sangat dinantikan oleh rakyat Sumbawa yaitu Lengsernya Latief Majid dari Bupati Sumbawa. Kado tersebut untuk mendapatkannya diperlukan pengorbanan yang tak kecil nilainya. Kenyataan cukup mengembirakan diawal tuntutan reformasi dalam kasus pemilihan Bupati Sumbawa. Banyak LSM yang tergugah untuk menyelamatkan Sumbawa dari sekelompok pemburu kekuasaan. Mereka berlomba menunjukkan ini “AKU’ sebagai bagian pengukir sejarah reformasi Sumbawa. Angin perubahan begitu cepat terkontaminasi, pelantikan Sdr. Latief Majid dengan bantuan intervensi Gubernur NTB mengubah haluan sekelompok LSM untuk mengakhiri petualangan politiknya sebagai bagian idealis. Adalah hak pasti kebebasan untuk menentukan kearah mana pola pikir individu ataupun kelompok untuk memihak kepada siapapun. Perubahan pola pikir yang cendrung cepat menunjukkan betapa picik dan kerdilnya kita menghadapi kekuasaan formal yang didukung oleh pemerintah. Kita cendrung membutai diri sendiri akan kelegalan yang ditinjau dari segi hukum dan moralitas. Kecendrungan untuk berbangga menjadi oppotunies setidaknya mengenjala seiring dengan tawaran kompromis lingkaran Bupati terpilih.
Taruhan pasti akan pengingkaran makna reformasi tersebut adalah moralitas. Sengaja atau tidak moralitas tersebut digadaikan demi kedekatan dengan kelompok eksekutif dan legeslatif. Padahal kedua kelompok tersebut belum tentu bertahan dalam hitungan 365 hari.
Kecendrungan untuk menggadaikan moralitas sangat didukung oleh lemahnya pemahaman terhadap agama yang dianutnya. Islam sebagai kebanggaan dalam KTP hanya bermakna jika hari Raya tiba atau hanya jika Jum’atan berlangsung.
Opportunies lebih tepat memaknai kelompok yang sengaja mengingkari perjuangan Reformasi. Dalam langkah yang dijalankan kelompok opportunies senantiasa mengikuti dinamika yang ada. Saat ini mereka akan lebih mendekatkan diri dalam lingkaran penguasa lokal. Sudah pasti kedekatan ini akan mengarah pada pembagian proyek. Bukan rahasia lagi berbicara mengenai isi perut siapapun rela menjual moralitasnya.dalam psikologis politik kelompok reformis ini juga akan berubah haluan jika kedudukan mereka terancam dengan berbagai kondisi. Andaikata Drs. Latif Majid mundur saat ini niscaya kelompok opportunies ini akan mendeklarasikan dirinya sebagai bagian yang memperjuangkan reformasi. Bunglon adalah perumpamaan dalam langkah mereka.
Sikap opportunies ini akan membawa perubahan besar dalam menilai seberapa jauh etnis Sumbawa menunjukkan komitmennya akan niat awal. Sikap ini bisa berdampak negatif bagi penilain global terhadap etnis Sumbawa. Etnis lain akan memvonis bahwa kerjasama dengan etnis Sumbawa hanya akan membawa ketidakpastian. Bukankah itu akan merugikan etnis Sumbawa secara keseluruhan ? ya sudah pasti.
Kecendrungan opportunies ini sangat didukung oleh torehan langkah dalam Dewan Sumbawa. Integritas sebagai wakil rakyat sengaja digadaikan untuk memperkuat lingkaran kekuasaannya. Banyaknya oknum yang berperan menggadaikan integritasnya merupakan contoh positif bagi kelompok Opportunies ini. Sumbawa dengan sikap paternalistiknya masih pakem melihat bahwa kelompok kekuasaan itu adalah contoh terbaik. Padahal saat ini institusi kekuasaan sudah terkontaminasi dengan kepentingan individu dan kelompok yang cukup membahayakan.
Setidaknya waktu masih memberikan peluang kepada kita untuk masih merenungi langkah yang selama ini kita tempuh. Sebelum terpuruk dalam lingkaran kangker Opportunies yang kritis ada baiknya kita belokkan langkah kita untuk mendukung angin reformasi. Bukankah reformasi memerlukan dukungan dari segenap komponen masyarakat Sumbawa untuk bisa mentrasfer perubahan yang ada. Mimpi masyarakat madani bukan hanya mimpi, kenyataan itu akan bisa dirasakan jika komponen masyarakat Sumbawa mendukung angin reformasi.
Kado terbaik untuk memaknai kemerdekaan RI ke-55 ini, marilah bersatu untuk mendukung angin reformasi di Sumbawa. Angin tersebut tidak mengenal dari mana dia datang. PNS, Swasta, Pelajar, Mahasiswa, Petani, Pedagang, aktivis dll adalah bagian dari kita untuk bisa mengukir sejarah bagi Sumbawa bahwa kebenaran akan tetap kita kedepankan. Marilah bicara dengan nurani apa yang sebenarnya dibutuhkan Sumbawa saat ini.
Bandung, 15 Agustus 2000
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda