Kebanggan sering kali menghasilkan buaian, lelap dan akhirnya terpaku pada kondisi statis
Lebih jauh merenungi identitas adalah kenyataan untuk merangsang simpul-simpul endogen agar mutiara itu muncul dan dapat dijadikan jati diri suatu bangsa.Kenyataan tabu untuk diperdebatkan, mengkritisi diri sendiri merupakan arus balik menghianati etnis samawa, adalah tesis umum yang menyelimuti etnis Sumbawa. Padahal di balik sikap ini, usaha untuk menggali jati diri sesuai dengan konsep jendela JOHARI akan menghasilkan ouput yang dijadikan dasar kompetesi kedepan.
Perbedaan pandangan seringkali menjadikan jembatan perbedaan yang kuat, generasi tua dengan pandangan paternalistiknya mengukuhkan pandangan ini sebagai bagian yang sulit dipisahkan dari lingkungannya. Sementara generasi muda dengan lingkungan global mencoba mengukuhkan konsep baru yang justru masih asing dalam pakem generasi tua. Bukan mustahil dua konsep dari dua generasi yang berbeda akan berbenturan seiring dengan ketidakpahaman kita akan perbedaan yang ada.
Dalam kenyataan yang ada kita selalu berbagga dengan sikap pragmatis dan teoritis yang tidak sesuai dengan tingkah laku etnis Sumbawa. Alasan teoritis ini mengemuka ketika etnis sumbawa kehilangan kesempatan karena memang kesalahannya. Kita tidak bisa hanya menyalahkan pada konsep terdahulu, tanpa mengimbangi diri dengan kemampuan dan sikap yang sejalan dengan kebutuhan zaman.
Identitifikasi masalah yang akan menjadi referensi gugatan setidaknya membawa gambaran kepada kita bahwa identitas itu masih banyak dilimuti oleh teori belaka, diantaranya
Melakukan Ibadah ( tu boat ibadat )
Kenyataan faktual membenarkan prosentase terbesar etnis Sumbawa beragama Islam. Dibalik itu agama islam hanya sebagai simbol yang tertulis di KTP. Pemahaman isensial lebih mendalam akan ilmu agama sangat kurang kesadarannya. Bukti nyata akan itu terlihat di masjid. Masjid hanya dijadikan tempat ibadah ritual tanpa ada pemahan lanjutan akan fungsi lain dari masjid. Begitu juga pesantren sebagai ujung tombak menggali akidah hanya dapat dihitung dengan jari sebelah. Tragedis memang, Sumbawa dengan potensi wilayah terluas tak memiliki konsep yang jelas untuk mengagungkan mentalistas agama pada warganya. Seberapa jauh pemahaman agama pada generasi tua, hanya merupakan faktor keturunan belaka. Lebih jauh akan referensi pengetahuan akan buku-buku bermutu, dialog, ceramah hanya sebuah kilas yang tak kunjung menyinari Sumbawa. Padahal titik dasar untuk mebangun mentalis suatu bangsa tak lain pengaruh tersebut berasal dari agamanya. Begitu juga fasilitas islami hanya masih sebatas impian, belum ada keinginan untuk mempelopori kemungkinannya.
Rasa malu dan harga diri sangat tinggi ( Rango ila ke harga diri na )
Rasa malu sebenarnya baik, namun penempatan yang salah justru akan menjadi kilas balik akan buruknya jati diri tau samawa. Kita akui etnis Sumbawa malu menjadi pengemis dijalan, namun malu untuk mempertahankan harga diri sebagai panutan masyarakat sekarang semakin menghilang. Bukti kongret akan itu justru ditampilkan oleh dewan Sumbawa dan birokrat Sumbawa. Mereka tidak malu bahwa mereka sebenarnya sebagai pelayan masyarakat, justru malah mengukuhkan diri sebagai kelompok yang perlu diangungkan.
Sikap harga diri yang tinggi justru menempatkan etnis sumbawa terbuai dengan status ini. Anggapan etnis lain didalam wilayah NTB sebagai pembantu/ babu, masih dijadikan idiom untuk menilai suatu etnis. Padahal keadaan telah berubah. Sikap primordial dan kultus mulai memudar seiring dengan kompetesi akan perubahan zaman. Siapa yang tidak memiliki keahlian dan kemampuan sudah tentu akan menjadi terdepak dari lingkaran kompetesi. Yang perlu kita ingat perubahan global tidak melihat dari mana ia datang, justru nilai kapabiltas dan profesionalismelah yang akan menjadi incaran berharga saat ini. Rasa malu juga menempatkan diri etnis Sumbawa kurang berani berkompetisi secara terbuka, acap kali tujuan silaturrahmi untuk mempertemuakan individu yang berhasil dan belum berhasil sering kali terlihat rasa minder. Padahal tujuan pertemuan atau kunjungan sesama etnis sumbawa hanya sebagai jembatan silaturrahmi bukan mengemis untuk mendapatkan materi. Kejadian ini lebih banyak terjadi di daerah rantau, seperti di pulau Jawa.
Tingginya harga diri justru menempatkan tau samawa ketinggalan dalam berbagai bidang, sikap malu untuk bekerja di daerah sendiri mendorong orang lain mengambil peluang tersebut. Lingkungan juga sangat mempengaruhi pola pikir etnis Sumbawa. Betapa seringnya kita mendengar ejekan sebaya kita kalau suatu saat kita merencanakan mengerjakan sesuatu yang dimata mereka tak pantas dikerjakan. Padahal pekerjaan tersebut sangat Halal. Penempatan harga diri yang salah ini bisa-bisa membawa etnis Sumbawa akan menjadi tamu didaerah sendiri. Kearah itu bukti sudah mengarah. Tinggal kemauan kita untuk menyadari bahwa sikap malu yang selama ini kita pertahankan justru salah tempat. Sebenarnya kita harus malu dengan sikap kita yang hanya menginginkan jalan pintas. Kita menginginkan konstribusi yang besar dalam berbagai kepentingan di Sumbawa, namun kita belum menyadari bahwa kemampuan dan keahlian kita belum sepadan dengan apa yang kita hadapi.
Harga diri yang tinggi juga melahirkan sikap antipati pada kritikan. Kritikan yang ditujukan kepada etnis Sumbawa malah ditanggapi dengan anggapan pembelotan dan permusuhan. Tidak semua kritikan tersebut destruktif namun konstruktif dari point-point dalam kritikan itu akan menambah khzanah untuk menyongsong perubahan. Anggapan umum yang masih melekat, kritik yang ada masih diasosiakan dengan menjatuhkan dan memojokan. Kebesaran jiwa seseorang justru akan berkembang dengan terbukanya dia menerima kritik. Seharusnya kita berterima kasih dengan kritikan yang ada, ini membuktikan adanya perhatian dari orang lain terhadap apa yang kita lakukakan. Antipati terhadap kritikan bukan hanya diamimi oleh kalangan Eksekutif dan legeslatif, namun kelompok yang mengatasnamakan pembaharu juga masih lemah untuk menerima dan mengambil hikmah dari kritikan tersebut
Ramah dan dinamis ( Saroga ke paragas )
Sikap ramah memang ditunjukkan oleh etnis Sumbawa, namun justru sikap ramah ini sangat berlebihan di tujukan kepada kelompok biroktar. Feodalistik masih menjadi bagian yang kental. Pribadi pejabat seolah-olah menjadi raja yang perlu diagungkan. Sikap ramah ini juga cukup berlebihan jika etnis Sumbawa berhadapan dengan etnis luar NTB. Perlakuan kepada mereka awalnya terjadi pemujaan, namun dibalik tujuan yang tidak tercapai biasanya akan berbalik menjadi musuh. Ada baiknya sikap ramah ini kita tempatkan pada porsi yang ideal. Jangannlah memandang dalam koridor yang sempit dan jangka pendek.
Dinamistik etnis Sumbawa cukup mengembirakan, bukti keterbukaan itu justru paling besar dirasakan dalam etnis Sumbawa dibandingkan dengan etnis lain didalam NTB. Namun sikap dinamis ini malah mengantarkan etnis sumbawa melupakan akar budayanya. Mereka terlalu berbagga dengan budaya baru yang belum tentu sesuai dengan keadaan Sumbawa. Sikap Dinamis dan keterbukaan ini acapkali mendatangkan kebanggaan semu tanpa bisa memahami arti dinamis dan keterbukaan yang didapatkannya. Hanya sebagai pengikut tanpa memahami makna apa yang dijalankan justru masih dominan dalam diri etnis Sumbawa.
Menghargai, toleransi dan kerja keras
Sikap menghargai masih sangat lemah dalam etnis Sumbawa, keberhasilan seseorang acapkali dijadikan tesis bahwa keberhasilan tersebut karena faktor X. kenyataan yang parah justru dalam meniti karier di lingkungannya etnis Sumbawa saling menjatuhkan. Betapa tidak banyak korban sesama etnis yang seharusnya bisa mendapat peluang lebih maju malah dijegal oleh rekannya sendiri. Kenyataan ini masih dominan di lingkungan Pemda Sumbawa. Keengganan etnis Sumbawa akan minimnya penghargaan kepada sesamanya malah menimbulkan peluang baru bagi etnis lain. Etnis Sumbawa kurang bisa mempercayai dan menghargainya sesamanya. Ucapan yang seringkali kita dengar "cuma dia !, hanya teman sepermainan ". merupakan bukti keberhasilan masih dianggap seperti terdahulu. Padahal perubahan perilaku dan keberhasilan seseorang adalah kewajaran seiring dengan perjuangan yang ditempuhnya.
Rasa penghargaan yang rendah ini memunculkan sikap ketidak percayaan sesama etnis. Sikap untuk saling membangun dan membantu sesama etnis juga masih lemah, kita bisa melihat etnis Mbojo dan Batak yang begitu kuat sikap toleransi membantu sesamanya. Tidak ada tokoh Sumbawa yang cukup dibanggakan sebagai jembatan dalam meraih sukses. Memang sikap nepotisme tidak diperbolehkan sampai batasan tertentu. Namun sikap Nepotisme ini justru menjadi buta di mata etnis Sumbawa. Mereka tidak lagi mempercayai komunitas etnisnya. Padahal sekedar memberi peluang sambill memperbaiki sikap pada pribadinya niscaya perubahan akan ada. Kelemahan ini justru mengimbas pada pemberdayaan pegawai dilingkungan Pemda Sumbawa. Dihadapan kita sederet posisi lowong akan ditempati oleh non etnis Sumbawa. Ini merupakan kesalahan terdahulu dari pola pikir yang cendrung egoistik menampilkan keberhasilan pribadinya. Perjuangan terdahulu malah sebagai arena balas dendam kepada generasi selanjutnya. Sebenarnya banyak dari genarasi muda Sumbawa yang mampu untuk berkembang dan berkompetesi, namun kecendrungan untuk tidak membuka peluang oleh generasi terdahulunya menjadikan budaya itu sebagai legalitas untuk menjegal sesamanya.
Satu kenyataan pokok yang kononnya di banggakan, kerja keras. Secara teoritis etnis Sumbawa menyatakan dirinya etnis yang bekerja keras. Sebagai komparation dengan etnis lain, kerja keras etnis Sumbawa belum apa-apa. Studi perbandingan kita hanya dalam lingkup sendiri tanpa meneropong lebih jauh akan keberhasilan etnis lainnya. Justru cap "PEMALAS" lebih mengena di mata pendatang ( investor ) di Sumbawa. Hal ini dimungkinkan etnis Sumbawa masih terbuai dengan berkah Alam. Kenyataan lain akan menunjukkan keberkahan tersebut tidak akan bertahan seiring dengan kebutuhan yang terus berkembang. Entry point yang cukup mengembirakan, etnis Sumbawa yang meninggalkan tanah kelahirannya acapkali menikmati keberhasilan. Kerja keras ini justru lebih terlihat jikalau etnis Sumbawa berada di luar komunitasnya. Namun didalam komunitas sendiri etnis Sumbawa merasa seolah-olah masih perlu diperlakukan sebagai raja. Toropong kearah Sumbawa, betapa banyak peluang hilang yang tak bisa diraih olehnya. Pendatang malah mau mengerjakan hal-hal terkecil, yang justru akan mendatangkan kemajuan yang berarti. Betapa minimnya etnis sumbawa yang menguasai perdagangan di pasar dan kaki lima. Sikap kerja keras hanya mau ditampilkan pada posisi yang dianggap terhormat. Kenyataan pahit justru lahir di Sumbawa, etnis sendiri acapkali tidak menggunakan tenaga kerja lokal. Ini dimungkinkan akumulasi dari bukti yang dibuat oleh etnis Sumbawa, bahwa mereka selalu menganggap remeh suatu pekerjaan dan bekerja semau mereka. Kenyaataan yang cukup memprihatinkan etnis Sumbawa cukup pandai berteori namun aplikasi nyata dari teori tersebut hanya NOL. Hanya omong kosong tanpa tindak lanjut dari apa yang pernah diucapkannya. Betapa banyak konseptor yang lahir di Sumbawa, kenyataannya hanya sebatas konseptor belaka tanpa diimbangi dengan kemampuan tekhnis dan tindak lanjut dari rencana semula. Kelemahan mendasar bahwa kadangkala suatu persoalan belum selesai, sudah melangkah pada persoalan lainnya.
Dalam menjalani karier, etnis Sumbawa masih berbangga menjadi bagian dari pegawai negeri. Padahal logika umum dan kenyataan pegawai negeri hanya sepersekian persen dari peluang yang ada. Ketidaksadaran kita bahwa kemampuan belum bisa mengimbangi posisi suatu jabatan, belum sepenuhnya kita sadari. Etnis Sumbawa yang ingin bergabung dengan perusahaan swasta hanya menginginkan posisi yang tinggi. Padahal posisi tersebut diperlukan profesionalisme, kapabilitas, skill dan seabrek kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab tersebut. Kenyataan ini justru masih menjadi gambaran umum bagi etnis Sumbawa. Bukan hanya etnis Sumbawa yang berada di daerah , namun sikap ini masih melekat dalam etnis Sumbawa di tanah rantau.
Idealisme dan nilai juang
Idealisme kedaerahan cukup kuat bagi etnis samawa, namun idealisme untuk menerima perubahan dan mempertahankan komunitasnya masih lemah dilingkungan Sumbawa Besar. Idealisme akan samaiswe lebih besar berada dilingkaran Sumbawa besar, Sumbawa timur dan Sumbawa Barat merupakan pemetaan yang menjadi contoh sikap idealisme itu masih kuat. Sejarah menoreh bahwa distribusi peran nilai juang di Sumbawa justru di buktikan dari Sumbawa Timur dan Barat. Betapa tidak kejadian akhir-akhir ini yang terjadi di Sumbawa besar justru mendapat dukungan dan peran lebih luas dari luar sumbawa kota. Kita masih ingat kejadian diawal tahun 80-an. Peristiwa dengan etnis Bali justru sikap idealisme dan nilai juang ditunjukkan dari luar Sumbawa kota.
Satu sikap yang perlu di pertahankan, Sumbawa masih sadar dengan buruknya anarkisme. Kejadian di Mataram awal tahun lalu dapat di bendung di Sumbawa. Setidaknya sikap ini harus dipertahankan, mengingat kalau kejadian ini terjadi justru etnis Sumbawalah yang rugi.
Percaya Diri.
Sikap percaya diri adalah konstribusi positif bagi tiap orang. Namun sikap percaya diri yang over dan terlalu rendah justru membawa sikap yang kurang baik. Pengimbang kepercayaan diri haruslah mengoreksi dari seberapa besar kemampuan yang kita miliki. Sikap over percaya diri dalam etnis Sumbawa selalu diwujudkan hanya sebatas kata-kata. Kadangkala sikap lebih tahu dan sok tahu jauh lebih ditonjolkan dari kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan ini tak lain untuk menutupi kelemahan dirinya. Betapa banyak peluang yang hilang akibat kepercayaan diri yang berlebihan ini. Etnis Sumbawa sanggup meyelesaikan suatu Job, namun kenyataanya jauh dari harapan dan standar minimal yang ditetapkan. Sikap percaya diri seyognya mengaca pada pengalaman terdahulu. Jangan sampai over percaya diri ini menjadi senjata tersendiri bagi dunia usaha untuk tidak mempercayai kemampuan etnis Sumbawa. Sementara kecendrungan tidak percaya diri juga melanda sikap birokrat dan politisi Sumbawa. Kenyataan pahit justru banyak di buktikan oleh lingkungan Birokrat. Banyak birokrat Sumbawa yang patuh dan tunduk pada etnis lain. Kenyataan ini dimungkinkan oleh saling ketidakpercayaan sesama etnis Sumbawa. Jadilah pelarian itu pada etnis lain. Sikap tidak percaya diri juga dilatarbelakangi jika etnis Sumbawa berada dengan Materi ( harta ). Sekelompok oknum rela menjual harga diri demi untuk mendapatkan materi tersebut. Sikap percaya diri yang tidak profesional ini malah membawa etnis Sumbawa kehilangan pegangan. Sudah bukan rahasia lagi Bargaining Position etnis Sumbawa di tingkat propinsi apalagi pusat sangat lemah. Kepercayaan diri yang lemah juga melahirkan pembangkangan budaya. Betapa tidak etnis Sumbawa malah berbangga menggunakan bahasa indonesia dilingkungan kerjanya ( lihat Pemda ). Dan keinginan untuk melestarikan Budaya dalam arti memberikan kurikulum di dunia study merupakan bukti nyata kepercayaan diri etnis Sumbawa masih lemah.
Kebersamaan
Lemahnya kebersamaan dalam etnis Sumbawa terlihat dengan belum terbuktinya organisasi tau samawa yang menunjukkan konstribusi bagi rakyat banyak. Banyak individu Sumbawa yang berhasil ditanah rantau, namun sampai saat ini masih lemah menunjukkan kebersamaan. Sikap egoistik kita setelah menjadi tau rantau malah lebih mengeras. Padahal Sumbawa membutuhkan wadah yang bisa menjembatani dan memberikan solusi atas apa yang dibutuhkan didaerah. Betapa banyak organisasi Sumbawa baik di daerah maupun di luar daerah. Kenyataannya mereka masih jalan sendiri-sendiri dalam konsep masing-masing. Saya sangat tertarik dengan organisasi masyarakat Padang, Batak dan Sulawesi. Kebersamaan yang ada bisa mengangkat persoalan didaerah mereka menjadi agenda bersama-sama. Kuantitas mereka dalam melanjutkan Studi ke daerah Jawa adalah bukti kebersamaan tersebut bisa bermanfaat bagi daerahnya. Sebenarnya banyak generasi Sumbawa yang mempunyai keahlian dan kemampuan heterogen yang profesional. Namun upaya untuk mengeidentifikasi mereka belum ada. Padahal kebersamaan yang dibangun akan melahirkan pertukaran informasi yang bisa bermanfaat bagi Sumbawa. Bukan saatnya kita menggugat Bapak-bapak kita yang telah berhasil di Sumbawa, Mataram Jatim, Jokja, Bandung dan Jakarta untuk mengulurkan materi bagi Sumbawa. Yang kita butuhkan adalah kebersamaan dalam memecahkan persoalan yang ada dan akan ada di Sumbawa. Saya malah melihat banyak etnis Sumbawa yang telah berhasil, sengaja atau tidak mereka buta terhadap Sumbawa. Bagaimana kebersamaan akan diBangun kalau sikap dasar untuk mengetahui Sumbawa saja tidak dirangsang.
Identitas
Bagaimana identitas sebenarnya dari etnis Sumbawa, suatu pertanyaan sederhana namun cukup rumit untuk diuraikan. Kenyataan pahit ketidakjelasan identitas ini dilatarbelakangi oleh keberadaana budaya Sumbawa, tak jelas akar identitasnya. Keterbukaan etnis Sumbawa menerima perubahan malah menghilangkan apa yang sebenar terdapat dalam budaya itu. Kita tidak bisa menafikkan bahwa pengaruh budaya luar sangat berpengaruh dalam menampilkan budaya Sumbawa. Satu tugas pokok bagi kita marilah kita telusuri akar sebenarnya dari identitas etnis samawa.
Sumbawa sangat minim dengan figur kharimatik, apa yang meletarbelakanginya tak lain Sumbawa belum menemukan akar identitas yang sebenarnya. Kenyataan pokok figur kharimatik masih selalu diidentikkan dengan kalangan Birokrat. Padahal pigur karismatik ini sangat dibutuhkan untuk merangkum kembali identitas yang terpecah ini.
Penutup
Hidup berarti berubah sedangkan menjadi sempurna berarti sering mengalami perubahan ( John Henry Newmant).
Kenyataan yang ada tak bisa ditutupi dengan hanya menyenangi diri sendiri sebatas konsep yang menurut pembenaran kita benar. Justru nilai itu akan bermakna kalau ada penilaian dari luar. Apakah kita akan menerima atau malah menghakimi kenyataan dalam kritikan ini, adalah tanda seberapa besar pemahaman kita akan keinginan untuk tetap mempertahankan sikap kekanak-kanakan kita atau malah kebesaran jiwa kita untuk bisa menerima kritikan atas apa yang terjadi selama ini. Bukan mustahil buaian selama ini akan menghantarkan kita pada keterpurukan tanpa adanya rasa untuk melihat peruhan yang cukup cepat.
Bandung, 27 July 2000
Arif Hidayat
Perbedaan pandangan seringkali menjadikan jembatan perbedaan yang kuat, generasi tua dengan pandangan paternalistiknya mengukuhkan pandangan ini sebagai bagian yang sulit dipisahkan dari lingkungannya. Sementara generasi muda dengan lingkungan global mencoba mengukuhkan konsep baru yang justru masih asing dalam pakem generasi tua. Bukan mustahil dua konsep dari dua generasi yang berbeda akan berbenturan seiring dengan ketidakpahaman kita akan perbedaan yang ada.
Dalam kenyataan yang ada kita selalu berbagga dengan sikap pragmatis dan teoritis yang tidak sesuai dengan tingkah laku etnis Sumbawa. Alasan teoritis ini mengemuka ketika etnis sumbawa kehilangan kesempatan karena memang kesalahannya. Kita tidak bisa hanya menyalahkan pada konsep terdahulu, tanpa mengimbangi diri dengan kemampuan dan sikap yang sejalan dengan kebutuhan zaman.
Identitifikasi masalah yang akan menjadi referensi gugatan setidaknya membawa gambaran kepada kita bahwa identitas itu masih banyak dilimuti oleh teori belaka, diantaranya
Melakukan Ibadah ( tu boat ibadat )
Kenyataan faktual membenarkan prosentase terbesar etnis Sumbawa beragama Islam. Dibalik itu agama islam hanya sebagai simbol yang tertulis di KTP. Pemahaman isensial lebih mendalam akan ilmu agama sangat kurang kesadarannya. Bukti nyata akan itu terlihat di masjid. Masjid hanya dijadikan tempat ibadah ritual tanpa ada pemahan lanjutan akan fungsi lain dari masjid. Begitu juga pesantren sebagai ujung tombak menggali akidah hanya dapat dihitung dengan jari sebelah. Tragedis memang, Sumbawa dengan potensi wilayah terluas tak memiliki konsep yang jelas untuk mengagungkan mentalistas agama pada warganya. Seberapa jauh pemahaman agama pada generasi tua, hanya merupakan faktor keturunan belaka. Lebih jauh akan referensi pengetahuan akan buku-buku bermutu, dialog, ceramah hanya sebuah kilas yang tak kunjung menyinari Sumbawa. Padahal titik dasar untuk mebangun mentalis suatu bangsa tak lain pengaruh tersebut berasal dari agamanya. Begitu juga fasilitas islami hanya masih sebatas impian, belum ada keinginan untuk mempelopori kemungkinannya.
Rasa malu dan harga diri sangat tinggi ( Rango ila ke harga diri na )
Rasa malu sebenarnya baik, namun penempatan yang salah justru akan menjadi kilas balik akan buruknya jati diri tau samawa. Kita akui etnis Sumbawa malu menjadi pengemis dijalan, namun malu untuk mempertahankan harga diri sebagai panutan masyarakat sekarang semakin menghilang. Bukti kongret akan itu justru ditampilkan oleh dewan Sumbawa dan birokrat Sumbawa. Mereka tidak malu bahwa mereka sebenarnya sebagai pelayan masyarakat, justru malah mengukuhkan diri sebagai kelompok yang perlu diangungkan.
Sikap harga diri yang tinggi justru menempatkan etnis sumbawa terbuai dengan status ini. Anggapan etnis lain didalam wilayah NTB sebagai pembantu/ babu, masih dijadikan idiom untuk menilai suatu etnis. Padahal keadaan telah berubah. Sikap primordial dan kultus mulai memudar seiring dengan kompetesi akan perubahan zaman. Siapa yang tidak memiliki keahlian dan kemampuan sudah tentu akan menjadi terdepak dari lingkaran kompetesi. Yang perlu kita ingat perubahan global tidak melihat dari mana ia datang, justru nilai kapabiltas dan profesionalismelah yang akan menjadi incaran berharga saat ini. Rasa malu juga menempatkan diri etnis Sumbawa kurang berani berkompetisi secara terbuka, acap kali tujuan silaturrahmi untuk mempertemuakan individu yang berhasil dan belum berhasil sering kali terlihat rasa minder. Padahal tujuan pertemuan atau kunjungan sesama etnis sumbawa hanya sebagai jembatan silaturrahmi bukan mengemis untuk mendapatkan materi. Kejadian ini lebih banyak terjadi di daerah rantau, seperti di pulau Jawa.
Tingginya harga diri justru menempatkan tau samawa ketinggalan dalam berbagai bidang, sikap malu untuk bekerja di daerah sendiri mendorong orang lain mengambil peluang tersebut. Lingkungan juga sangat mempengaruhi pola pikir etnis Sumbawa. Betapa seringnya kita mendengar ejekan sebaya kita kalau suatu saat kita merencanakan mengerjakan sesuatu yang dimata mereka tak pantas dikerjakan. Padahal pekerjaan tersebut sangat Halal. Penempatan harga diri yang salah ini bisa-bisa membawa etnis Sumbawa akan menjadi tamu didaerah sendiri. Kearah itu bukti sudah mengarah. Tinggal kemauan kita untuk menyadari bahwa sikap malu yang selama ini kita pertahankan justru salah tempat. Sebenarnya kita harus malu dengan sikap kita yang hanya menginginkan jalan pintas. Kita menginginkan konstribusi yang besar dalam berbagai kepentingan di Sumbawa, namun kita belum menyadari bahwa kemampuan dan keahlian kita belum sepadan dengan apa yang kita hadapi.
Harga diri yang tinggi juga melahirkan sikap antipati pada kritikan. Kritikan yang ditujukan kepada etnis Sumbawa malah ditanggapi dengan anggapan pembelotan dan permusuhan. Tidak semua kritikan tersebut destruktif namun konstruktif dari point-point dalam kritikan itu akan menambah khzanah untuk menyongsong perubahan. Anggapan umum yang masih melekat, kritik yang ada masih diasosiakan dengan menjatuhkan dan memojokan. Kebesaran jiwa seseorang justru akan berkembang dengan terbukanya dia menerima kritik. Seharusnya kita berterima kasih dengan kritikan yang ada, ini membuktikan adanya perhatian dari orang lain terhadap apa yang kita lakukakan. Antipati terhadap kritikan bukan hanya diamimi oleh kalangan Eksekutif dan legeslatif, namun kelompok yang mengatasnamakan pembaharu juga masih lemah untuk menerima dan mengambil hikmah dari kritikan tersebut
Ramah dan dinamis ( Saroga ke paragas )
Sikap ramah memang ditunjukkan oleh etnis Sumbawa, namun justru sikap ramah ini sangat berlebihan di tujukan kepada kelompok biroktar. Feodalistik masih menjadi bagian yang kental. Pribadi pejabat seolah-olah menjadi raja yang perlu diagungkan. Sikap ramah ini juga cukup berlebihan jika etnis Sumbawa berhadapan dengan etnis luar NTB. Perlakuan kepada mereka awalnya terjadi pemujaan, namun dibalik tujuan yang tidak tercapai biasanya akan berbalik menjadi musuh. Ada baiknya sikap ramah ini kita tempatkan pada porsi yang ideal. Jangannlah memandang dalam koridor yang sempit dan jangka pendek.
Dinamistik etnis Sumbawa cukup mengembirakan, bukti keterbukaan itu justru paling besar dirasakan dalam etnis Sumbawa dibandingkan dengan etnis lain didalam NTB. Namun sikap dinamis ini malah mengantarkan etnis sumbawa melupakan akar budayanya. Mereka terlalu berbagga dengan budaya baru yang belum tentu sesuai dengan keadaan Sumbawa. Sikap Dinamis dan keterbukaan ini acapkali mendatangkan kebanggaan semu tanpa bisa memahami arti dinamis dan keterbukaan yang didapatkannya. Hanya sebagai pengikut tanpa memahami makna apa yang dijalankan justru masih dominan dalam diri etnis Sumbawa.
Menghargai, toleransi dan kerja keras
Sikap menghargai masih sangat lemah dalam etnis Sumbawa, keberhasilan seseorang acapkali dijadikan tesis bahwa keberhasilan tersebut karena faktor X. kenyataan yang parah justru dalam meniti karier di lingkungannya etnis Sumbawa saling menjatuhkan. Betapa tidak banyak korban sesama etnis yang seharusnya bisa mendapat peluang lebih maju malah dijegal oleh rekannya sendiri. Kenyataan ini masih dominan di lingkungan Pemda Sumbawa. Keengganan etnis Sumbawa akan minimnya penghargaan kepada sesamanya malah menimbulkan peluang baru bagi etnis lain. Etnis Sumbawa kurang bisa mempercayai dan menghargainya sesamanya. Ucapan yang seringkali kita dengar "cuma dia !, hanya teman sepermainan ". merupakan bukti keberhasilan masih dianggap seperti terdahulu. Padahal perubahan perilaku dan keberhasilan seseorang adalah kewajaran seiring dengan perjuangan yang ditempuhnya.
Rasa penghargaan yang rendah ini memunculkan sikap ketidak percayaan sesama etnis. Sikap untuk saling membangun dan membantu sesama etnis juga masih lemah, kita bisa melihat etnis Mbojo dan Batak yang begitu kuat sikap toleransi membantu sesamanya. Tidak ada tokoh Sumbawa yang cukup dibanggakan sebagai jembatan dalam meraih sukses. Memang sikap nepotisme tidak diperbolehkan sampai batasan tertentu. Namun sikap Nepotisme ini justru menjadi buta di mata etnis Sumbawa. Mereka tidak lagi mempercayai komunitas etnisnya. Padahal sekedar memberi peluang sambill memperbaiki sikap pada pribadinya niscaya perubahan akan ada. Kelemahan ini justru mengimbas pada pemberdayaan pegawai dilingkungan Pemda Sumbawa. Dihadapan kita sederet posisi lowong akan ditempati oleh non etnis Sumbawa. Ini merupakan kesalahan terdahulu dari pola pikir yang cendrung egoistik menampilkan keberhasilan pribadinya. Perjuangan terdahulu malah sebagai arena balas dendam kepada generasi selanjutnya. Sebenarnya banyak dari genarasi muda Sumbawa yang mampu untuk berkembang dan berkompetesi, namun kecendrungan untuk tidak membuka peluang oleh generasi terdahulunya menjadikan budaya itu sebagai legalitas untuk menjegal sesamanya.
Satu kenyataan pokok yang kononnya di banggakan, kerja keras. Secara teoritis etnis Sumbawa menyatakan dirinya etnis yang bekerja keras. Sebagai komparation dengan etnis lain, kerja keras etnis Sumbawa belum apa-apa. Studi perbandingan kita hanya dalam lingkup sendiri tanpa meneropong lebih jauh akan keberhasilan etnis lainnya. Justru cap "PEMALAS" lebih mengena di mata pendatang ( investor ) di Sumbawa. Hal ini dimungkinkan etnis Sumbawa masih terbuai dengan berkah Alam. Kenyataan lain akan menunjukkan keberkahan tersebut tidak akan bertahan seiring dengan kebutuhan yang terus berkembang. Entry point yang cukup mengembirakan, etnis Sumbawa yang meninggalkan tanah kelahirannya acapkali menikmati keberhasilan. Kerja keras ini justru lebih terlihat jikalau etnis Sumbawa berada di luar komunitasnya. Namun didalam komunitas sendiri etnis Sumbawa merasa seolah-olah masih perlu diperlakukan sebagai raja. Toropong kearah Sumbawa, betapa banyak peluang hilang yang tak bisa diraih olehnya. Pendatang malah mau mengerjakan hal-hal terkecil, yang justru akan mendatangkan kemajuan yang berarti. Betapa minimnya etnis sumbawa yang menguasai perdagangan di pasar dan kaki lima. Sikap kerja keras hanya mau ditampilkan pada posisi yang dianggap terhormat. Kenyataan pahit justru lahir di Sumbawa, etnis sendiri acapkali tidak menggunakan tenaga kerja lokal. Ini dimungkinkan akumulasi dari bukti yang dibuat oleh etnis Sumbawa, bahwa mereka selalu menganggap remeh suatu pekerjaan dan bekerja semau mereka. Kenyaataan yang cukup memprihatinkan etnis Sumbawa cukup pandai berteori namun aplikasi nyata dari teori tersebut hanya NOL. Hanya omong kosong tanpa tindak lanjut dari apa yang pernah diucapkannya. Betapa banyak konseptor yang lahir di Sumbawa, kenyataannya hanya sebatas konseptor belaka tanpa diimbangi dengan kemampuan tekhnis dan tindak lanjut dari rencana semula. Kelemahan mendasar bahwa kadangkala suatu persoalan belum selesai, sudah melangkah pada persoalan lainnya.
Dalam menjalani karier, etnis Sumbawa masih berbangga menjadi bagian dari pegawai negeri. Padahal logika umum dan kenyataan pegawai negeri hanya sepersekian persen dari peluang yang ada. Ketidaksadaran kita bahwa kemampuan belum bisa mengimbangi posisi suatu jabatan, belum sepenuhnya kita sadari. Etnis Sumbawa yang ingin bergabung dengan perusahaan swasta hanya menginginkan posisi yang tinggi. Padahal posisi tersebut diperlukan profesionalisme, kapabilitas, skill dan seabrek kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab tersebut. Kenyataan ini justru masih menjadi gambaran umum bagi etnis Sumbawa. Bukan hanya etnis Sumbawa yang berada di daerah , namun sikap ini masih melekat dalam etnis Sumbawa di tanah rantau.
Idealisme dan nilai juang
Idealisme kedaerahan cukup kuat bagi etnis samawa, namun idealisme untuk menerima perubahan dan mempertahankan komunitasnya masih lemah dilingkungan Sumbawa Besar. Idealisme akan samaiswe lebih besar berada dilingkaran Sumbawa besar, Sumbawa timur dan Sumbawa Barat merupakan pemetaan yang menjadi contoh sikap idealisme itu masih kuat. Sejarah menoreh bahwa distribusi peran nilai juang di Sumbawa justru di buktikan dari Sumbawa Timur dan Barat. Betapa tidak kejadian akhir-akhir ini yang terjadi di Sumbawa besar justru mendapat dukungan dan peran lebih luas dari luar sumbawa kota. Kita masih ingat kejadian diawal tahun 80-an. Peristiwa dengan etnis Bali justru sikap idealisme dan nilai juang ditunjukkan dari luar Sumbawa kota.
Satu sikap yang perlu di pertahankan, Sumbawa masih sadar dengan buruknya anarkisme. Kejadian di Mataram awal tahun lalu dapat di bendung di Sumbawa. Setidaknya sikap ini harus dipertahankan, mengingat kalau kejadian ini terjadi justru etnis Sumbawalah yang rugi.
Percaya Diri.
Sikap percaya diri adalah konstribusi positif bagi tiap orang. Namun sikap percaya diri yang over dan terlalu rendah justru membawa sikap yang kurang baik. Pengimbang kepercayaan diri haruslah mengoreksi dari seberapa besar kemampuan yang kita miliki. Sikap over percaya diri dalam etnis Sumbawa selalu diwujudkan hanya sebatas kata-kata. Kadangkala sikap lebih tahu dan sok tahu jauh lebih ditonjolkan dari kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan ini tak lain untuk menutupi kelemahan dirinya. Betapa banyak peluang yang hilang akibat kepercayaan diri yang berlebihan ini. Etnis Sumbawa sanggup meyelesaikan suatu Job, namun kenyataanya jauh dari harapan dan standar minimal yang ditetapkan. Sikap percaya diri seyognya mengaca pada pengalaman terdahulu. Jangan sampai over percaya diri ini menjadi senjata tersendiri bagi dunia usaha untuk tidak mempercayai kemampuan etnis Sumbawa. Sementara kecendrungan tidak percaya diri juga melanda sikap birokrat dan politisi Sumbawa. Kenyataan pahit justru banyak di buktikan oleh lingkungan Birokrat. Banyak birokrat Sumbawa yang patuh dan tunduk pada etnis lain. Kenyataan ini dimungkinkan oleh saling ketidakpercayaan sesama etnis Sumbawa. Jadilah pelarian itu pada etnis lain. Sikap tidak percaya diri juga dilatarbelakangi jika etnis Sumbawa berada dengan Materi ( harta ). Sekelompok oknum rela menjual harga diri demi untuk mendapatkan materi tersebut. Sikap percaya diri yang tidak profesional ini malah membawa etnis Sumbawa kehilangan pegangan. Sudah bukan rahasia lagi Bargaining Position etnis Sumbawa di tingkat propinsi apalagi pusat sangat lemah. Kepercayaan diri yang lemah juga melahirkan pembangkangan budaya. Betapa tidak etnis Sumbawa malah berbangga menggunakan bahasa indonesia dilingkungan kerjanya ( lihat Pemda ). Dan keinginan untuk melestarikan Budaya dalam arti memberikan kurikulum di dunia study merupakan bukti nyata kepercayaan diri etnis Sumbawa masih lemah.
Kebersamaan
Lemahnya kebersamaan dalam etnis Sumbawa terlihat dengan belum terbuktinya organisasi tau samawa yang menunjukkan konstribusi bagi rakyat banyak. Banyak individu Sumbawa yang berhasil ditanah rantau, namun sampai saat ini masih lemah menunjukkan kebersamaan. Sikap egoistik kita setelah menjadi tau rantau malah lebih mengeras. Padahal Sumbawa membutuhkan wadah yang bisa menjembatani dan memberikan solusi atas apa yang dibutuhkan didaerah. Betapa banyak organisasi Sumbawa baik di daerah maupun di luar daerah. Kenyataannya mereka masih jalan sendiri-sendiri dalam konsep masing-masing. Saya sangat tertarik dengan organisasi masyarakat Padang, Batak dan Sulawesi. Kebersamaan yang ada bisa mengangkat persoalan didaerah mereka menjadi agenda bersama-sama. Kuantitas mereka dalam melanjutkan Studi ke daerah Jawa adalah bukti kebersamaan tersebut bisa bermanfaat bagi daerahnya. Sebenarnya banyak generasi Sumbawa yang mempunyai keahlian dan kemampuan heterogen yang profesional. Namun upaya untuk mengeidentifikasi mereka belum ada. Padahal kebersamaan yang dibangun akan melahirkan pertukaran informasi yang bisa bermanfaat bagi Sumbawa. Bukan saatnya kita menggugat Bapak-bapak kita yang telah berhasil di Sumbawa, Mataram Jatim, Jokja, Bandung dan Jakarta untuk mengulurkan materi bagi Sumbawa. Yang kita butuhkan adalah kebersamaan dalam memecahkan persoalan yang ada dan akan ada di Sumbawa. Saya malah melihat banyak etnis Sumbawa yang telah berhasil, sengaja atau tidak mereka buta terhadap Sumbawa. Bagaimana kebersamaan akan diBangun kalau sikap dasar untuk mengetahui Sumbawa saja tidak dirangsang.
Identitas
Bagaimana identitas sebenarnya dari etnis Sumbawa, suatu pertanyaan sederhana namun cukup rumit untuk diuraikan. Kenyataan pahit ketidakjelasan identitas ini dilatarbelakangi oleh keberadaana budaya Sumbawa, tak jelas akar identitasnya. Keterbukaan etnis Sumbawa menerima perubahan malah menghilangkan apa yang sebenar terdapat dalam budaya itu. Kita tidak bisa menafikkan bahwa pengaruh budaya luar sangat berpengaruh dalam menampilkan budaya Sumbawa. Satu tugas pokok bagi kita marilah kita telusuri akar sebenarnya dari identitas etnis samawa.
Sumbawa sangat minim dengan figur kharimatik, apa yang meletarbelakanginya tak lain Sumbawa belum menemukan akar identitas yang sebenarnya. Kenyataan pokok figur kharimatik masih selalu diidentikkan dengan kalangan Birokrat. Padahal pigur karismatik ini sangat dibutuhkan untuk merangkum kembali identitas yang terpecah ini.
Penutup
Hidup berarti berubah sedangkan menjadi sempurna berarti sering mengalami perubahan ( John Henry Newmant).
Kenyataan yang ada tak bisa ditutupi dengan hanya menyenangi diri sendiri sebatas konsep yang menurut pembenaran kita benar. Justru nilai itu akan bermakna kalau ada penilaian dari luar. Apakah kita akan menerima atau malah menghakimi kenyataan dalam kritikan ini, adalah tanda seberapa besar pemahaman kita akan keinginan untuk tetap mempertahankan sikap kekanak-kanakan kita atau malah kebesaran jiwa kita untuk bisa menerima kritikan atas apa yang terjadi selama ini. Bukan mustahil buaian selama ini akan menghantarkan kita pada keterpurukan tanpa adanya rasa untuk melihat peruhan yang cukup cepat.
Bandung, 27 July 2000
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda