Selasa, 29 Juli 2008

Mengapa Newmont Ada ? Kata hati seorang putera daerah

. Selasa, 29 Juli 2008

Mengapa Newmont ada ? sebuah pertanyaan klasik dalam benak ketidaktahuan seorang putera daerah.
Petikan argument I : “ Nenek moyang kita mungkin sudah lama mengetahui bahwa kandungan bahan tambang sungguh banyak didaearah Sumbawa, namun justu mereka bingung bagaimana mengolahnya “.
Petikan argument II : “ Mungkin anak cucu kita akan melemparkan tuduhan kebencian kepada kita-kita saat ini, karena kekayaan alam sumbawa habis oleh rakusnya generasi terdahulu”.




Petikan argument pertama merupakan kata hati yang dimunculkan oleh politikus muda Sumbawa dengan latar belakang businessman : “ Drs.H.M. Hatta Taliwang, BSW”. Argument kedua dilontarkan seorang tekhnokrat muda berlatar belakang akademik : “ DR. M. Oktaufik”. Kedua tokoh tersebut merupakan putera Sumbawa yang saat ini berdomisili di Jakarta, lontaran kata nuarani itu terungkap disaat dialog sehari dengan PT. NNT di Bandung medio Maret 2000 .

Mengapa Newmont ada ? sebuah pertanyaan klasik dalam benak ketidaktahuan seorang putera daerah. Suatu kenyataan pasti dikala Indonesia masih dalam cengkaraman orde Soeharto, apapun yang diorderkan ke daerah merupakan keharusan yang harus diterima. Apa harus menunggu persetujuan rakyat setempat ? tidak perlu.

Lahirlah kontrak karya generasi ke-empat yang saat itu disetujui oleh penguasa pusat, sementara Sumbawa hanya sebagai objek eksploitasi tanpa dihargai sebagai pemilik yang sah.

Kurun berganti, sejarah menoreh dalam perubahan drasastis. Reformasi yang selalu diidentikkan dengan kebebasan mengimbas dalam pengurangan peran dunia tambang yang sebelumnya sebagai anak emas penguasa.

Setidaknya dalam era reformasi ini dua Presiden telah mengukir pena dalam lembaran sejarah. Kurun waktu yang cukup singkat sejak tumbangnya orde baru, investasi dunia tambang menunjukkan statistik kemunduran. Inveastasi baru boleh dibilang tidak ada, malah perusahaan tambang yang ada bertumbangan seiring dengan krisis yang melanda Indonesia.

Mengapa newmont ada ? kenyataan ini tak bisa di bantah. Komitment Newmont untuk menginvestasikan dananya di Sumbawa tetap bergairah, apa ini merupakan komitment investor untuk melanjutkan proyek Batu Hijau ? Mungkin.

Apa yang terlahir di Sumbawa dengan keberadaan NNT adalah sikap variatif dari individu, LSM, birokrat, politikus sampai opportunis. Sasaran pokok tak lain Newmont : “Apa yang bisa didapat darinya.”

Satu kenyataan pahit yang selalu didengungkan saat ini, Sumbawa akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Semua itu dikarenakan oleh Multiplier effect dari keberadaan Newmont. Pantaskah itu menjadi kebanggaan kita ? mungkin ya, mungkin tidak. Tersirat akan latar belakang penulis disaat kecil di Alas, Sumbawa, ekonomi Sumbawa yang belum menunjukkan pertumbuhan justru mengairahkan kehidupan masyarakat setempat. Harga bahan makanan pokok yang rendah hampir dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat. Namun saat ini peningkatan inflasi yang cukup tinggi ( tidak ada data resmi, BPS NTB belum bisa menyediakan data per kabupaten, ukuran berdasarkan harga sembako 10 tahun lalu ) membawa biaya tinggi dalam kehidupan masyarakat setempat. Korbannya tak lain rakyat Sumbawa juga. Apakah effec ini karena keberadaan PT. NNT atau Krismon ? tersirat jawaban dari masyarakat : “ PT. NNT”. Betapa menyedihkannya seorang keluarga seorang nelayan tidak bisa memakan ikan hasil tangkapannya, karena ikan tersebut dijual kedaerah Batu Hijau dengan harga yang cukup tinggi. Dan betapa terperanganya masyarakat petani mengetahui harga ikan begitu tinggi, lebih parahnya ikan tersebut lenyap dari pasaran. Siapa yang membela masyarakat yang berjumlah ribuan tersebut ? masih sebatas rencana kenyataannya belum ada.

Hasil positif dari keberadaan NNT sudah pasti ada, tenaga kerja lokal yang berjumlah ratusan sudah tentu diharapkan mengangkat ekonomi keluarganya. Bagaimana perbandingan korban yang berjumlah ribuan dengan hasil ratusan, apakah sebuah kewajaran ? mungkin ya , munkin tidak. Yang pasti rakyat Sumbawa merupakan korban dari apa yang tidak diketahuinya.

Apa yang ditarik dari ungkapan hati seorang Doktor dalam argument kedua diatas, merupakan wacana bagi kita untuk melihat kelangsungan generasi Sumbawa. Saat ini mungkin kita bisa bermewah dengan limpahan subsidi, pajak, royalti dan seabrek rupiah dari NNT, namun apa yang akan dinikmati oleh genarasi 20 tahun kedepan kalau Sumbawa sudah dikuras oleh generasi kita-kita ini. Bagaimana tanggung jawab moral kita.

Saat ini kita masih berpolemik bagaimana caranya menjalin kerjasama, mendapat dana, mendapat kerjaan dll dari NNT. Padahal faktor esensial yang belum kita pikirkan yaitu adakah penghargaan kepada rakyat dan pemerintah Sumbawa akan kepemilikan Tambang Batu Hijau. Jawabannya tidak !. mengapa ? komposisi saham membuktikan itu semua. Newmont 45 %, Sumitomo 35 %, Fukuafu 20 % mana Sumbawa ? 0 %. Dapatkah Sumbawa menuntut ? Dapat. Konsekwensinya Indonesia akan dimasukkan dalam negara yang Inkonsisten dalam perjanjian International. Jalan keluarnya cukup delematis. Sumbawa sendiri tidak akan berperan apa-apa dalam tambang Batu Hijau karena tidak memperoleh jatah penentu kebijakan dalam komposisi kepemilikan.

Apa yang diungkapkan oleh rekan penulis sdr. Dianto Bachtiar selaku ketua Konsorsium Pembaharuan Agraria ( KPA ), “kalau segala bentuk diplomasi tidak berhasil , lakukan saja pemboikotan”. Kayaknya usul tersebut belum saatnya diterapkan di Sumbawa, kita masih ada waktu untuk mengupayakan kepemilihan rakyat dan pemerintah Sumbawa dalam tambang Batu Hijau.



Bagaimana NNT ?

Visi global yang diemban oleh PT. NNT cukup kita acungi jempol. Komitmen untuk memajukan ekonomi dan hubungan kemasyarakatan di sumbawa setidaknya ditempuh dengan tiga cara : mendirikan yayasan, rencana penataan ruang daerah lingkar tambang dan mempererat hubungan dengan LSM. Yang perlu dievalusi dari Visi dan misi yang ditetapkan oleh pimpinan puncak PT. Newmont ternyata menghadapi kendala di lapangan. Sikap keterbukaan yang digarikan oleh Pimpinan Newmont di NNT justru masih belum bisa diterjemahkan oleh individu yang memegang suatu jabatan di NNT. Kenyataan pahit yang dibuktikan oleh Departement NGO Relation adalah bukti manipulasi informasi merupakan kenyataan yang dihalalkan demi mempertahankan posisi seseorang dalam departement tersebut. Satu kenyataan yang belum dipahami oleh PT. Newmont selaku multinational company, visi dan misi perusahaan dikorbankan demi mempertahankan sebuah posisi. Kenyataan ini justru terjadi dalam diri penulis, rencana kunjungan ke NNT dari team Bandung yang sengaja di kami Batalkan ternyata digunakan untuk memukul balik LSM di Bandung. Alasan yang tidak masuk akal ternyata dijadikan laporan resmi kepada atasannya yang kebanyakan ekspatriat. Saya malah tersenyum, dalam hatiku terucap “ semoga kebohongan ini, mendapat ampunan dari yang maha kuasa”. Apa yang terjadi, kalau dalam skala mikro saja manipulasi informasi sengaja digunakan oleh individu yang tergabung dalam NNT. Niscaya NNT akan mengalami kehancuran. Kenyataan kekanak-kanakan juga diperlihatkan oleh individu yang tergabung dalam NGO relation. Betapa tidak mereka minta dukungan secara tertulis kepada rekan-rekan LSM baik yang berada di Jawa maupun di Sumbawa untuk tetap mempertahankan posisi si X di NGO Relation. Apakah ini sebuah langkah profesional ? tidak .

Bagaimana tindakan NNT ? saya tidak mengetahui secara persis.



Bom Waktu dalam NNT

Sikap cooperative yang diterapkan oleh NNT terhadap komposisi tenaga kerja lokal justru akan membahayakan NNT kedepan. Jumlah tenaga kerja yang masih dalam tahap training yang belum mendapat posisi merupakan ancaman internal PT. NNT. Suatu waktu mereka akan mempersoalkan PT. NNT jika para tenaga kerja trainer ini belum memdapat posisi serta kepastian bagi mereka untuk menjadi tenaga kerja tetap.

Sikap tarik ulur akan bargaining masing-masing departemen juga melanda dalam tubuh NNT. Individu yang bereontasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan adanya proyek akan melahirkan persaingan tidak sehat dalam tubuh NNT.



Tanggung jawab Pemerintah Sumbawa

Kesan yang dilahirkan saat ini bahwa pemerintah Sumbawa melepaskan tanggung jawab pembangunan kepada pihak NNT. Satu klausal yang perklu dipahami bahwa tangung jawab sosial yang diemban oleh NNT bukan menjadi pemerintah dalam pemerintah. Semua persoalan pembangunan di lingkar tambang akan diserahkan kepada Investor, itu salah besar. Blueprint pembangunan dan pengembangan Sumbawa Barat tetap menjadi tanggung jawab pemda Sumbawa. Janganlah sekali pemda berpikir bahwa NNT akan dijadikan sapi perahan semata. Konstribusi dari NNT setidaknya dapat digunakan oleh Pemda Sumbawa untuk mendistribusilkan skala prioritas yang terbaik bagi masyarakat Sumbawa.



Penutup

Apa yang dicanangkan oleh petinggi Newmont merupakan Visi dan Misi yang baik. Namun alangkah naifnya jika Visi dan Misi tersebut di terjemahkan oleh individu yang tergabung dalam NNT dalam bahasa masing-masing. Tugas pokok yang harus diupayakan oleh segenap komponen Sumbawa, agar pengakuan kepemilihan hak atas tambang Batu Hijau dapat diupayakan. Namun yang perlu diingat janganlah kita berpuas dengan apa yang disuguhkan saat ini. Tanah sumbawa masih didiami oleh genarasi lanjutan. Satu kemustahilan, tanpa sikap kritis dari generasi sekarang mungkin Sumbawa akan kehilangan jati dirinya. Masih banyak PR yang harus kita kerjakan.





Bandung, 25 September 2000

Arif Hidayat



0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com