No want knows what we can do till we tries.
“Tak seorangpun tahu apa yang kita dapatkan sebelum kita mengupayakannya.”
“Tak seorangpun tahu apa yang kita dapatkan sebelum kita mengupayakannya.”
Meskipun jangka waktu pemilihan Gubernur dan Wagub NTB masih sekitar empat Bulan lagi, suasana marak sudah mulai terusik menjelang tahun 2003 ini. Semarak ini makin menghangat ketika Suksesi yang ada diterjemahkan sebagai konsekwensi dari keberadaan tiga etnis yang ada di Propinsi NTB. Terjemahan sederhana mengangkat kepermukaan dengan asumsi kepemimpinan lokal NTB merupakan proses sirkulasi kepemimpinan dari tiga etnis yang berbasis kapasitas. Empat tahun lalu kepemimpinan NTB telah dipegang dari etnis Mbojo yang diwakilkan oleh Harun Al Rasyid, sementara itu dua etnis lainnya Sasak dan Samawa hanya menjadi pendamping dan pengembira dimasa pemerintahan Harun. Sebagai pendamping etnis, Sasak masih lebih beruntung di bandingkan etnis Samawa. Etnis Sasak masih lebih berperan dipemerintahan propinsi NTB, sedangkan etnis Samawa masih di selimuti oleh seberapa besar kadar marginalisasi yang dirasakannya yang tak lain hanya dianggap sebagai pengembira belaka.
Dibalik rentetan history yang mengukir, keinginan politis membesar menginginkan sebuah perpaduan harmonisasi dari dua etnis untuk memimpin NTB kedepan. Alur pikiran sederhana tentang sirkulasi kepemimpinan etnis melahirkan jawaban perpaduan Sasak – Samawa ( S-S ) yang harus dimunculkan dan diwujudkan. Berbagai upaya telah mengalir dari tataran grassroot sampai politisi lokal menggodok wacana ini. Meskipun dalam perhitungan normatifnya suara etnis Sasak di DPRD NTB jauh lebih dominan berdasarkan asumsi lintas fraksi, aksi politiknya jauh lebih berat diwujudkan jika orientasi kekuasan individu lebih besar di bandingkan untuk harus menggoalkan satu nama demi menghapus kesan keterjajahan selama ini.
Kenyataannya, saat ini nama yang muncul dari Etnis Sasak untuk menjadi orang nomor satu di NTB semakin banyak, merupakan gambaran mengkristalkan satu nama jauh lebih sulit meskipun masih berada dalam satu komunitas yang sama. Tidak diharamkan untuk memunculkan nama sebanyak mungkin, namun dengan kemunculan yang banyak justru akan melemahkan orientasi awal untuk memperjuangkan kepempimpinan sirkulasi etnis yang konon saat ini diinginkan oleh etnis Sasak. Sementar itu etnis Samawa yang masih merasa dirinya dalam lingkup marginalisasi lokal cukup realistis melihat kekuatan politis yang dimilikinya. DR-1 yang banyak menjadi incaran orang kebanyakan selama ini sama sekali bukan menjadi issue sentral etnis Samawa. Orang kedua yang formalnya di sebut Wagub NTB merupakan target yang perlu dicapai oleh etnis Samawa. Meskipun baru – baru ini diadakan pertemuan terbatas tokoh etnis Samawa di Mataram Rabu, 9 April 2003 juga menginginkan agar putera daerahnya turun kegelanggan untuk menjadi orang nomor satu di NTB. Keinginan ini masih kandas diakibatkan oleh minimnya kekuatan politis etnis Samawa di DPRD NTB, dengan empat suara akan sangat sulit untuk mewujudkan keinginan tersebut. Meskipun tidak dapat dipungkiri SDM dari etnis Samawa banyak yang memenuhi kapabilitas untuk menjadi seorang Gubernur.
Berbasis etnis dalam koridor lintas fraksi akan sangat bermanfaat jika komponen yang terlibat dalam suksesi kepemimpinan NTB ini sudah menyadari, perpaduan egoistik akan bisa meruntuhkan semua rencana tersebut. Tarik ulur perjuangan pribadi setidaknya akan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan jika semua orang merasa dirinya mampu memimpin NTB. Kondisi ini akan melemahkan strategi etnisitas yang dilancarkan oleh Etnis Sasak dan sudah pasti akan menguntungkan Harun yang saat ini menjabat sebagai Gubernur NTB. Tenggang waktu empat bulan kedepan setidak memberikan waktu yang cukup untuk mengatur strategy yang lebih baik agar kristalisasi nama dalam batasan etnis dapat dikeluarkan. Pertemuan komponen etnis Samawa di Mataram, Rabu kemarin merupakan upaya riel untuk bisa memahami perbedaan agar menjadi kristalisasi satu calon. Dua nama yang saat ini muncul dalam kominitas Sumbawa ; Bonyo dan Kahfi merupakan aspirasi yang perlu diserap. Namun yang dibutuhkan sebagai Wagub NTB bukan dua orang tapi hanya satu orang, kearifan komponen masyarakat dan calon yang maju setidaknya dapat mendinginkan suana yang ada untuk bisa mewujudkan keterwakilan yang selama ini merasa dimarginalisasikan. Marginalisasi akan terus berlangsung jika sikap dan sifat selama ini masih terbawa pada strategy selanjutnya khususnya suksesi kepemimpinan NTB saat ini. Harus ada yang berbesar hati untuk merelakan hanya satu calon yang berjuang demi keterwakilan etnis Samawa di pemerintahan NTB kedepan. Sebuah tantangan yang harus dijawab oleh balon Gubernur dan Balon Wagub saat ini, mau kah mereka disodori sebuah blangko yang sudah diisi oleh generasi mudanya untuk membawa NTB lebih maju lagi daripada saat ini ? sangat mungkin di jawab YA sebelum para Balon ini memegang kekuasan, namun akan bertanya “Siapa Anda ?” setelah mereka memegang posisi Gubernur dan Wagub NTB mendatang. Itulah realitas politik saat ini, mudah – mudahan di NTB tidak akan berpikiran demikian. Wallahualam….
Jakarta, 11 April 2003
Arif Hidayat
Kenyataannya, saat ini nama yang muncul dari Etnis Sasak untuk menjadi orang nomor satu di NTB semakin banyak, merupakan gambaran mengkristalkan satu nama jauh lebih sulit meskipun masih berada dalam satu komunitas yang sama. Tidak diharamkan untuk memunculkan nama sebanyak mungkin, namun dengan kemunculan yang banyak justru akan melemahkan orientasi awal untuk memperjuangkan kepempimpinan sirkulasi etnis yang konon saat ini diinginkan oleh etnis Sasak. Sementar itu etnis Samawa yang masih merasa dirinya dalam lingkup marginalisasi lokal cukup realistis melihat kekuatan politis yang dimilikinya. DR-1 yang banyak menjadi incaran orang kebanyakan selama ini sama sekali bukan menjadi issue sentral etnis Samawa. Orang kedua yang formalnya di sebut Wagub NTB merupakan target yang perlu dicapai oleh etnis Samawa. Meskipun baru – baru ini diadakan pertemuan terbatas tokoh etnis Samawa di Mataram Rabu, 9 April 2003 juga menginginkan agar putera daerahnya turun kegelanggan untuk menjadi orang nomor satu di NTB. Keinginan ini masih kandas diakibatkan oleh minimnya kekuatan politis etnis Samawa di DPRD NTB, dengan empat suara akan sangat sulit untuk mewujudkan keinginan tersebut. Meskipun tidak dapat dipungkiri SDM dari etnis Samawa banyak yang memenuhi kapabilitas untuk menjadi seorang Gubernur.
Berbasis etnis dalam koridor lintas fraksi akan sangat bermanfaat jika komponen yang terlibat dalam suksesi kepemimpinan NTB ini sudah menyadari, perpaduan egoistik akan bisa meruntuhkan semua rencana tersebut. Tarik ulur perjuangan pribadi setidaknya akan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan jika semua orang merasa dirinya mampu memimpin NTB. Kondisi ini akan melemahkan strategi etnisitas yang dilancarkan oleh Etnis Sasak dan sudah pasti akan menguntungkan Harun yang saat ini menjabat sebagai Gubernur NTB. Tenggang waktu empat bulan kedepan setidak memberikan waktu yang cukup untuk mengatur strategy yang lebih baik agar kristalisasi nama dalam batasan etnis dapat dikeluarkan. Pertemuan komponen etnis Samawa di Mataram, Rabu kemarin merupakan upaya riel untuk bisa memahami perbedaan agar menjadi kristalisasi satu calon. Dua nama yang saat ini muncul dalam kominitas Sumbawa ; Bonyo dan Kahfi merupakan aspirasi yang perlu diserap. Namun yang dibutuhkan sebagai Wagub NTB bukan dua orang tapi hanya satu orang, kearifan komponen masyarakat dan calon yang maju setidaknya dapat mendinginkan suana yang ada untuk bisa mewujudkan keterwakilan yang selama ini merasa dimarginalisasikan. Marginalisasi akan terus berlangsung jika sikap dan sifat selama ini masih terbawa pada strategy selanjutnya khususnya suksesi kepemimpinan NTB saat ini. Harus ada yang berbesar hati untuk merelakan hanya satu calon yang berjuang demi keterwakilan etnis Samawa di pemerintahan NTB kedepan. Sebuah tantangan yang harus dijawab oleh balon Gubernur dan Balon Wagub saat ini, mau kah mereka disodori sebuah blangko yang sudah diisi oleh generasi mudanya untuk membawa NTB lebih maju lagi daripada saat ini ? sangat mungkin di jawab YA sebelum para Balon ini memegang kekuasan, namun akan bertanya “Siapa Anda ?” setelah mereka memegang posisi Gubernur dan Wagub NTB mendatang. Itulah realitas politik saat ini, mudah – mudahan di NTB tidak akan berpikiran demikian. Wallahualam….
Jakarta, 11 April 2003
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda