Pada dasarnya SDM dari sumbawa bisa surprive bila mereka menghadapai tantangan.
Dan ini banyak dibuktikan di luar Sumbawa. keadaan SDM di sumbawa dalam posisi paling buncit dikarenakan SDM didaerah masih dininabobokan dengan lingkungan. mereka masih terdapat kesenjangan dalam ukuran nilai. sehingga apa yang dicapainya merupakan replikasi dari batasan kompetesi lokal. satu hal yang sangat merugikan bagi etnis samawa, kita terlalu berbangga dengan status kita dalam lingkungan lokal. padahal kalau result selama ini kita compare kan dengan dunia luar sungguh sangat menggelikan.pada saat ini kita selalu berperang urat saraf dengan diri sendiri. kita merasa bahwa kita sulit berkompetisi. padahal itu hanya ilusi belaka dari diri kita. kenyataan ini sangat mengkuatirkan karena proses kompetisi dengan tantangan yang sehat justru masih minim panutannya. orang tua kita didaerah justru mengkerdilkan nilai kompetesi ini dengan tingkah laku mereka. sehingga cermin masa depan generasi muda sumbawa dapat dilihat dari apa yang mereka hasilkan saat ini. saya selalu tergoda dengan kata-kata bahwa kita tidak akan menang. padahal kita belum mencoba dalam pertempuran tersebut. dan ironisnya kita selalu menarget hasil yang maximal padahal latar kearah situ belum di buktikan. ini terjadi didunia kerja. kita selalu menginginkan posisi yang bagus dan tinggi. padahal keahlian kearah tersebut boleh dibilang minim dan sama sekali nol.
cerminan masa depan generasi muda Sumbawa harus dipelopori oleh generasi yang merasa dirinya tersosialisasi nilai-nilai competisi luar yang positif. terlebih penekanan pada rekan-rekan yang telah mengecap pendidikan dan pengalaman dipulau jawa. anda harus berani menawarkan kompetisi yang sehat dan jangan sampai terbawa arus lingkungan Sumbawa yang cendrung statis. ide dan aplikasi dilapangan merupakan hasil yang patut diterapkan.
satu kelemahan mendasar bagi SDM Sumbawa, SDM yang sudah berhasil dan mempunyai nilai jual yang cukup tinggi, masih terlalu pelit mendistribusikan kemampuan dan skillnya kepada generasi muda. generasi tua masih sibuk dengan egonya masing-masing dan sikap feodalnya ( tidak berlaku semua ). namun prosentasenya masih besar. disini timbul satu sikap dari generasi muda, jika mereka mengunjungi atau sekedar ingin bersilaturrahmi timbul image mereka datang ketempat tersebut hanya ingin meminta bantuan. ini menyulitkan generasi Sumbawa kedepannya untuk bisa belajar dari senior mereka ( sesepuh ). yang patut disayangkan sampai saat ini genarasi tua Sumbawa ( informal action )belum mengambil tindakan untuk memberdayakan generasi muda Sumbawa. tidak seperti suku lainnya, mereka mendorong dan memverikan semangat agar generasi muda nya bisa surprive dengan lingkungannya.
saya masih optimist bahwa SDM Sumbawa bisa menjadi yang terbaik. asalkan kita dengan pelan-pelan merubah sistem dan pandangan yang ada selama ini di Sumbawa. ini terutama hasil dipelopori oleh niat baik pemda Sumbawa. kamus yang ada sampai saat ini kita hanya masih berteori tanpa berani melakukan tindakan nyata. saya rasa dengan beberapa tulisan saya yang cendrung oposan terhadap pemda Sumbawa justru ada sebercik harapan adanya perubahan terutama mengenai SDMnya.
selama ini kita hanya sebagai object perasan dari penjajahan intelektul yang feodal akan kondisi kebenaran. kita selalu bertameng pada sikap " kangila" ( Malu ) mengkritisi kenyataan yang ada. terutama kepada generasi senior.
perubahan saat ini membawa kita pada lingkungan mikro. terutama setelah berlakunya OTDA. ada sikap yang cukup mengkuatirkan bagi saya, orang diSumbawa masih menganggap Sumbawa ini adalah kami yang berada di Daerah. ini adalah pikiran yang sangat kerdil. kalau pikiran ini masih terus dipelihara niscaya Sumbawa akan berjalan di tempat. sikap curiga kedatangan SDM sumbawa yang berada diluar Sumbawa seyokya di masukkan kedalam Aset daerah. karena merekalah yang memungkinkan ide-ide segar itu kembali tergali. kitaa saat ini cukup membutuhkan satu kata " Kerjasama". tanpa itu kita akan hancur dalam kompetisi global ini.
perang urat saraf kepentingan itulah yang belum dapat kita hilangkan saat ini. ada satu idiom yang umumnya menjadi nalar berpikir rekan-rekan yang telah lulus dan bekerja di pulau Jawa ini." Apa yang bisa saya lakukan dengan keahlian saya saat ini?". sederhana namun penuh analisis yang mendalam. mereka kebanyakan masih ragu untuk bisa mengaplikasikan ilmu dan bekalnya di Sumbawa. ini masih wajar jika ditelusuri dari pola pikir yang masih di bawah payung penjajahan. dalam payung penjajahan kita selalu berpikir bagaimana "saya" harus kerja di Suatu tempat/badan. mengapa tidak kita merevolusi pikiran kita untuk membuat suatu yang lebih inovatif. seperti mencoba untuk membuat peluang baru yang sampai saat ini belum tersedia di Sumbawa ? ini keberanian yang masih minim bagi rekan-rekan yang enggan pulang kedaerah. dilain pihak pemerintah tidak melihat aset yang terpendam diluar Sumbawa terutama SDMnya. pemda Belum dan mungkin tidak akan menginventarisir SDM Sumbawa yang tersebar di pelosok bumi ini. padahal credit point untuk merencanakan apa yang terbaik bagi masa depan Sumbawa bisa didapatkan dari data tersebut.
satu lagi hilangkan kalimat takut berkompetisi maju dengan sikap " I Can if I Think I Can "
Bandung, Sabtu 10 Pebruari 2001
Arif Hidayat
cerminan masa depan generasi muda Sumbawa harus dipelopori oleh generasi yang merasa dirinya tersosialisasi nilai-nilai competisi luar yang positif. terlebih penekanan pada rekan-rekan yang telah mengecap pendidikan dan pengalaman dipulau jawa. anda harus berani menawarkan kompetisi yang sehat dan jangan sampai terbawa arus lingkungan Sumbawa yang cendrung statis. ide dan aplikasi dilapangan merupakan hasil yang patut diterapkan.
satu kelemahan mendasar bagi SDM Sumbawa, SDM yang sudah berhasil dan mempunyai nilai jual yang cukup tinggi, masih terlalu pelit mendistribusikan kemampuan dan skillnya kepada generasi muda. generasi tua masih sibuk dengan egonya masing-masing dan sikap feodalnya ( tidak berlaku semua ). namun prosentasenya masih besar. disini timbul satu sikap dari generasi muda, jika mereka mengunjungi atau sekedar ingin bersilaturrahmi timbul image mereka datang ketempat tersebut hanya ingin meminta bantuan. ini menyulitkan generasi Sumbawa kedepannya untuk bisa belajar dari senior mereka ( sesepuh ). yang patut disayangkan sampai saat ini genarasi tua Sumbawa ( informal action )belum mengambil tindakan untuk memberdayakan generasi muda Sumbawa. tidak seperti suku lainnya, mereka mendorong dan memverikan semangat agar generasi muda nya bisa surprive dengan lingkungannya.
saya masih optimist bahwa SDM Sumbawa bisa menjadi yang terbaik. asalkan kita dengan pelan-pelan merubah sistem dan pandangan yang ada selama ini di Sumbawa. ini terutama hasil dipelopori oleh niat baik pemda Sumbawa. kamus yang ada sampai saat ini kita hanya masih berteori tanpa berani melakukan tindakan nyata. saya rasa dengan beberapa tulisan saya yang cendrung oposan terhadap pemda Sumbawa justru ada sebercik harapan adanya perubahan terutama mengenai SDMnya.
selama ini kita hanya sebagai object perasan dari penjajahan intelektul yang feodal akan kondisi kebenaran. kita selalu bertameng pada sikap " kangila" ( Malu ) mengkritisi kenyataan yang ada. terutama kepada generasi senior.
perubahan saat ini membawa kita pada lingkungan mikro. terutama setelah berlakunya OTDA. ada sikap yang cukup mengkuatirkan bagi saya, orang diSumbawa masih menganggap Sumbawa ini adalah kami yang berada di Daerah. ini adalah pikiran yang sangat kerdil. kalau pikiran ini masih terus dipelihara niscaya Sumbawa akan berjalan di tempat. sikap curiga kedatangan SDM sumbawa yang berada diluar Sumbawa seyokya di masukkan kedalam Aset daerah. karena merekalah yang memungkinkan ide-ide segar itu kembali tergali. kitaa saat ini cukup membutuhkan satu kata " Kerjasama". tanpa itu kita akan hancur dalam kompetisi global ini.
perang urat saraf kepentingan itulah yang belum dapat kita hilangkan saat ini. ada satu idiom yang umumnya menjadi nalar berpikir rekan-rekan yang telah lulus dan bekerja di pulau Jawa ini." Apa yang bisa saya lakukan dengan keahlian saya saat ini?". sederhana namun penuh analisis yang mendalam. mereka kebanyakan masih ragu untuk bisa mengaplikasikan ilmu dan bekalnya di Sumbawa. ini masih wajar jika ditelusuri dari pola pikir yang masih di bawah payung penjajahan. dalam payung penjajahan kita selalu berpikir bagaimana "saya" harus kerja di Suatu tempat/badan. mengapa tidak kita merevolusi pikiran kita untuk membuat suatu yang lebih inovatif. seperti mencoba untuk membuat peluang baru yang sampai saat ini belum tersedia di Sumbawa ? ini keberanian yang masih minim bagi rekan-rekan yang enggan pulang kedaerah. dilain pihak pemerintah tidak melihat aset yang terpendam diluar Sumbawa terutama SDMnya. pemda Belum dan mungkin tidak akan menginventarisir SDM Sumbawa yang tersebar di pelosok bumi ini. padahal credit point untuk merencanakan apa yang terbaik bagi masa depan Sumbawa bisa didapatkan dari data tersebut.
satu lagi hilangkan kalimat takut berkompetisi maju dengan sikap " I Can if I Think I Can "
Bandung, Sabtu 10 Pebruari 2001
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda