Sungguh mengejutkan ! Sumbawa yang didengungkan ternyata Bima yang muncul.
Apa yang dikemukakan oleh Mendagri dan Otonomi Suryadi Sudirja dalam harian Kompas hari Rabu, 14 Pebruari 2001 Sungguh mengejutkan etnis Sumbawa. Dalam laporan departemen Dalam Negeri dan otonomi daerah telah menerima usulan pembentukan daerah otonom baru yang terdiri dari 13 Provinsi, 44 Kabupaten, 10 peningkatan status wilayah pembantu kabuten, 24 peningkatan status kota administratif dan lima usulan pembentukan kota. Ketiga belas provinsi tersebut adalah Banten, Gorontalo, Bangka, Madura, Tapanuli, Bima, Flores, Kepulauan Riau, Sulawesi Barat,, Kalimantan Utara, Maluku tenggara, Ketapang, dan Luwu Raya.Sungguh mengejutkan ! Sumbawa yang didengungkan ternyata Bima yang muncul. Ada apa di balik ini ? sumbawa dengan potensi yang ada merupakan anugerah yang patut di Syukuri. Apa yang menjadi kekuatiran kebanyakan orang mengenai trik licik politisi tertentu untuk menggolkan kepentingan politik golongannya harus diantisipasi sejak dini. Bukan mustahil daerah sumbawa akan menjadi sapi perahan tanpa bisa menunjukkan bargaining dari sekarang. Kini secara gamblang kita sudah mengidentifikasi siapa yang menjadi penghianat dalam komitmen sebelumnya. Sumbawa dengan potensi keterbukaannya jangan sampai akan menjadi underdog dalam menentukan arah masa depan pulau Sumbawa. Bukan mustahil dengan potensi yang ada Kabupaten Sumbawa yang ada saat ini akan menjadi propinsi berdiri sendiri tanpa melibatkan Kabupaten tetangganya.
Tujuan akhir selama ini dari perjuangan etnis Sumbawa untuk keluar dari belenggu yang mengikat ditingkat satu ( Mataram ) tak lain bermuara pada pembentukan Propinsi Sumbawa. Meskipun stratetegi yang diterapkan adalah pengembangan wilayah di kabupaten Sumbawa. Dalam perjalanan untuk mencapai visi dan misi perjuangan tersebut komponen Sumbawa bahu membahu bekerjasama dengan kabupaten tetangga yaitu Bima dan Dompu untuk menggolkan terbentuknya propinsi pulau Sumbawa. Komitmen lahir dari dua Kabupaten tersebut, ibukota Provinsi akan berada di wilayah kabupaten Sumbawa. Langkah ini belum berjalan diatas 60 persen, karena hasil seminar di Sumbawa tanggal 23 januari 2001 banyak komponen masyarakat yang menginginkan pembangunan Sumbawa kedepan dengan jalan pemekaran wilayah dan berlanjut pada pembentukan provinsi Sumbawa. Dalam perjalanan ini etnis Sumbawa kembali dikejutkan oleh pemberitaan Nasional bahwa salah satu provinsi diwilayah NTB yaitu Bima. Relakah tau samawa untuk menerima Bima sebagai nama provinsi dan beribukota di sana ? rasanya tidak. Penulis secara pribadi akan menolaknya.
Jalan tengah untuk mewujudkan keinginan masyarakat Sumbawa untuk membentuk provinsi adalah biarkan Bima dan Dompu menjadi propinsi berdiri Sendiri. Dan mereka berhak menamakan apa saja propinsi baru tersebut. Etnis Samawa bisa berkosentrasi untuk pemekaran wilayahnya menjadi beberapa kabupaten diantaranya kabupaten Sumbawa Barat dan Sumbawa Timur. Empat sampai lima tahun kedepan barulah pembentukan propinsi Sumbawa diwujudkan.
Dalam konteks adanya komitmen bersama sebelumnya ada baiknya politisi, aktivis, sesepuh Sumbawa dan masyarakat mengantisipasi secara intensif upaya kabupaten tetangga untuk meleburkan Sumbawa dalam kepentingan mereka. Yang perlu diingat terbentuknya Propinsi ini bukan kehendak Para politisi belaka namun merupakan kehendak Rakyat Sumbawa. Kita berhak mengatakan kami ( etnis samawa ) bisa menentukan keputusan jadi tidaknya propinsi baru tersebut.
Harapan yang sangat kuat agar para politisi, aktivis, dan sesepuh Sumbawa yang berada di Kota Besar di pulau Jawa dapat menyatukan Bahasa agar masyarakat Sumbawa yang berada ditataran grassroot tidak menjadi korban ulah politisi Opportunies. Golnya Provinsi Bima sebagai prioritas oleh Mendagri merupakan upaya lobi yang intensif politisi mereka ditingkat Nasional. Ini harus dirangkaikan satu kata oleh tau samawa agar upaya menjual Sumbawa dapat dicegah.
Dihadapan kita berbagai aktivitas akan dilakukan seperti Sarasehan di Bandung, Kongres Rakyat Sumbawa Barat di Alas. Ini harus dijadikan moment untuk menguatkan posisi Sumbawa akan kemandiriannya.
Kalau kenyataan penghiatan ini akan terus berlangsung mengapa tidak kita ucapkan “ Good Bye “ Provinsi Pulau Sumbawa “ Welcome “ Provinsi Samawa
Bandung, 14 Pebruari 2001
Arif Hidayat
Jalan tengah untuk mewujudkan keinginan masyarakat Sumbawa untuk membentuk provinsi adalah biarkan Bima dan Dompu menjadi propinsi berdiri Sendiri. Dan mereka berhak menamakan apa saja propinsi baru tersebut. Etnis Samawa bisa berkosentrasi untuk pemekaran wilayahnya menjadi beberapa kabupaten diantaranya kabupaten Sumbawa Barat dan Sumbawa Timur. Empat sampai lima tahun kedepan barulah pembentukan propinsi Sumbawa diwujudkan.
Dalam konteks adanya komitmen bersama sebelumnya ada baiknya politisi, aktivis, sesepuh Sumbawa dan masyarakat mengantisipasi secara intensif upaya kabupaten tetangga untuk meleburkan Sumbawa dalam kepentingan mereka. Yang perlu diingat terbentuknya Propinsi ini bukan kehendak Para politisi belaka namun merupakan kehendak Rakyat Sumbawa. Kita berhak mengatakan kami ( etnis samawa ) bisa menentukan keputusan jadi tidaknya propinsi baru tersebut.
Harapan yang sangat kuat agar para politisi, aktivis, dan sesepuh Sumbawa yang berada di Kota Besar di pulau Jawa dapat menyatukan Bahasa agar masyarakat Sumbawa yang berada ditataran grassroot tidak menjadi korban ulah politisi Opportunies. Golnya Provinsi Bima sebagai prioritas oleh Mendagri merupakan upaya lobi yang intensif politisi mereka ditingkat Nasional. Ini harus dirangkaikan satu kata oleh tau samawa agar upaya menjual Sumbawa dapat dicegah.
Dihadapan kita berbagai aktivitas akan dilakukan seperti Sarasehan di Bandung, Kongres Rakyat Sumbawa Barat di Alas. Ini harus dijadikan moment untuk menguatkan posisi Sumbawa akan kemandiriannya.
Kalau kenyataan penghiatan ini akan terus berlangsung mengapa tidak kita ucapkan “ Good Bye “ Provinsi Pulau Sumbawa “ Welcome “ Provinsi Samawa
Bandung, 14 Pebruari 2001
Arif Hidayat
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Tas Komentar Anda