Rabu, 30 Juli 2008

Cahaya Itu Mulai Mengintip, “Menyambut fajar baru seorang Sekda Sumbawa”

. Rabu, 30 Juli 2008

Setahun teka-teki itu terpendam dalam guci yang tak bertuan, simak dan telaah kegamangan situasi Sumbawa diurut setahun kebelakang sungguh mengkuatirkan.
Poros kekuasaan yang bertumpu pada satu kekuatan “Bupati” kini terimbangi dengan munculnya Putera pengimbang untuk mengeluarkan Sumbawa dari ketidakpastian visi.



Adalah sangat normatif andaikata kalimat diatas kalau kita menerima pelantikan Sekda baru Sumbawa dengan positif thinking. Akan jauh kontradiktif andaikata sikap Negatif Thingking mengiringi babak baru Sumbawa kali ini. Bersuka cita adalah wajar dengan kehadiran seorang “H.B. Thamrin Rayes” jika pada roda pemerintahan Sumbawa kedepan akan membawa perubahan mendasar tentang Zaman kegelapan yang telah berlangsung di Sumbawa. Kekecawan akan beralasan jika perubahan justru statis atau malah mendatangkan persoalan baru tentang peta kekuatan dan kebijakan yang ada di Sumbawa.
Sungguh beruntung jika dengan kehadiran seorang “Bonyo” setidaknya memberikan pencerahan baru tentang makna dan perlunya kaidah reformasi diaplikasikan di Sumbawa. Sungguh berat menganggap perubahan akan berlangsung terlalu cepat. Yang perlu disadari keadaan mentalitas aparat pemerintahan Sumbawa sudah dalam stadium yang sangat mengkuatirkan. Cahaya inilah yang harus dibiasi oleh seorang “Bonyo” untuk bisa mengubah pemda Sumbawa dimata Rakyat. Bukankah penegakan hukum hanya dijadikan sebagai alat permainan kekuasaan selama ini ? dan kepentingan rakyat tak lepas dari mentalitas projek pejabat pemerintahan untuk kepentingan mereka. Sasarannya dana untuk kepentingan rakyat hanya bergulir dalam skala raja kecil yang mengelilingi raja besar sang penguasa “Bupati”.

Kue kekuasaan itu telah terbagi menjadi dua, satu kekuatiran apakah kue ini akan mengalir dalam lingkaran kroni lagi, wallahualam. Adalah sangat penting untuk kembali mengkaji reshare power untuk bisa mengkristalkan kelebihan dan kekurangan dua pasang penentu masa depan sumbawa ini. Sumbawa membutuhkan pembeddahan yang dalam tentang potensi yang perlu dikembangkan. Tak lain fokus yang diharapkan komponen luar bisa mengetahui anatomi tentang Sumbawa. Bukan lagi saatnya untuk terlalu berharap jika pembangunan hanya bertumpu pada faktor internal belaka. Dunia semakin kompetitif yang dimunculkan adalah sebuah jaringan yang kuat sehingga pihak luar sumbawa (external ) bisa mengetahui lebih jelas tentang seberapa besar potensi yang terpendam di Sumbawa. Inilah kajian reshare Power yang perlu dirumuskan, apakah seorang Bupati atau seorang Sekda yang akan berperan sebagai Public Relationsnya Sumbawa ? perlu ada kejelasan, sehingga overlapping kebijakan tidak menjadi kacau balau . dengan kata lain tugas external dan internal harus ada kejelasannya.

Adalah sangat berlebihan andaikata seorang “ Bonyo” hadir dengan kesempurnaan. Referensi keberhasilan dan kekurangan berkiprah dalam dunia biroktrat di daerah lain merupakan tolak ukur untuk mengasah kembali besar kecilnya peran yang akan dimainkan di Sumbawa. Dan pandangan itu akan makin menjadi relatif untuk mengukur berhasiltidaknya beliau mengubah wajah Sumbawa yang selama ini carut marut. Bukankah peran nyata yang ditunggu daripada kita mengedepankan referensi yang belum tentu akan menyajikan kondisi yang sama dengan keadaan sebelumnya. Inilah sebuah tantangan Sekda Sumbawa yang baru dilantik.

Sumbawa bukan hanya berperan dalam lingkungan yang sempit, selama ini posisi Sumbawa di mata kebijakan lokal hanya sebagai Underdog yang mengkerdilkan peran Sumbawa. Hal ini wajar karena taring militansi yang dimiliki oleh pemimpin eksekutif dan legeslatif Sumbawa masih terbias dengan hutang budi pada tingkat propinsi. Mereka belum menyadari bahwa kepentingan rakyat Sumbawa akan menjadi korban dengan sikap kebirian tersebut. Militansi ini sangat dibutuhkan oleh seorang “Sekda” Sumbawa, mengingat akar persoalan Sumbawa akan mentah ditingkat penentu kebijakan yang hipokrit. Persoalan ini bukan hanya mengimbas pada tingkat propinsi, dilingkungan internal Sumbawa kondisi ini jauh lebih mengkristal. Penyebabnya tak lain adalah mentalitas pejabat publik yang ada harus di brainstorming dengan perubahan positif. Tanpa itu Sumbawa hanya berpacu pada keberhasilan melestarikan KKN. Peran ditingkat lokal akan semakin terpuruk dan sudah tentu kepentingan rakyat Sumbawa akan terabaikan.

“fajar” adalah konotasi untuk berharap kearah pencerahan, sudah tentu result yang diimbaskan adalah realitas positif. Selamat datang Fajar pencerahan, Sumbawa menantikan perubahan nyata, selama ini kebijakan yang ada merupakan untuk kepentingan pejabat publik, bukan kepada rakyat kecil. Adalah kontradiktif kalau hasil yang akan dimunculkan akan seperti kebijakan sebelumnya, dan bukan fajar lagi yang akan menyinari. Mendung hitam akan kembali memayungi Sumbawa. Kita percaya mendung itu sama sekali tidak dinginkan oleh rakyat Sumbawa, fajar itu tetap diharapkan berputar menjadi Sunset yang indah dinikmati disaat matahari terbenam.



Bandung, 16 Mei 2001

Arif Hidayat



0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Terima Kasih Tas Komentar Anda

 

Artikel Terkait


© Copyright 2008. www.arifhidayat.com. All rightsreserved | www.arifhidayat.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com